Strategi Trikomsel (TRIO) Akhiri Suspensi Saham 2019 Melalui Ekspansi AI

  • Ipank Wima
  • Jul 19, 2026

Balihow  JAKARTA. PT Trikomsel Oke Tbk (TRIO) terus berusaha memulihkan kinerja keuangan sekaligus membuka peluang berakhirnya suspensi perdagangan saham yang telah berlangsung sejak periode 2019-2020.

Advertisements

TRIO saat ini menjalankan tiga strategi utama transformasi, yakni pengembangan ekosistem omnichannel, ekspansi bisnis gawai berbasis kecerdasan buatan (AI gadget), serta pengembangan bisnis ekonomi hijau melalui pengolahan sampah terpadu.

Direktur PT Trikomsel Oke Tbk Djoko Harijanto dalam keterbukaan informasi di BEI pada Jumat (17/7/2026) mengatakan, seluruh inisiatif transformasi tersebut terus dimatangkan sebagai bagian dari upaya perusahaan membangun sumber pertumbuhan baru.

Saham JECX Melemah Usai IPO, SAME Malah Tambah Kepemilikan Jadi 28,2%

“Transformasi bisnis ini merupakan langkah strategis Perseroan untuk memperkuat fundamental usaha, meningkatkan kinerja, serta menciptakan peluang pertumbuhan jangka panjang,” ujar Djoko. 

Advertisements

Menurut Djoko, progres internal atas tiga inisiatif transformasi tersebut saat ini diperkirakan telah mencapai sekitar 30%. Capaian tersebut mencakup berbagai tahapan, mulai dari penjajakan kerja sama strategis, pengembangan produk, hingga persiapan infrastruktur pendukung.

Djoko menjelaskan, strategi omnichannel yang menggabungkan kanal penjualan digital dan gerai fisik mulai menunjukkan kontribusi terhadap pendapatan perusahaan hingga paruh pertama 2026. “Penguatan omnichannel menjadi salah satu fondasi penting dalam meningkatkan daya saing bisnis ritel gawai di tengah perubahan perilaku konsumen,” katanya.

Selain itu, Trikomsel juga tengah mempersiapkan lini bisnis AI gadget yang diharapkan dapat mulai berkontribusi terhadap pendapatan pada semester kedua 2026.

Dari bisnis eksisting, perusahaan ini tetap melakukan efisiensi operasional secara ketat untuk menjaga profitabilitas, terutama di tengah tantangan keterbatasan modal kerja.

Selain memperkuat bisnis utama, TRIO juga melakukan ekspansi ke sektor ekonomi hijau melalui proyek pengelolaan sampah terpadu yang dikembangkan melalui TOSS.

Jelang RDG BI Juli 2026, Investor Harus Lakukan Apa?

Proyek tersebut memanfaatkan teknologi biokonversi menggunakan Black Soldier Fly (BSF) atau maggot untuk mengolah sampah organik menjadi protein pakan hewan dan pupuk organik bernilai ekonomi.

Djoko menyebut, meskipun teknologi BSF bukan merupakan teknologi eksklusif, Perseroan memiliki sejumlah keunggulan kompetitif yang mendukung pengembangan bisnis tersebut menuju skala industri.

Keunggulan itu antara lain formula nutrisi khusus untuk menjaga kualitas maggot sesuai kebutuhan pasar, sistem vertical rearing berbasis pengendalian iklim yang efisien dalam penggunaan lahan, serta penerapan standar internasional seperti GMP Plus dan HACCP untuk produk akhir berupa insect meal dan insect oil.

Saat ini, TRIO telah menjalankan proyek percontohan pengolahan sampah campuran atau Municipal Solid Waste (MSW). Perseroan juga tengah menjajaki kerja sama dengan sejumlah pengembang kawasan permukiman di Jakarta, operator jalan tol di Pulau Jawa, serta perusahaan pengolahan kelapa sawit.

“Apabila proses pendanaan berjalan sesuai rencana, bisnis ekonomi hijau ini ditargetkan mulai memberikan kontribusi pendapatan pada 2027 dan berpotensi menjadi salah satu sumber pendapatan utama Perseroan ke depan,” kata Djoko.

Dari sisi keuangan, TRIO terus melanjutkan proses restrukturisasi utang dengan para kreditur perbankan. Hingga Mei 2026, TRIO telah melakukan pembayaran cicilan pokok utang sebesar Rp 14,46 miliar.

Manajemen TRIO menargetkan total pembayaran utang hingga akhir 2026 mencapai sekitar Rp 30 miliar, menyesuaikan kemampuan arus kas operasional.

Per 30 Juni 2026, saldo utang pokok TRIO tercatat sebesar Rp 1,04 triliun kepada Bank BNI dan Rp 208 miliar kepada Bank Mandiri.

Jelang RDG BI Juli 2026, Investor Harus Lakukan Apa?

Djoko menegaskan, proses restrukturisasi utang masih berlangsung secara intensif dan konstruktif bersama pihak perbankan.

“Perusahaan terus menjaga komunikasi dengan kreditur dan berkomitmen menyelesaikan kewajiban sesuai kemampuan keuangan yang ada,” ujarnya.

Selain restrukturisasi utang, TRIO juga berkoordinasi dengan GLAS Trust terkait administrasi kepemilikan saham kepada para pemegang obligasi (bondholders).

Langkah tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi ketentuan batas minimal saham publik (free float) yang dipersyaratkan Bursa Efek Indonesia, sekaligus menjadi salah satu faktor penting dalam upaya membuka kembali perdagangan saham TRIO di pasar modal.

Advertisements