Jakarta Menuju Kota Sinema: Strategi Perkuat Ekonomi Kreatif Ibu Kota

  • Ipank Wima
  • Jul 24, 2026

Bean bag warna-warni tampak memenuhi lantai di salah satu sudut ruangan Istora Senayan, Jakarta, pada Sabtu siang, 4 Juli 2026. Di atas bantal-bantal empuk itu, ratusan pelajar dan mahasiswa duduk bersisian dengan santai. Tidak ada sekat di antara mereka; asal sekolah atau kampus seolah melebur dalam satu ketertarikan yang sama. Atmosfer ruangan terasa begitu hidup, dipenuhi energi kreatif anak muda yang antusias menyambut gelaran Jakarta Youth Film Festival (JYFF) 2026.

Advertisements

Seluruh perhatian di dalam ruangan tersebut tertuju pada sebuah layar lebar yang tengah memutar rangkaian film pendek. Karya-karya tersebut merupakan buah tangan para sineas muda yang berhasil masuk ke babak final JYFF. Namun, ruangan sederhana ini sejatinya memiliki fungsi yang jauh lebih besar daripada sekadar tempat pemutaran film. Di sinilah masa depan industri perfilman Jakarta tidak hanya sedang dipertontonkan kepada publik, tetapi juga tengah dipersiapkan dengan matang melalui apresiasi dan ruang belajar yang terbuka.

Di salah satu sudut, terlihat Satria Raka Mahendra yang menatap layar dengan tatapan yang sangat serius. Siswa kelas XII jurusan Broadcasting dari SMKN 45 Jakarta ini memiliki cara pandang yang berbeda dibandingkan penonton awam. Matanya tidak hanya mengikuti alur cerita yang mengalir, tetapi sibuk membedah setiap detail teknis. Ia mengamati bagaimana kamera bergerak, bagaimana komposisi gambar disusun dalam setiap frame, serta bagaimana sutradara mampu membangun emosi penonton melalui transisi adegan. Satria datang ke Istora bukan hanya untuk mencari hiburan, melainkan untuk menyerap ilmu langsung dari karya rekan-rekan sejawatnya.

Salah satu film yang memberikan kesan mendalam bagi Satria adalah sebuah karya yang mengangkat tema budaya Betawi melalui kisah ondel-ondel. Baginya, film tersebut bukan sekadar tontonan visual yang menarik, tetapi juga memberikan pelajaran berharga tentang bagaimana nilai-nilai tradisional tetap bisa relevan di era modern. Satria mengamati setiap teknik pengambilan gambar yang digunakan oleh sang sutradara untuk menghidupkan karakter dalam cerita tersebut.

“Filmnya menarik karena bisa memberi perspektif bagaimana budaya bisa hidup dalam film dan menjadi nilai yang bisa diserap para penonton,” ujar Satria saat berbincang di sela-sela pemutaran film. Baginya, festival yang menjadi bagian dari Jakarta Kreatif Festival (JKF) ini adalah kesempatan emas bagi para pelajar untuk saling belajar satu sama lain. Melalui ajang ini, mereka bisa melihat bagaimana sekolah lain menyusun narasi, menentukan tema yang kuat, hingga menerjemahkan sebuah gagasan abstrak menjadi karya visual yang utuh. Satria meyakini bahwa dengan melihat kreativitas sekolah lain, ia dan teman-temannya dapat terus mengembangkan ide-ide baru dalam pembuatan film di masa depan.

Advertisements

Tidak jauh dari tempat Satria duduk, terdapat tiga mahasiswi dari Indonesia Banking School (IBS), yakni Sintia, Salma, dan Dewi. Berbeda dengan Satria yang datang dengan latar belakang pendidikan film, ketiganya hadir sebagai penikmat film yang penasaran dengan perkembangan karya sineas muda saat ini. Sintia mengungkapkan pandangannya bahwa festival seperti JYFF sangat krusial agar industri perfilman Indonesia tidak terjebak dalam pola cerita yang itu-itu saja. Menurutnya, belakangan ini dunia perfilman di tanah air, khususnya yang berlatar Jakarta, terasa semakin monoton dan kurang melakukan eksplorasi tema yang berani.

Harapan serupa disampaikan oleh Salma, yang merupakan penggemar berat genre horor. Ia merasa bahwa film horor Indonesia sering kali menggunakan formula yang serupa dan mudah ditebak. Salma sangat mendambakan munculnya sineas muda yang berani bereksperimen dengan pendekatan yang lebih beragam dan segar dalam genre tersebut. Munculnya festival film alternatif seperti ini diharapkan menjadi pemicu lahirnya karya-karya yang lebih bernilai secara artistik maupun naratif.

