Cek strategi koleksi obligasi FR yang tepat bagi investor ritel

  • Ipank Wima
  • Jul 18, 2026

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Prospek investasi obligasi negara seri Fixed Rate (FR) masih menarik pada semester II-2026, terutama bagi investor ritel yang berorientasi jangka menengah hingga panjang. 

Advertisements

Obligasi FR dikenal likuid karena dapat diperjualbelikan di pasar sekunder sebelum jatuh tempo. Head of Investment Specialist Sinarmas Asset Management, Domingus Sinarta Ginting, mengatakan strategi membeli obligasi FR untuk disimpan hingga jatuh tempo lebih tepat dibanding mengejar keuntungan jangka pendek dari kenaikan harga obligasi (capital gain).

Menurutnya, peluang Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga masih berpotensi menekan harga obligasi di pasar sekunder sehingga ruang untuk memperoleh capital gain dalam jangka pendek menjadi lebih terbatas.

Diburu Investor Ritel, Kuota ORI030 Ditambah Jadi Rp 30 Triliun

“Dengan strategi buy and hold, investor tetap dapat menikmati kupon yang kompetitif hingga jatuh tempo tanpa terlalu terpengaruh oleh volatilitas harga harian. Jika terjadi kenaikan yield lebih lanjut, justru dapat dimanfaatkan untuk melakukan akumulasi secara bertahap pada level yang lebih menarik,” ujar Domingus kepada Kontan, Jumat (17/7/2026).

Advertisements

Domingus mengatakan, prospek obligasi FR pada semester II-2026 masih cukup menarik meski volatilitas diperkirakan meningkat. Risiko utama berasal dari kemungkinan BI mempertahankan suku bunga tinggi atau kembali menaikkannya apabila tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan dinamika global masih berlanjut.

Kondisi tersebut berpotensi mendorong kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN) sehingga harga obligasi mengalami tekanan. Namun, bagi investor jangka menengah hingga panjang, kenaikan yield justru menjadi peluang untuk mengunci tingkat imbal hasil yang lebih tinggi.

“Di tengah pasar saham yang masih menghadapi ketidakpastian, obligasi FR tetap menjadi instrumen yang menarik sebagai penyeimbang portofolio karena memberikan pendapatan tetap dan didukung oleh risiko kredit pemerintah yang sangat rendah,” jelasnya.

Strategi Harga Agresif Surge (WIFI) Dongkrak Pelanggan, Ini Rekomendasinya

Terkait strategi pemilihan obligasi, Domingus menyarankan investor lebih memperhatikan yield to maturity (YTM) dibanding besaran kupon. Menurutnya, obligasi dengan yield di kisaran 7,0%-7,3% atau lebih tinggi masih menarik untuk mulai dikoleksi, terutama jika diperoleh melalui pasar sekunder.

Ia juga lebih merekomendasikan obligasi FR dengan tenor pendek hingga menengah, yakni sekitar 3-7 tahun, dibanding tenor panjang. Obligasi berdurasi lebih pendek dinilai lebih tahan terhadap risiko kenaikan suku bunga, namun tetap menawarkan yield yang kompetitif.

“Setelah siklus suku bunga mulai berbalik turun, investor dapat mulai meningkatkan eksposur ke tenor yang lebih panjang untuk memperoleh potensi capital gain yang lebih besar,” katanya.

Bagi investor ritel yang baru ingin berinvestasi di obligasi FR, Domingus menyarankan agar tidak langsung menempatkan seluruh dana sekaligus (lump sum). Sebaliknya, investor sebaiknya melakukan pembelian secara bertahap (staggered buying) sehingga dapat memanfaatkan peluang apabila yield masih meningkat.

Selain itu, ia menyarankan investor memilih obligasi tenor pendek hingga menengah pada fase kenaikan suku bunga, tetap menyimpan sebagian dana di instrumen pasar uang agar memiliki fleksibilitas melakukan pembelian kembali ketika yield naik, serta tidak terlalu terpaku pada fluktuasi harga jangka pendek apabila tujuan investasi adalah memperoleh pendapatan kupon.

Adapun risiko utama yang perlu diwaspadai adalah interest rate risk atau risiko suku bunga. Menurut Domingus, kenaikan suku bunga akan menyebabkan harga obligasi turun, terutama untuk seri berdurasi panjang.

“Namun bagi investor yang memegang obligasi hingga jatuh tempo, volatilitas harga tersebut pada dasarnya tidak mengurangi kupon maupun nilai pokok yang akan diterima,” pungkasnya.

Advertisements