Kesaksian ibu pengganti, rahimnya disewa untuk hamil anak orang lain

  • Ipank Wima
  • May 15, 2026

Karina kini tengah mengandung enam bulan, namun janin yang tumbuh di dalam rahimnya bukanlah darah dagingnya sendiri.

Advertisements

Perempuan berusia 22 tahun asal Ukraina Timur ini adalah seorang surrogate mother atau ibu pengganti. Ia “menyewakan” rahimnya untuk mengandung embrio yang berasal dari sel telur dan sperma pasangan asal China. Praktik ini dikenal luas dengan istilah surogasi atau surrogacy.

Perjalanan hidup Karina berubah drastis sejak usia 17 tahun. Rumahnya di Bakhmut hancur lebur saat kota tersebut menjadi salah satu medan pertempuran paling brutal pada fase awal invasi Rusia. Ketika kota kelahirannya berubah menjadi puing dan abu, Karina bersama pasangannya memutuskan untuk mengungsi ke Kyiv. Namun di sana, mereka justru terjebak dalam kesulitan ekonomi dan sulit mendapatkan pekerjaan tetap.

Keputusan besar itu datang saat Karina berada di sebuah toko dengan uang yang nyaris tidak cukup untuk membeli kebutuhan pokok. “Saya tidak punya cukup uang bahkan hanya untuk membeli roti dan popok bagi anak perempuan saya yang masih berusia satu setengah tahun,” kenangnya. Situasi terjepit inilah yang mendorongnya terjun ke dunia surogasi.

Menurut Karina, ia tidak akan pernah memilih jalan ini jika bukan karena dampak perang yang menghancurkan ekonomi negara, memicu lonjakan inflasi, dan menyebabkan jutaan orang kehilangan mata pencaharian. “Pada awalnya, menjadi ibu pengganti membuat saya marah dan kecewa, tetapi sekarang saya sudah menerimanya,” ungkap Karina yang kini tinggal di apartemen fasilitas klinik surogasi di pinggiran Kyiv.

Advertisements

Dilema Ekonomi dan Bayaran yang Terpangkas

Saat ini, Karina tengah mengandung bayi perempuan. Dari jasanya ini, ia dijanjikan akan menerima imbalan sebesar US$17.000 (sekitar Rp298,7 juta), jumlah yang setara dengan dua kali lipat gaji rata-rata di Ukraina. Sebagian besar uang tersebut baru akan dibayarkan setelah ia melahirkan.

Namun, nilai tersebut sebenarnya lebih rendah dari kesepakatan awal sebesar US$21.000 (sekitar Rp369 juta). Bayarannya harus dipotong sesuai kontrak setelah salah satu bayi kembar yang ia kandung sebelumnya meninggal dunia. Meski penuh risiko, Karina berencana untuk terus menjadi ibu pengganti sebanyak mungkin demi menabung untuk membeli rumah impiannya.

Sayangnya, rencana masa depan Karina tersebut kini terancam oleh perubahan regulasi yang sedang digodok pemerintah.

Ukraina: Pusat Surogasi Dunia yang Berada di Persimpangan Jalan

Sebelum invasi Rusia meletus, Ukraina telah memantapkan posisinya sebagai pusat surogasi komersial terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat. Meskipun sempat terdampak konflik, para ahli mengungkapkan kepada BBC World Service bahwa jumlah kelahiran melalui surogasi kini hampir kembali ke level sebelum perang.

Kini, Parlemen Ukraina tengah mempertimbangkan Rancangan Undang-Undang (RUU) yang akan memperketat pengawasan industri ini. Salah satu poin utamanya adalah melarang warga asing menjadi klien surogasi. Padahal, sejauh ini sekitar 95% klien surogasi di Ukraina adalah warga negara asing.

RUU ini muncul sebagai upaya untuk menata kembali industri yang dituduh mengomersialkan fungsi reproduksi dan mengeksploitasi perempuan yang berada dalam posisi rentan. Pendukung kebijakan ini juga berpendapat bahwa di tengah penurunan angka kelahiran akibat perang, perempuan Ukraina seharusnya tidak melahirkan bayi bagi warga asing.

Kritik dan Eksploitasi di Balik Iklan AI

“Karena perang, jumlah perempuan yang putus asa semakin meningkat. Klinik-klinik menawarkan peluang ini karena pasangan dari Barat ingin ‘membeli’ bayi dengan harga murah,” tegas Maria Dmytrieva, seorang aktivis hak perempuan. Ia menilai praktik ini seharusnya dilarang sepenuhnya karena dianggap tidak etis.

Maria juga menyoroti taktik pemasaran klinik yang agresif, termasuk penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam iklan mereka. Salah satu iklan menampilkan narasi seorang perempuan yang dipaksa memilih antara menyewakan rahimnya atau membiarkan anak-anaknya kekurangan pakaian. Selain itu, klinik BioTexCom, salah satu penyedia layanan terbesar, sempat memicu kontroversi karena mempromosikan “diskon Black Friday” untuk layanan surogasi pada tahun 2021.