Kesadaran akan pentingnya menyediakan hiburan alternatif bagi warga kota inilah yang ingin dibangun oleh Bank Indonesia Perwakilan Provinsi DKI Jakarta. Melalui Jakarta Youth Film Festival yang terintegrasi dalam Jakarta Kreatif Festival (JKF) 2026, BI berupaya menciptakan wadah bagi kreativitas yang selama ini mungkin belum tersalurkan secara maksimal. Antusiasme masyarakat ternyata luar biasa; hanya dalam waktu dua bulan masa pendaftaran, festival ini berhasil menjaring sebanyak 242 karya dari kalangan pelajar dan sineas muda.

Bagi Bank Indonesia, JYFF bukan sekadar ajang untuk memberikan penghargaan atau apresiasi kepada pembuat film. Lebih dari itu, festival ini merupakan bagian dari strategi besar untuk memperluas ekosistem ekonomi kreatif di Jakarta. Industri film dinilai memiliki efek berganda (multiplier effect) yang sangat tinggi karena melibatkan rantai usaha yang sangat panjang. Mulai dari penulis naskah, rumah produksi, jasa penyewaan alat, hingga sektor pendukung seperti perhotelan, transportasi, fesyen, kuliner, dan platform digital, semuanya ikut bergerak ketika produksi film berjalan.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta, Iwan Setiawan, menegaskan bahwa peran inilah yang ingin dimaksimalkan oleh pihaknya. BI kini mulai menempatkan industri kreatif sebagai salah satu mesin baru bagi pertumbuhan ekonomi Jakarta. Hal ini sangat relevan dengan transformasi Jakarta yang tengah menuju status sebagai kota jasa dan kota global pasca tidak lagi menyandang status ibu kota negara. “Ekonomi kreatif mampu menciptakan lapangan kerja yang luas dan mentransformasi ruang kota menjadi lebih menarik dan inovatif,” tutur Iwan di sela-sela kegiatan JKF.

Iwan menjelaskan bahwa penyelenggaraan JKF tahun ini sengaja memadukan tiga sektor kreatif utama yang dianggap memiliki dampak ekonomi luas, yaitu olahraga, musik, dan film. Ia optimis bahwa pertumbuhan industri film akan memberikan stimulus bagi banyak sektor lain. Misalnya, sebuah produksi film besar akan membutuhkan layanan katering dari UMKM lokal, akomodasi hotel bagi kru, hingga penggunaan transportasi di wilayah Jakarta. Sinergi inilah yang diharapkan dapat memperkuat struktur ekonomi daerah.

Geliat industri film di Jakarta sebenarnya sudah mulai terasa di berbagai sudut kota, tidak hanya terbatas di dalam gedung bioskop atau ruang festival formal. Belakangan ini, semakin banyak kegiatan yang memadukan acara publik dengan pemutaran film terbuka. Contoh nyata terlihat pada acara Semasa Piknik yang digelar di Lapangan Banteng pada akhir Juni lalu. Konsep piknik yang dipadukan dengan beragam jajanan kuliner menjadi jauh lebih semarak dengan hadirnya layar lebar yang disediakan oleh Jakarta Film Commission.

Di sana, pengunjung bisa bersantai di atas rumput hijau sambil menikmati film dalam format terbuka (outdoor). Salah satu pengunjung, Indar (32 tahun), yang datang bersama keluarga kecilnya, merasa sangat terbantu dengan adanya hiburan semacam ini. Menurut Indar, Jakarta sangat membutuhkan ruang hiburan kreatif yang aman, nyaman, dan ramah keluarga. Pengalaman menonton film di area terbuka memberikan sensasi yang berbeda dan jauh lebih santai dibandingkan menonton di bioskop konvensional.

Namun, di tengah optimisme tersebut, tantangan besar tetap membayangi. Pengamat film Hikmat Darmawan memberikan catatan penting bahwa cita-cita menjadikan Jakarta sebagai “Kota Sinema” tidak akan tercapai jika film hanya dilihat sebagai komoditas ekonomi semata. Menurutnya, sebuah kota sinema sejati bukan hanya kota yang sering dijadikan lokasi syuting, tetapi kota yang memiliki budaya sinema yang kuat. “Kita harus membangun budaya sinema, bukan hanya industrinya,” tegas Hikmat.

