
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah di pasar spot menunjukkan performa yang semakin tangguh pada perdagangan tengah hari ini. Pada Senin (1/6/2026), mata uang Garuda terpantau merangkak naik ke level Rp 17.818 per dolar Amerika Serikat (AS). Pencapaian ini menandai penguatan sebesar 0,35% dibandingkan dengan posisi penutupan pada Jumat (29/5/2026) yang bertengger di level Rp 17.881 per dolar AS.
Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengamati bahwa meskipun saat ini tengah menguat, pergerakan rupiah dalam jangka pendek diprediksi masih akan menghadapi tantangan yang cukup berat. Namun, terdapat titik terang saat memasuki kuartal III-2026, di mana permintaan terhadap dolar AS di pasar domestik diproyeksikan mulai melandai.
Menurut Lukman, arah pergerakan nilai tukar ke depan akan sangat bergantung pada dinamika faktor eksternal. Perkembangan geopolitik global dan fluktuasi harga minyak mentah dunia menjadi dua variabel utama yang patut diwaspadai karena pengaruhnya yang signifikan terhadap stabilitas mata uang domestik.
Baca Juga: Laba Erajaya (ERAA) Melonjak 123%, 16 Analis Kompak Rekomendasikan Beli
Dari sisi kebijakan internal, implementasi aturan baru mengenai Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) diharapkan dapat menjadi pilar penyokong bagi nilai tukar rupiah dalam jangka panjang. Kebijakan ini dinilai strategis karena diproyeksi mampu memperkuat posisi cadangan devisa nasional secara signifikan.
“Dalam jangka pendek, rupiah diperkirakan akan bergerak dalam rentang Rp 17.500 hingga Rp 18.000. Sementara itu, pada akhir tahun nanti, apabila harga minyak dunia sudah melandai, posisi rupiah berpotensi menguat ke kisaran Rp 16.500 sampai Rp 17.000 per dolar AS,” ungkap Lukman kepada Kontan, Senin (1/6/2026).
Lebih lanjut, Lukman mengidentifikasi sejumlah faktor yang saat ini masih membebani laju rupiah. Beberapa di antaranya adalah tingginya harga minyak dunia, pelebaran defisit anggaran, serta masih minimnya aliran modal asing yang masuk ke pasar keuangan domestik.
Baca Juga: Pasar Valas Dibayangi Konflik Timur Tengah, NZD Melonjak dan Yen Masih Terpuruk
Kendati demikian, faktor-faktor pemberat tersebut berpeluang berbalik menjadi sentimen positif bagi rupiah. Kondisi ini dapat terjadi jika harga minyak mentah mengalami koreksi menurun, defisit anggaran berhasil ditekan melalui kebijakan yang efektif, serta adanya peningkatan kembali aliran modal dari investor asing ke pasar Indonesia.
Ringkasan
Nilai tukar rupiah menguat ke level Rp 17.818 per dolar AS pada perdagangan Senin (1/6/2026), mencatat kenaikan sebesar 0,35% dari posisi penutupan sebelumnya. Penguatan ini didukung oleh optimisme melandainya permintaan dolar pada kuartal III-2026 serta implementasi aturan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA). Kebijakan tersebut diproyeksikan strategis dalam memperkuat cadangan devisa nasional untuk menjaga stabilitas mata uang dalam jangka panjang.
Rupiah diprediksi bergerak antara Rp 17.500 hingga Rp 18.000 dalam jangka pendek, dengan potensi penguatan ke kisaran Rp 16.500 di akhir tahun. Namun, pergerakan ini masih dipengaruhi tantangan eksternal seperti fluktuasi harga minyak dunia dan dinamika geopolitik global. Selain itu, faktor internal seperti pengelolaan defisit anggaran dan aliran modal asing tetap menjadi variabel penting yang dipantau pasar.