Honda merugi untuk pertama kalinya dalam 70 tahun terakhir

  • Ipank Wima
  • May 15, 2026

Honda Motor baru saja mengumumkan kabar mengejutkan dengan mencatat kerugian tahunan pertama dalam hampir tujuh dekade terakhir sebagai perusahaan publik pada Kamis (14/5). Pabrikan otomotif raksasa asal Jepang ini tertekan oleh beban restrukturisasi bisnis kendaraan listrik (EV) yang mencapai angka fantastis, yakni lebih dari USD 9 miliar atau setara Rp 158,45 triliun (kurs Rp 17.606).

Advertisements

Mengutip laporan Reuters, kondisi finansial yang menantang ini memaksa perusahaan untuk mengambil langkah drastis dengan membatalkan target penjualan EV jangka panjangnya. Kerugian operasional ini menandai rapor keuangan terburuk Honda sejak melantai di bursa saham pada tahun 1957. Fenomena ini mempertegas besarnya risiko dari strategi agresif di sektor kendaraan listrik bagi produsen otomotif konvensional, terutama di tengah permintaan pasar global yang tidak sekuat prediksi awal.

CEO Honda, Toshihiro Mibe, menyatakan bahwa perusahaan secara resmi membatalkan target awal agar kendaraan listrik menyumbang seperlima dari total penjualan mobil baru mereka pada tahun 2030. Tidak hanya itu, Honda juga menghapus ambisi jangka panjang untuk sepenuhnya beralih ke kendaraan listrik atau kendaraan berbahan bakar sel (fuel-cell) pada tahun 2040 mendatang.

Keputusan berat lainnya juga diambil dengan menangguhkan proyek EV di Kanada tanpa batas waktu. Padahal, rencana investasi senilai USD 11 miliar tersebut awalnya diproyeksikan untuk memproduksi kendaraan listrik serta baterai, yang sedianya akan menjadi investasi terbesar Honda di negara tersebut.

Di tengah guncangan pada sektor mobil listrik, Honda kini sangat bergantung pada divisi sepeda motor yang tetap menunjukkan performa impresif dan menguntungkan. Bisnis roda dua ini menjadi tumpuan utama perusahaan dalam menghasilkan arus kas serta memberikan imbal hasil bagi para pemegang saham, mengingat bisnis otomotif roda empatnya dinilai masih tertinggal dari sisi skala ekonomi maupun eksekusi di lapangan.

Advertisements

“Secara keseluruhan, eksekusinya berjalan sangat lambat,” ujar James Hong, Head of Mobility Research di Macquarie, sebagaimana dikutip dari Reuters pada Jumat (15/5). Menurutnya, beberapa langkah strategis yang dipaparkan perusahaan, seperti peningkatan penggunaan komponen lokal dari China, bukanlah sesuatu yang baru dalam kompetisi industri saat ini.

Secara mendetail, Honda mencatatkan kerugian operasional sebesar 414,3 miliar yen atau sekitar USD 2,63 miliar untuk tahun fiskal yang berakhir pada Maret 2026. Angka kerugian ini jauh lebih buruk dibandingkan estimasi median dari 22 analis dalam survei LSEG yang memprediksi kerugian di angka 315,6 miliar yen. Situasi ini berbanding terbalik dengan pencapaian tahun sebelumnya di mana Honda berhasil meraup laba hingga 1,2 triliun yen.

Honda membukukan total kerugian terkait EV sebesar 1,45 triliun yen pada tahun fiskal yang berakhir Maret lalu, dan memperkirakan akan ada tambahan biaya sebesar 500 miliar yen pada tahun fiskal yang baru dimulai. Meski demikian, proyeksi beban ini sebenarnya lebih rendah dibandingkan estimasi kerugian EV hingga 2,5 triliun yen yang sempat disampaikan Honda pada Maret lalu.

Optimistis Kembali Mencetak Laba

Meskipun menghadapi tekanan besar, Honda tetap optimistis mampu kembali mencetak laba pada tahun ini. Perusahaan memproyeksikan keuntungan sebesar 500 miliar yen yang akan ditopang oleh langkah-langkah efisiensi biaya yang ketat serta sokongan kuat dari bisnis sepeda motor yang masih sangat menguntungkan.

“Bisnis sepeda motor akan memperluas kapasitas produksi di India dan menargetkan volume penjualan tertinggi sepanjang sejarah sebesar 22,8 juta unit,” tulis Honda dalam laporan keuangannya. Penjualan yang solid di India dan Brasil terbukti mampu membantu perusahaan meredam dampak negatif dari restrukturisasi bisnis EV serta penurunan penjualan mobil di pasar utama seperti China.

Namun, James Hong memberikan catatan bahwa bisnis sepeda motor Honda juga mulai menghadapi tantangan margin akibat transisi menuju kendaraan listrik di sejumlah pasar krusial seperti India dan Vietnam. “Mereka memiliki waktu yang sangat terbatas untuk bertindak,” pungkas Hong memberikan peringatan bagi masa depan strategi transisi perusahaan.

Ringkasan

Honda Motor mencatatkan kerugian tahunan pertama dalam hampir tujuh dekade akibat beban restrukturisasi bisnis kendaraan listrik yang mencapai Rp 158,45 triliun. Dampaknya, perusahaan membatalkan target penjualan EV jangka panjang serta menangguhkan proyek investasi besar di Kanada tanpa batas waktu. Laporan keuangan ini menjadi rapor terburuk bagi pabrikan asal Jepang tersebut sejak melantai di bursa saham pada tahun 1957.

Di sisi lain, divisi sepeda motor tetap menjadi pilar utama perusahaan dengan performa penjualan yang kuat di pasar India dan Brasil. Honda menyatakan optimisme untuk kembali meraih laba melalui efisiensi biaya serta target volume penjualan sepeda motor tertinggi sepanjang sejarah. Meski demikian, transisi kendaraan listrik tetap menjadi tantangan besar bagi strategi jangka panjang perusahaan di masa depan.

Advertisements