Intip rekomendasi saham unggulan di sektor batubara dan prospeknya di 2026

  • Ipank Wima
  • May 05, 2026

JAKARTA – Kinerja emiten sektor batubara sepanjang kuartal I-2026 menunjukkan dinamika yang beragam. Meski tren harga batubara global cenderung positif pada tahun 2026, dampaknya terhadap masing-masing perusahaan tambang tidaklah seragam. Perbedaan strategi operasional dan komposisi pasar menjadi penentu utama dalam mencetak profitabilitas di awal tahun ini.

Advertisements

Sejumlah emiten berhasil mencatatkan pertumbuhan signifikan baik dari sisi top line (pendapatan) maupun bottom line (laba bersih). PT Bumi Resources Tbk (BUMI), misalnya, membukukan kenaikan pendapatan konsolidasian sebesar 3,4% year on year (YoY) menjadi US$ 1,21 miliar, dengan laba bersih yang melesat 34,6% YoY menjadi US$ 21,1 juta.

Pencapaian impresif juga diraih PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) yang mencatat kenaikan pendapatan usaha 23,40% YoY menjadi US$ 470,91 juta. Laba bersih entitas induk ADRO bahkan melonjak 67,07% YoY ke angka US$ 128,14 juta. Keberhasilan ini diikuti oleh anak usahanya, PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR), yang berfokus pada batubara metalurgi dengan pertumbuhan pendapatan 33,79% YoY dan laba bersih yang tumbuh 34,01% YoY menjadi US$ 87,71 juta.

Simak Proyeksi Rupiah untuk Hari Ini (5/5), Cek Sentimen yang Menyeretnya

Di sisi lain, PT Harum Energy Tbk (HRUM) turut mencatatkan tren positif dengan pertumbuhan pendapatan sebesar 14,67% YoY menjadi US$ 340,36 juta, diikuti lonjakan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar 60,50% YoY menjadi US$ 8,94 juta.

Advertisements

Namun, tidak semua emiten mencatatkan hasil serupa. Beberapa perusahaan justru menghadapi tantangan performa. PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), yang merupakan hasil spin-off usaha batubara termal ADRO, harus menerima penurunan pendapatan usaha sebesar 10,34% YoY menjadi US$ 1,04 miliar, sementara laba bersihnya terkoreksi 27,02% YoY menjadi US$ 143,04 juta. Hal serupa dialami PT Bayan Resources Tbk (BYAN) yang mencatat penurunan pendapatan sebesar 7,70% YoY menjadi US$ 821,65 juta dan koreksi laba bersih sebesar 12,45% YoY menjadi US$ 190,79 juta.

Sementara itu, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menempuh jalur yang unik. Meskipun pendapatannya stagnan di angka Rp 9,93 triliun, emiten pelat merah ini mampu mendongkrak laba bersih secara fantastis hingga 105% YoY menjadi Rp 801,79 miliar berkat langkah efisiensi yang ketat.

Cek Rekomendasi Saham Pilihan Hari Ini (5/5), IHSG Diproyeksi Melemah

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Arinda Izzaty, menjelaskan bahwa perbedaan arah kinerja ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor operasional, strategi pemasaran, serta struktur kontrak penjualan. Emiten seperti BUMI, ADRO, dan ADMR diuntungkan oleh peningkatan volume penjualan serta eksposur pasar ekspor dengan harga jual yang lebih kompetitif.

Sebaliknya, PTBA yang memiliki porsi besar di pasar domestik melalui kewajiban Domestic Market Obligation (DMO) menghadapi tekanan harga jual, meski tetap mampu efisien. Di sisi lain, penurunan volume dan realisasi harga jual rata-rata (ASP) menjadi beban bagi AADI dan BYAN. Arinda menambahkan bahwa penundaan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) di awal tahun juga membatasi ruang gerak produksi beberapa emiten.

Menanggapi prospek ke depan, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menilai sektor batubara masih solid. Menurut Wafi, meski kinerjanya cenderung mengalami normalisasi, emiten yang sempat tertinggal berpotensi pulih di semester II-2026 jika produksi meningkat dan harga komoditas stabil.

“Sentimen pendukung pertumbuhan kinerja berasal dari suplai global yang ketat, permintaan dari China dan India, serta harga energi yang masih bertahan di level tinggi,” ujar Wafi, Senin (4/5/2026).

Jebakan Dividen Mengintai Investor, Cek Rekomendasi Saham dan Prospeknya

Strategi kunci bagi emiten untuk memaksimalkan kinerja sepanjang tahun 2026 terletak pada efisiensi biaya, optimalisasi stripping ratio, serta diversifikasi bisnis. Wafi merekomendasikan investor untuk melakukan aksi beli pada saham ADRO dan hold untuk BYAN, sementara PTBA disarankan untuk buy on weakness.

Senada dengan hal tersebut, Arinda Izzaty menilai ADRO, ADMR, dan BYAN tetap menjadi pilihan utama berkat keunggulan operasional dan kualitas batubara yang kompetitif. Bagi investor yang berminat, saham ADMR dan ADRO layak dicermati dengan target harga masing-masing di level Rp 2.350 dan Rp 2.900 per saham.

Secara keseluruhan, keberhasilan emiten di tengah fluktuasi pasar tahun ini bergantung pada kemampuan manajemen dalam melakukan alokasi modal yang tepat, menjaga keseimbangan antara dividen dan ekspansi, serta menjaga margin melalui efisiensi produksi yang berkelanjutan.

BYAN Chart by TradingView

Ringkasan

Kinerja emiten sektor batubara pada kuartal I-2026 menunjukkan dinamika yang beragam di tengah tren harga global yang positif. Perusahaan seperti BUMI, ADRO, ADMR, dan HRUM berhasil mencatatkan pertumbuhan signifikan berkat strategi operasional yang efektif, sementara PTBA mampu mendongkrak laba melalui langkah efisiensi. Di sisi lain, beberapa emiten seperti AADI dan BYAN mengalami penurunan pendapatan dan laba akibat tekanan pada volume serta realisasi harga jual rata-rata.

Meskipun terjadi normalisasi kinerja, prospek sektor batubara dinilai tetap solid didukung oleh ketatnya suplai global serta permintaan tinggi dari China dan India. Analis merekomendasikan saham ADRO, ADMR, dan BYAN sebagai pilihan utama, dengan saran strategi untuk memanfaatkan efisiensi biaya dan diversifikasi bisnis. Investor disarankan mencermati emiten yang memiliki kualitas batubara kompetitif dengan target harga yang terukur untuk mengoptimalkan potensi keuntungan di semester kedua tahun 2026.

Advertisements