IHSG melemah, investor waspada sentimen global dan musim laporan keuangan

  • Ipank Wima
  • Jul 25, 2026

Balihow JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan sepekan ini dengan pergerakan yang cenderung terbatas di tengah tingginya volatilitas pasar.

Advertisements

Pada penutupan perdagangan Jumat (24/7/2026), IHSG berada di level 6.196,43 atau turun 1,88% secara harian dan melemah tipis 0,02% dibandingkan posisi penutupan pekan sebelumnya.

Pergerakan IHSG sepanjang pekan menunjukkan pola konsolidasi setelah reli yang terjadi pada periode sebelumnya. Di sisi lain, pelaku pasar mulai bersikap lebih selektif dengan mencermati berbagai sentimen global maupun domestik yang berpotensi memengaruhi arah pasar pada pekan mendatang.

Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai volatilitas IHSG masih berada dalam batas yang wajar seiring investor melakukan penyesuaian posisi setelah penguatan sebelumnya.

“IHSG sepanjang pekan ini bergerak cukup volatil dengan kecenderungan mengalami konsolidasi setelah reli pada periode sebelumnya,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (24/7/2026).

Advertisements

Menurut Nafan, ekspektasi terhadap kinerja emiten pada kuartal II dan semester I-2026 yang relatif solid masih menjadi faktor penopang pergerakan pasar saham Indonesia.

Ia menambahkan, saham-saham sektor perbankan dan sektor berbasis konsumsi masih menjadi motor utama yang menjaga stabilitas IHSG di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Meski demikian, pasar tetap dibayangi sejumlah sentimen negatif. Investor mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap perkembangan kebijakan perdagangan Amerika Serikat, penguatan dolar AS, serta aksi ambil untung (profit taking) setelah kenaikan signifikan dalam beberapa waktu terakhir.

Asing Net Sell Jumbo Rp 1,36 Triliun, Cek Saham yang Banyak Dilepas di Akhir Pekan

Sentimen Global Masih Mendominasi

Dari eksternal, perhatian investor tertuju pada kebijakan tarif baru Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap sejumlah negara mitra dagang. Selain itu, arah kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed), pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury), hingga fluktuasi harga komoditas global juga menjadi faktor yang memengaruhi pergerakan pasar.

Sementara dari dalam negeri, pelaku pasar menunggu rilis laporan keuangan emiten semester I-2026, perkembangan nilai tukar rupiah, stabilitas inflasi, hingga arus dana asing yang masuk ke pasar saham Indonesia.

Secara teknikal, Nafan memproyeksikan IHSG pada awal pekan depan memiliki level support di 6.137 dan 6.012, sedangkan level resistance berada di 6.261 dan 6.416.

Timur Tengah dan Tarif AS Jadi Sorotan

Pandangan serupa disampaikan Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana. Ia menilai pergerakan IHSG selama sepekan masih tertahan oleh kombinasi berbagai sentimen eksternal.

“Selama sepekan ini, IHSG bergerak melemah tipis,” ujarnya.

Menurut Herditya, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah mendorong harga minyak mentah dunia mendekati US$100 per barel. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap kenaikan inflasi global yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter di berbagai negara.

Selain itu, kebijakan tarif impor baru Amerika Serikat sebesar 10%-12,5% terhadap 60 negara mitra dagang, termasuk Indonesia, turut memberikan tekanan terhadap sentimen pasar.

Kenaikan imbal hasil obligasi global dan kekhawatiran bahwa suku bunga akan bertahan tinggi dalam waktu lebih lama (higher for longer) juga menjadi faktor yang membebani pergerakan bursa saham.

Di sisi domestik, stabilnya nilai tukar rupiah setelah Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75% dinilai mampu menahan tekanan lebih besar terhadap IHSG. Namun, perhatian investor kini mulai beralih pada musim publikasi laporan keuangan emiten semester pertama tahun ini.

Proyeksi IHSG Pekan Depan

Untuk perdagangan pekan depan, Herditya memperkirakan IHSG masih memiliki peluang menguat secara terbatas.

Secara teknikal, ia memproyeksikan level support berada di 5.987, sedangkan resistance berada di level 6.268.

Wall Street Dibuka Mixed, Investor Cermati Tarif AS dan Konflik Timur Tengah

Menurutnya, pasar akan mencermati sejumlah agenda penting, di antaranya hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang diperkirakan mempertahankan suku bunga di level 3,75%, rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) Amerika Serikat, data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) kuartal II-2026, serta pergerakan nilai tukar rupiah yang diperkirakan masih volatil.

Selain faktor ekonomi, perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah juga diperkirakan tetap menjadi salah satu sentimen utama yang memengaruhi arah pergerakan pasar saham global maupun domestik.

Rekomendasi Saham

Di tengah kondisi pasar yang masih dibayangi volatilitas, Herditya merekomendasikan sejumlah saham yang layak dicermati investor pada pekan depan, yaitu:

  • PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) pada kisaran harga Rp175-Rp200 per saham.

  • PT Sentul City Tbk (BKSL) di rentang Rp75-Rp82 per saham.

  • PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) pada kisaran Rp980-Rp1.090 per saham.

Advertisements

Related Post :