China dan AS jadi ‘mitra, bukan rival’ – Apa yang dibahas dalam pertemuan Donald Trump-Xi Jinping?

  • Ipank Wima
  • May 15, 2026

Presiden China, Xi Jinping, secara terbuka menyerukan agar China dan Amerika Serikat membangun hubungan sebagai “mitra, bukan rival”. Pernyataan diplomatis tersebut disampaikan menjelang pembicaraan tingkat tinggi dengan Presiden AS, Donald Trump, yang berlangsung di Beijing pada Kamis (14/05).

Advertisements

Menanggapi ajakan tersebut, Trump memberikan pujian dengan menyebut Xi sebagai “pemimpin besar”. Ia juga menyatakan optimismenya bahwa hubungan antara kedua negara adidaya ini akan menjadi “lebih baik dari sebelumnya”. Pertemuan ini dianggap krusial karena membahas sederet isu sensitif, mulai dari tarif perdagangan dan persaingan teknologi, hingga konflik di Iran dan status politik Taiwan.

Suasana formal yang megah menyambut kedatangan Trump di Balai Agung Rakyat. Kedua pemimpin melakukan jabat tangan di atas karpet merah, diiringi sorak-sorai anak-anak serta inspeksi barisan pasukan. Dalam kunjungan kali ini, Trump tidak datang sendiri. Ia memboyong sejumlah elit korporasi teknologi global, termasuk Elon Musk dari Tesla dan Jensen Huang dari Nvidia. Sebelum mendarat di Beijing, Trump menegaskan misinya untuk mendesak China agar lebih “membuka diri” terhadap industri Amerika Serikat.

Kunjungan ini menandai kembalinya Trump ke China sejak terakhir kali pada 2017. Namun, kali ini ia menghadapi China yang tampil lebih kuat, asertif, dan berusaha memposisikan diri sebagai pilar stabilitas global. Pertemuan yang sempat tertunda dari jadwal aslinya pada bulan Maret akibat perang Iran ini akan ditutup dengan jamuan kenegaraan pada Kamis malam.

Apa yang dikatakan Xi Jinping di hadapan Trump?

Advertisements

Dalam pernyataan pembukanya, Xi Jinping menekankan bobot historis dari pertemuan tersebut dengan mengatakan bahwa “seluruh dunia tengah menyaksikan kita”. Ia menyoroti bahwa dunia saat ini sedang berada di tengah perubahan besar yang belum pernah terjadi dalam satu abad terakhir, menciptakan situasi internasional yang dinamis sekaligus penuh gejolak.

“Dunia telah sampai pada persimpangan baru. Dapatkah China dan AS menghindari jebakan Thukydides dan menciptakan paradigma baru dalam hubungan internasional?” tanya Xi retoris. Ia mengajak AS untuk bersama-sama menghadapi tantangan global demi masa depan umat manusia dan memberikan stabilitas bagi dunia.

Xi Jinping juga memberikan penghormatan dengan mengucapkan selamat kepada Trump atas peringatan 250 tahun kemerdekaan Amerika Serikat. Ia menegaskan keyakinannya bahwa kepentingan bersama antara kedua negara jauh lebih besar daripada perbedaan yang ada. “Keberhasilan satu pihak merupakan peluang bagi pihak lain. China dan AS akan memetik manfaat dari kerja sama, namun keduanya akan menderita jika memilih konfrontasi,” tambahnya.

Menatap masa depan, Xi berharap diskusi ini dapat menetapkan arah baru bagi “kapal besar” hubungan China-AS, dengan target menjadikan tahun 2026 sebagai tonggak sejarah yang membuka babak baru diplomasi kedua negara.

“Merupakan kehormatan menjadi sahabat Anda”, kata Trump

Trump menyambut hangat sambutan tersebut dengan menyatakan bahwa merupakan sebuah kehormatan besar bagi dirinya untuk bertemu kembali dengan Xi. “Merupakan kehormatan menjadi sahabat Anda,” ungkap Presiden AS tersebut di hadapan delegasi yang hadir.

Trump menegaskan bahwa ia membawa “pemimpin bisnis terbaik di dunia” dalam kunjungan kenegaraan ini. “Hanya orang-orang di posisi teratas yang hadir hari ini untuk memberikan penghormatan kepada Anda,” ujarnya. Ia juga mencatat bahwa banyak pihak melabeli dialog ini sebagai “pertemuan puncak terbesar yang pernah ada”.

Isu Taiwan dan Potensi Sikap Diplomasi Trump

Di balik keramahan diplomatik tersebut, isu Taiwan diprediksi akan menjadi topik yang paling memicu ketegangan. Analis meyakini Xi Jinping akan memanfaatkan momentum ini untuk menekan Trump agar menghentikan penjualan senjata ke pulau yang memiliki pemerintahan mandiri tersebut.

Julian Gewirtz, mantan direktur senior urusan China dan Taiwan di Dewan Keamanan Nasional AS, menyatakan kekhawatirannya mengenai kemungkinan Trump memberikan konsesi dalam isu ini jika ditekan oleh Xi. Sebagai informasi, China menganggap Taiwan sebagai provinsi yang memisahkan diri dan tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer untuk menyatukannya kembali.

Meskipun Amerika Serikat secara resmi memegang kebijakan Satu China dan memiliki kewajiban hukum untuk membantu pertahanan Taiwan, Trump disebut memiliki pandangan yang berbeda. Gewirtz menjelaskan kepada BBC bahwa Trump sering kali melihat Taiwan dari kacamata ekonomi dan geografis. Trump tercatat pernah mengeluhkan dominasi Taiwan di industri semikonduktor dan menyoroti posisi geografis Taiwan yang jauh lebih dekat ke daratan China dibandingkan ke pesisir Amerika Serikat.

Artikel ini akan diperbarui secara berkala seiring perkembangan informasi terbaru.

  • Lima kartu sakti China hadapi perang dagang dengan AS
  • Apakah tarif baru Trump untuk Asia merupakan ‘serangan langsung’ terhadap China?
  • China tidak gentar hadapi ancaman tarif tambahan Trump, bagaimana perang dagang berlanjut?
  • Pertemuan Trump–Xi Jinping dapat pengaruhi relasi dua negara adidaya selama bertahun-tahun ke depan
  • Mengapa hubungan mesra Trump dan Xi Jinping merenggang?
  • Kenapa Trump mengincar China dalam perang dagang dan apa yang akan terjadi sesudahnya?

Ringkasan

Presiden China Xi Jinping mengajak Amerika Serikat untuk membangun hubungan sebagai mitra strategis alih-alih rival dalam pertemuan tingkat tinggi dengan Donald Trump di Beijing. Pertemuan krusial ini membahas berbagai isu sensitif, mulai dari tarif perdagangan, persaingan teknologi, hingga konflik di Iran dan status politik Taiwan. Trump menyambut hangat ajakan tersebut dan menyatakan optimismenya terhadap masa depan hubungan kedua negara adidaya, serta membawa sejumlah pemimpin korporasi teknologi global untuk mendorong keterbukaan akses pasar.

Di balik suasana diplomatik yang akrab, pertemuan ini menyoroti tantangan besar seperti ketegangan terkait isu Taiwan dan persaingan ekonomi antarnegara. Xi menekankan pentingnya kerja sama untuk menghindari jebakan konfrontasi yang merugikan kedua pihak, sementara Trump menunjukkan pendekatan pragmatis terkait peran Taiwan dalam industri semikonduktor. Dialog ini diharapkan dapat menetapkan arah baru bagi hubungan bilateral yang stabil dan memberikan pengaruh signifikan bagi dinamika politik global di masa depan.

Advertisements