Budaya sinema yang dimaksud mencakup ekosistem yang menyeluruh, mulai dari komunitas film yang aktif, ruang diskusi yang sehat, keberadaan klub film, pengarsipan karya yang baik, festival yang berkelanjutan, hingga pendidikan penonton yang terus tumbuh. Hikmat mengingatkan bahwa keberhasilan sebuah industri film jangan hanya diukur dari angka penjualan tiket di bioskop, tetapi bagaimana film tersebut mampu menghidupi diskursus publik dan memperkaya kebudayaan. Oleh karena itu, Jakarta membutuhkan lebih banyak ruang pemutaran alternatif agar masyarakat bisa mengakses film di luar arus utama (mainstream).

Salah satu kendala paling mendasar yang masih dihadapi adalah masalah pembiayaan. Industri film memiliki karakteristik yang unik karena aset utamanya bukanlah fisik, melainkan gagasan, naskah, dan hak cipta. Hal ini sering kali membuat lembaga keuangan konvensional ragu untuk memberikan pendanaan karena dianggap berisiko tinggi. Hikmat mendorong adanya mekanisme pembiayaan yang lebih progresif, seperti pembentukan film fund atau dana abadi kebudayaan, agar karya-karya eksperimental dan dokumenter yang memiliki nilai artistik tinggi tetap bisa diproduksi meskipun nilai komersialnya tidak instan.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sendiri tidak tinggal diam. Melalui Peraturan Gubernur Nomor 27 Tahun 2025, pemerintah telah memberikan insentif berupa pengurangan Pajak Barang dan Jasa Tertentu (PBJT) hingga 50% untuk pertunjukan film nasional di bioskop. Selain itu, kehadiran Jakarta Film Commission diharapkan dapat menjadi layanan satu pintu yang mempermudah perizinan syuting di Jakarta serta mengembangkan skema cash rebate bagi produksi yang memberdayakan tenaga kerja lokal.

Ketua Umum Badan Perfilman Indonesia (BPI), Fauzan Zidni, menyambut baik langkah strategis ini. Namun, ia menekankan bahwa kebijakan fiskal harus dibarengi dengan kolaborasi yang erat antara pemerintah, pelaku industri, lembaga keuangan, dan dunia pendidikan. Dalam hal ini, peran Bank Indonesia menjadi sangat vital sebagai katalisator yang mempertemukan para pelaku kreatif dengan ekosistem pembiayaan dan memperluas literasi ekonomi kreatif.

Data dari Bank Indonesia menunjukkan potensi ekonomi yang luar biasa dari sektor ini. Berdasarkan kajian, setiap Rp 1 yang dibelanjakan dalam industri film mampu memicu aktivitas ekonomi sebesar Rp 1,38 di sektor-sektor terkait lainnya. Selain itu, karakteristik demografi Jakarta yang 50%-nya merupakan anak muda sangat cocok dengan pertumbuhan industri kreatif berbasis digital. Hal ini terbukti dari total transaksi selama dua hari gelaran Jakarta Kreatif Festival 2026 yang mencapai angka Rp 55 miliar, melonjak tajam dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya sebesar Rp 21 miliar.

Dukungan politik juga mengalir dari legislatif. Ketua DPRD DKI Jakarta, Suhud Alynudin, menyatakan bahwa penguatan industri perfilman adalah bagian integral dari transformasi Jakarta menuju kota global. Jakarta memiliki modal yang sangat kuat karena merupakan daerah dengan jumlah penonton film Indonesia terbesar. Dengan kebijakan yang tepat, industri film tidak hanya akan menggerakkan roda ekonomi, tetapi juga memperkuat identitas kebudayaan modern Jakarta di mata dunia.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, dalam berbagai kesempatan juga memberikan apresiasi tinggi atas kolaborasi antara Bank Indonesia, OJK, dan pelaku usaha dalam membangun ekonomi kreatif. Bagi Pramono, salah satu indikator keberhasilan sebuah kota global adalah ketika panggung-panggung dunia hadir di Jakarta dan semua pihak merasa nyaman untuk berkreasi di sana.

Ketika matahari mulai terbenam di ufuk barat Istora Senayan, semangat para penonton JYFF tidak sedikit pun memudar. Layar yang menyala hari itu bukan sekadar memutar gambar bergerak, melainkan sedang memancarkan harapan besar bagi masa depan Jakarta. Dari ruangan sederhana beralas bean bag itulah, Jakarta sedang menanam benih-benih kreativitas yang kelak akan tumbuh menjadi pilar ekonomi yang tangguh. Dengan mempertemukan talenta muda, dukungan kebijakan, dan ekosistem ekonomi yang kuat, film kini tidak lagi sekadar hiburan pelepas penat, melainkan mesin penggerak utama menuju cita-cita Jakarta sebagai pusat ekonomi kreatif terdepan di Asia.

Advertisements