Balihow JAKARTA. Harga minyak mentah dunia kembali dibayangi tren kenaikan seiring memanasnya eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah. Ketegangan militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memicu kekhawatiran pasar global terhadap potensi gangguan rantai pasok energi yang dapat berlangsung dalam jangka panjang.
Berdasarkan data Trading Economics per Senin (20/7/2026), harga minyak mentah Brent berada di level US$ 88,427 per barel atau naik 0,37% secara harian. Di sisi lain, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) tercatat di posisi US$ 82,224 per barel, terkoreksi tipis sebesar 0,32%.
Analis PT Finex Bisnis Solusi Future, Brahmantya Himawan, menilai pergerakan harga komoditas energi masih berada dalam tren menguat di tengah konflik bersenjata yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
“Prospek harga minyak masih cenderung bullish selama konflik AS-Iran terus meningkat,” kata Brahmantya kepada Kontan, Senin (20/7/2026).
Piala Dunia Usai, Akankah Dana Taruhan Bola Beralih ke Pasar Keuangan Indonesia?
Situasi geopolitik memanas setelah militer AS dilaporkan melancarkan serangkaian serangan, sementara Iran mengancam akan menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia.
Ketegangan tersebut semakin meningkat menyusul ancaman balasan Iran terhadap aset-aset strategis milik AS serta laporan insiden kapal terbakar di perairan dekat Oman.
Gangguan terhadap Selat Hormuz diperkirakan dapat menopang harga minyak Brent bertahan di atas level US$ 90 per barel. Sementara itu, harga WTI berpotensi bergerak di kisaran US$ 95 hingga US$ 100 per barel dengan tingkat volatilitas yang tinggi.
Kenaikan harga energi global dikhawatirkan memicu efek domino terhadap perekonomian dunia. Lonjakan harga minyak berisiko mendorong kembali inflasi global melalui peningkatan biaya logistik, transportasi, dan produksi di berbagai sektor industri.
Eskalasi Geopolitik AS – Iran Memanas, Begini Prospek Valas Safe Haven
Dampak lanjutan dari kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kebijakan moneter bank sentral utama dunia. Bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam periode yang lebih panjang, bahkan membuka peluang pengetatan kebijakan tambahan pada semester II-2026.
Menurut Brahmantya, pergerakan harga minyak saat ini lebih banyak ditentukan oleh faktor risiko geopolitik dibandingkan aspek fundamental pasokan dan permintaan.
Ia memproyeksikan, apabila konflik terus meluas dan penutupan jalur pelayaran berlangsung dalam waktu lama, harga minyak dunia berpotensi melonjak ke level yang lebih tinggi hingga akhir tahun.
“Namun jika konflik semakin meluas dan penutupan Selat Hormuz berlangsung lebih lama sehingga mengganggu ekspor minyak Timur Tengah, Brent berpotensi menguji US$125–140 per barel, sedangkan WTI dapat bergerak menuju US$100–120 per barel,” pungkas Brahmantya.