Dunia pasar modal Indonesia kembali dikejutkan oleh pergerakan signifikan dari salah satu emiten yang tengah naik daun, PT Singaraja Putra Tbk (SINI). Pada hari Minggu, 26 Juli 2026 ini, sorotan tajam tertuju pada langkah strategis perseroan yang baru saja meresmikan kerja sama berskala raksasa. SINI secara resmi mengumumkan perolehan kontrak jasa pertambangan batubara yang sangat fantastis melalui dua anak perusahaannya. Tidak tanggung-tanggung, mitra yang digandeng dalam proyek ini adalah pemain kawakan di industri jasa pertambangan, PT Petrosea Tbk (PTRO).
Langkah korporasi ini melibatkan nilai kontrak yang luar biasa besar, yakni masing-masing sebesar Rp 45,57 triliun dan Rp 11,48 triliun untuk kedua anak usaha SINI tersebut. Jika diakumulasikan, total nilai kontrak yang dikantongi mencapai angka yang sangat masif, mencerminkan ambisi besar perseroan dalam memperkuat posisinya di sektor energi dan sumber daya alam. Pengumuman ini seolah menjadi bahan bakar baru bagi pergerakan harga saham SINI di lantai bursa.
Reaksi pasar terhadap kabar ini tergolong sangat agresif dan positif. Investor langsung merespons dengan melakukan aksi beli yang masif, hingga berhasil mengerek harga saham SINI melesat tajam sebesar 9,68% ke level Rp 6.800 pada penutupan perdagangan sebelumnya. Kenaikan ini sekaligus memperkokoh tren positif saham SINI yang tercatat sudah mengakumulasi penguatan sebesar 20,35% hanya dalam kurun waktu sepekan terakhir. Lonjakan harga ini dipandang oleh banyak pelaku pasar sebagai awal dari era baru bagi akselerasi operasional perusahaan di masa depan.
Analis dari BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, memberikan pandangan yang sangat optimistis terkait kesepakatan ini. Menurut Abida, kontrak kerja sama antara dua anak usaha SINI dengan PTRO ini mencakup target produksi yang sangat ambisius, yakni mencapai 42 juta ton batubara. Lokasi proyek pertambangan ini berada di wilayah Kapuas, Kalimantan Tengah. Dengan skala produksi sebesar itu, estimasi total pendapatan yang bisa diraup sepanjang umur tambang (life of mine) diproyeksikan menyentuh angka Rp 57 triliun.
Abida menjelaskan lebih lanjut bahwa proyek ini akan menjadi pendorong utama atau booster bagi kinerja keuangan anak usaha SINI, terutama KMS. Kontribusi pendapatan dari KMS diprediksi akan mengalami lonjakan yang sangat signifikan. Jika pada tahun 2026 pendapatan diproyeksikan berada di angka US$ 52 juta, maka pada tahun 2027 angka tersebut diperkirakan akan melompat tajam menjadi US$ 158,97 juta.
Pernyataan Abida kepada Kontan pada hari Jumat lalu menegaskan bahwa kesepakatan ini adalah sebuah game changer bagi SINI. Kehadiran kontrak jangka panjang ini memberikan visibilitas pendapatan yang sangat jelas dan stabil dalam jangka waktu yang sangat lama. Hal ini tentu menjadi poin krusial bagi investor yang mencari kepastian pertumbuhan bisnis di tengah volatilitas sektor komoditas.
Selain faktor kontrak jasa pertambangan, ada katalis kuat lainnya yang turut mendorong kepercayaan diri pasar. PT Petrosea Tbk (PTRO) tidak hanya hadir sebagai mitra kontraktor, tetapi juga telah resmi masuk sebagai pemegang saham strategis di SINI. PTRO tercatat telah menuntaskan investasi sebesar Rp 1,19 triliun, yang membuat mereka kini menguasai 19,88% saham SINI. Abida menilai langkah PTRO ini sebagai sinyal kepercayaan institusional yang sangat kuat terhadap potensi dan prospek bisnis SINI di masa depan.
