Kasus hantavirus terdeteksi di Indonesia, seberapa berbahaya?

  • Ipank Wima
  • May 09, 2026

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia memastikan bahwa dua kasus suspek hantavirus yang sempat dilaporkan di Jakarta dan Yogyakarta telah dinyatakan negatif dan pasien kini telah pulih sepenuhnya.

Advertisements

Isu mengenai hantavirus kini menyita perhatian publik global setelah wabah ini terdeteksi di kapal pesiar MV Hondius yang berlayar dari Argentina, menyebabkan sedikitnya tiga orang meninggal dunia. Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan bahwa pemerintah telah siap mengantisipasi penyebaran hantavirus, khususnya varian Andes yang hingga saat ini dilaporkan masih terkonsentrasi di dalam kapal pesiar tersebut.

Sebagai langkah mitigasi, pemerintah telah menyiapkan panduan skrining hantavirus, termasuk penggunaan metode uji cepat (rapid test) dan reagen khusus untuk mesin PCR, serupa dengan protokol yang diterapkan saat pandemi Covid-19. Epidemiolog Masdalina Pane menjelaskan bahwa hantavirus sebenarnya bukan penyakit baru di Indonesia. Data mencatat terdapat lebih dari 250 kasus suspek dalam tiga tahun terakhir, namun hanya 23 kasus yang terkonfirmasi positif.

Melacak Jejak Penumpang MV Hondius

Otoritas kesehatan internasional kini tengah berupaya keras memutus rantai penyebaran hantavirus dengan melacak seluruh penumpang yang telah turun dari kapal pesiar MV Hondius sebelum virus tersebut terdeteksi. Operator kapal melaporkan bahwa penumpang dari setidaknya 12 negara, termasuk tujuh warga Inggris dan enam warga Amerika Serikat, telah dihubungi.

Advertisements

Dalam perkembangan terbaru, otoritas Singapura mengonfirmasi bahwa dua warga negaranya yang sempat berada di MV Hondius sejak keberangkatan dari Pelabuhan Ushuaia, Argentina, pada 1 April, kini menjalani isolasi di National Centre for Infectious Diseases (NCID) sembari menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. WHO sebelumnya menyatakan bahwa lima dari delapan kasus suspek telah terkonfirmasi, dengan tiga korban meninggal dunia, yakni seorang perempuan Belanda berusia 69 tahun, suaminya, serta seorang perempuan Jerman.

Situasi Hantavirus di Indonesia

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan, Aji Muhawarman, mengklarifikasi bahwa dua kasus suspek di Jakarta dan Yogyakarta tidak memiliki riwayat perjalanan ke luar negeri dan telah dinyatakan negatif. Sementara itu, catatan nasional menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2024 hingga 2026, terdapat 23 kasus positif hantavirus dengan tiga angka kematian.

Sebaran kasus tersebut meliputi sembilan provinsi, dengan rincian enam kasus di Jakarta dan Yogyakarta, lima kasus di Jawa Barat, serta masing-masing satu kasus di Kalimantan Barat, Sumatera Barat, Banten, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, dan Jawa Timur.

Bahaya dan Karakteristik Hantavirus

Menurut WHO, hantavirus adalah virus zoonosis yang secara alami menginfeksi hewan pengerat dan dapat menular ke manusia. Epidemiolog Masdalina Pane menekankan bahwa tidak semua spesies hantavirus berbahaya bagi manusia. Varian Andes, yang ditemukan di Amerika Selatan, menjadi perhatian utama karena memiliki tingkat fatalitas tinggi antara 12% hingga 60% dan mampu menular antarmanusia melalui kontak langsung.

Berbeda dengan varian Andes, jenis hantavirus yang ditemukan di Indonesia, Asia, dan Eropa umumnya tidak menular antarmanusia dan termasuk jenis zoonotik yang menyebabkan gejala demam berdarah dengan sindrom ginjal. Kendati demikian, infeksi ini tetap serius dengan tingkat fatalitas di Indonesia berkisar antara 10% hingga 15%.

Potensi Masuknya Varian Andes ke Indonesia

Mengenai kemungkinan varian Andes masuk ke Indonesia, Masdalina Pane menyebut hal tersebut bergantung pada mobilitas manusia. Karena varian ini dapat menular melalui kontak langsung yang signifikan—seperti hubungan seksual atau air susu ibu—risiko penularan melalui pelaku perjalanan tetap ada, meskipun tidak semudah penyebaran Covid-19. Masa inkubasi virus ini tergolong cukup lama, yakni berkisar antara 9 hingga 40 hari, dengan rata-rata munculnya gejala pada 18 hari hingga tiga minggu.

Langkah Pencegahan dan Kesiapan Pemerintah

Masyarakat diimbau untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan agar tidak menjadi sarang tikus, karena urine, kotoran, dan air liur hewan pengerat merupakan media utama penularan. Selain itu, menjaga daya tahan tubuh dan membatasi kontak dengan individu yang baru kembali dari negara terinfeksi menjadi langkah preventif yang krusial.

Pemerintah sendiri telah berkoordinasi intensif dengan WHO untuk memantau perkembangan terkini. Menkes Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa Indonesia kini lebih siap secara infrastruktur laboratorium dibandingkan sebelumnya, sehingga deteksi dini hantavirus melalui tes PCR dan metode lainnya dapat dilakukan dengan lebih cepat dan akurat.

  • Wabah hantavirus di kapal pesiar MV Hondius bukan awal pandemi, kata WHO
  • Apa itu galur Andes hantavirus yang mewabah di sebuah kapal pesiar?
  • Kesaksian penumpang kapal MV Hondius setelah wabah hantavirus merebak – ‘Kami punya keluarga yang menunggu di rumah’
  • Hantavirus kemungkinan menyebar antarpenumpang di kapal pesiar, kata WHO
  • PBB peringatkan penyakit yang berpindah dari binatang ke manusia akan terus bertambah
  • Antraks merebak di Gunung Kidul, warga diimbau tidak sembelih hewan sakit – ‘Bakteri antraks dapat bertahan puluhan tahun di dalam tanah’

Ringkasan

Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa kasus suspek hantavirus di Jakarta dan Yogyakarta dinyatakan negatif, sementara pemerintah terus memantau perkembangan varian Andes yang sempat mewabah di kapal pesiar MV Hondius. Meski varian Andes di Amerika Selatan memiliki tingkat fatalitas tinggi dan dapat menular antarmanusia, jenis hantavirus yang umumnya ditemukan di Indonesia bersifat zoonosis dari hewan pengerat dengan tingkat fatalitas berkisar antara 10% hingga 15%.

Sebagai langkah mitigasi, pemerintah telah menyiapkan protokol skrining menggunakan uji cepat dan PCR untuk mendeteksi dini infeksi ini di pintu masuk negara. Masyarakat diimbau untuk menjaga kebersihan lingkungan agar tidak menjadi sarang tikus, serta membatasi kontak dengan individu yang baru kembali dari wilayah terjangkit untuk meminimalisir risiko penularan.

Advertisements