Klinik tersebut juga pernah berurusan dengan hukum. Pada 2018, CEO BioTexCom, Albert Tochilovsky, diselidiki atas dugaan perdagangan manusia. Pihak klinik membantah keras tuduhan tersebut dan mengklaim bahwa kasus itu hanya melibatkan ketidaksesuaian DNA antara bayi dan orang tuanya, yang menurut mereka terjadi karena kesalahan prosedur medis di luar negeri.

Kisah Pilu Bayi yang Ditinggalkan

Di balik gemerlap bisnis ini, terselip kisah tragis anak-anak yang ditinggalkan. Salah satunya adalah Wei, bocah berusia lima tahun yang kini tinggal di panti asuhan negara di Kyiv. Wei lahir prematur pada 2021 dengan kondisi kerusakan otak parah, tidak mampu duduk tanpa bantuan, dan mengalami gangguan penglihatan.

Setelah mengetahui kondisi Wei, calon orang tuanya yang berasal dari Asia Tenggara memilih untuk tidak menjemputnya dan menghilang tanpa kabar. Ibu penggantinya pun tidak memiliki kewajiban hukum untuk merawatnya. Kasus seperti Wei bukan satu-satunya; pemerintah Ukraina mengakui banyak anak surogasi yang ditinggalkan, meski data pastinya sulit didapat.

Valeria Soruchan dari Kementerian Kesehatan Ukraina menegaskan bahwa kurangnya regulasi menjadi celah bagi terjadinya kasus-kasus kemanusiaan seperti ini. Ia mendukung pelarangan akses bagi warga asing guna melindungi hak-hak anak dan ibu pengganti.

Sisi Lain: Surogasi Sebagai Jembatan Kebahagiaan

Meski menuai banyak kritik, bagi sebagian orang, surogasi komersial adalah sebuah berkah. Pasangan asal London, Himatraj dan Rajvir Bajwa, adalah salah satu contohnya. Setelah lima tahun berjuang dengan endometriosis dan multiple sclerosis yang membuat mereka sulit memiliki keturunan, mereka akhirnya mendapatkan putra melalui layanan di Ukraina.

Mereka memilih Ukraina karena biayanya yang jauh lebih terjangkau—sekitar US$87.770 dibandingkan dengan AS yang bisa mencapai US$150.000—serta kepastian hukum yang lebih jelas bagi calon orang tua dibandingkan di Inggris. Bagi mereka, surogasi bukanlah eksploitasi, melainkan pilihan sadar yang membawa kebahagiaan bagi kedua belah pihak.

“Mereka memberi kami sesuatu yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya. Mereka menjadikan kami sebuah keluarga,” kata Himatraj dengan penuh rasa syukur.

“Ini Adalah Keputusan Saya”

Kembali ke Karina, ia tetap pada pendiriannya. Ia menolak anggapan bahwa dirinya sedang dieksploitasi. “Tidak ada yang memaksa kami. Ini tubuh saya, keputusan saya. Saya mendapatkan imbalan karena memberi mereka kebahagiaan,” tegasnya.

Sambil mengelus perutnya, Karina mengungkapkan kasih sayangnya yang tulus meskipun ia menyadari batasan perannya. “Saya tahu ini bukan anak saya, tapi saya mencintainya. Saya berbicara dengannya setiap hari. Ketika ia menendang, saya bilang bahwa orang tuanya sedang menunggunya. Saya hanya berharap ia memiliki kehidupan yang baik.”

Kisah Karina adalah potret nyata bagaimana perang dan kemiskinan bersinggungan dengan teknologi reproduksi, menciptakan dilema etika yang hingga kini masih terus diperdebatkan di panggung dunia.

  • Artikel ini merupakan bagian dari serial Global Women dari BBC World Service yang mengangkat kisah-kisah penting dari berbagai penjuru dunia.
  • Baca juga: Pengakuan perempuan yang menyewakan rahimnya untuk mengandung bayi selebritas
  • Baca juga: Ibu pengganti: Hamil sembilan bulan namun harus serahkan bayi pada orang lain
  • Baca juga: Seorang nenek melahirkan cucunya sendiri

Ringkasan

Karina, seorang perempuan Ukraina berusia 22 tahun, memutuskan menjadi ibu pengganti demi mengatasi kesulitan ekonomi yang dipicu oleh invasi Rusia. Ia menyewakan rahimnya kepada pasangan asing untuk mendapatkan imbalan finansial guna menghidupi keluarga dan menabung demi masa depan. Ukraina sendiri telah lama dikenal sebagai pusat surogasi komersial dunia dengan mayoritas klien yang berasal dari luar negeri.

Saat ini, parlemen Ukraina sedang mempertimbangkan regulasi baru untuk melarang warga asing menggunakan jasa surogasi guna mencegah eksploitasi terhadap perempuan yang rentan. Meskipun industri ini memberikan kebahagiaan bagi pasangan tanpa anak, berbagai kritik muncul terkait etika serta kasus bayi yang ditinggalkan oleh orang tua asuhnya. Bagi banyak ibu pengganti, praktik ini tetap dianggap sebagai pilihan sadar yang memberikan solusi finansial signifikan di tengah krisis ekonomi.

Advertisements