Meskipun dalam rentang waktu sepanjang tahun berjalan atau year to date (YtD) saham SINI tercatat masih mengalami koreksi sekitar 35%, Abida melihat kondisi ini dari sudut pandang yang berbeda. Penurunan harga yang terjadi sebelumnya justru dinilai telah membentuk basis harga yang rendah (low base). Harga saat ini dianggap belum mencerminkan skala transformasi bisnis besar-besaran yang sedang berlangsung di dalam tubuh perseroan.
Dengan pipa jalur pendapatan (revenue pipeline) sebesar Rp 57 triliun dibandingkan dengan nilai kapitalisasi pasar SINI saat ini, Abida melihat adanya potensi rerating atau penyesuaian nilai saham yang cukup signifikan ke arah atas. Namun, ia tetap memberikan catatan penting bagi para pemodal untuk tetap mengawal jadwal peningkatan produksi (ramp-up) sebelum hasilnya benar-benar berkontribusi penuh terhadap laporan keuangan perusahaan.
Senada dengan pandangan tersebut, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengungkapkan bahwa rangkaian aksi korporasi ini—mulai dari akuisisi aset tambang hingga penunjukan PTRO sebagai mitra strategis—semakin mempercepat transformasi SINI menjadi perusahaan tambang batubara yang terintegrasi secara penuh. Nafan menyebutkan bahwa manajemen SINI sendiri memperkirakan adanya potensi tambahan pendapatan hingga Rp 57,1 triliun sepanjang umur tambang dari proyek kolaborasi ini.
Nafan Aji juga menyoroti sisi strategis di balik aliansi ini. Melalui SINI, tokoh bisnis Happy Hapsoro kini memiliki akses yang lebih luas terhadap aset tambang yang lebih besar. Hal ini dimungkinkan dengan memanfaatkan rantai nilai (value chain) pertambangan yang dimiliki oleh Grup Prajogo Pangestu melalui PTRO dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN). Sinergi antara dua kekuatan besar di dunia bisnis Indonesia ini tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengamat industri.
Lebih lanjut, Nafan menjelaskan bahwa sinergi ini akan memberikan keuntungan timbal balik bagi kedua belah pihak. Bagi PTRO, kontrak yang bernilai sekitar Rp 9,3 triliun ini akan memperkuat backlog atau simpanan kontrak kerja mereka, serta memberikan visibilitas pendapatan yang lebih baik untuk beberapa tahun ke depan. Di sisi lain, bagi SINI, kehadiran PTRO memastikan operasional tambang berjalan dengan standar profesionalisme tinggi.
Secara spesifik, Nafan Aji Gusta mengidentifikasi setidaknya ada lima sinergi utama yang akan lahir dari kolaborasi erat ini. Pertama adalah percepatan pengembangan tambang yang lebih efisien. Kedua, adanya optimalisasi penggunaan kontraktor internal yang bisa menekan biaya. Ketiga adalah efisiensi biaya produksi secara keseluruhan melalui manajemen yang lebih terintegrasi. Keempat, kemudahan dalam mendapatkan akses pendanaan karena profil risiko yang membaik. Dan kelima, terbukanya peluang lebar untuk ekspansi aset-aset pertambangan berikutnya di masa depan.
Dalam hal rekomendasi investasi, Nafan Aji Gusta menyematkan peringkat Add untuk saham PT Petrosea Tbk (PTRO) dengan target harga yang dipatok pada level Rp 5.625 per lembar saham. Sementara itu, untuk saham PT Singaraja Putra Tbk (SINI), Nafan memberikan rekomendasi Not Rated, yang menandakan bahwa meskipun prospeknya menarik, investor perlu melakukan analisis lebih mendalam terkait volatilitas dan dinamika pasar yang menyertainya.
Dinamika yang terjadi pada SINI dan PTRO ini menjadi cerminan bagaimana konsolidasi dan kolaborasi strategis di sektor pertambangan batubara masih menjadi primadona di pasar modal Indonesia. Dengan dukungan infrastruktur dari Grup Prajogo Pangestu dan visi pengembangan dari manajemen SINI, proyek di Kapuas ini diharapkan menjadi tonggak sejarah baru bagi kedua perusahaan dalam mengarungi tantangan industri energi global yang terus berubah. Para pelaku pasar kini menantikan realisasi dari target-target produksi tersebut, yang jika berjalan sesuai rencana, akan mengubah peta persaingan emiten batubara di Tanah Air.