Balihow JAKARTA. Kinerja emiten transportasi dan logistik dilihat masih prospektif. Namun, tantangan dari konflik di Selat Hormuz dan fluktuasi rupiah masih membayangi hingga akhir tahun 2026.
Asal tahu saja, ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali terjadi sejak beberapa pekan lalu. Iran bahkan kembali menutup Selat Hormuz pada 12 Juli 2026 hingga waktu yang belum ditentukan
Alhasil, lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz pun terganggu. Padahal, Selat Hormuz merupakan jalur pengiriman minyak dan gas paling penting di dunia.
Di sisi lain, indeks saham transportasi dan logistik minus sejak awal tahun 2026, tetapi masih lebih baik daripada pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Dirikan Tiga Entitas Usaha Baru, Simak Prospek dan Rekomendasi Saham DEWA
Melansir data Bursa Efek Indonesia (BEI), IDX Transportation & Logistic (IDXTRANS) tercatat turun 14,16% sejak awal tahun alias year to date (YTD).
Dibandingkan indeks sektoral lainnya, penurunannya tak terlalu dalam. IDXTRANS hanya diungguli oleh IDX Financials yang turun hanya 11,73% YTD. Sebagai perbandingan, IHSG sudah amblas 27,93% YTD.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan mengatakan, saham-saham pelayaran yang memiliki rute internasional atau ketergantungan tinggi pada jalur perdagangan global menjadi yang paling sensitif terhadap sentimen penutupan Selat Hormuz. Misalnya, PT Samudra Indonesia Tbk (SMDR) dan PT Temas Tbk (TMAS).
Alasannya, ketegangan di Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak mentah dunia, yang secara langsung menaikkan biaya bahan bakar kapal (bunker cost).
“Selain itu, pengalihan rute pelayaran memperpanjang waktu tempuh (lead time), meningkatkan biaya operasional, dan berpotensi mengganggu kelancaran arus logistik global,” ujarnya kepada Kontan, Senin (20/7/2026).
Ester Mulyani, Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori mengatakan, saham yang paling rentan di tengah ketegangan Selat Hormuz adalah emiten maskapai, seperti PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) dan PT AirAsia Indonesia Tbk (CMPP).
Kenaikan harga minyak akan langsung meningkatkan biaya avtur, sementara sebagian biaya sewa pesawat, perawatan, dan suku cadang juga menggunakan dolar AS.
Konflik AS-Iran Memanas, Harga Minyak Dunia Berpotensi Tembus US$ 140 per Barel
“Apabila Rupiah ikut melemah dan kenaikan biaya tidak bisa sepenuhnya diteruskan ke harga tiket karena persaingan serta daya beli, margin maskapai akan kembali tertekan,” ujarnya kepada Kontan, Senin (20/7/2026).
Risiko ini cukup besar karena meskipun kinerja maskapai mulai membaik, keduanya masih berada dalam fase pemulihan.
“Apalagi, GIAA masih mencatat rugi bersih sekitar Rp707 miliar pada kuartal I 2026, sedangkan CMPP masih mencatat rugi sebelum pajak sekitar Rp336,4 miliar, meskipun pendapatannya tumbuh 5,9% menjadi Rp2,11 triliun,” tuturnya.
Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo mengatakan, emiten transportasi yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan bakar minyak (BBM) dan sulit meneruskan kenaikan biaya kepada pelanggan menjadi yang paling rentan.
“Emiten logistik PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA), PT Trimitra Trans Persada Tbk (BLOG), dan PT SAP Express Tbk (SAPX) yang mana kenaikan bahan bakar akan menjadi kenaikan biaya,” ujarnya kepada Kontan, Senin (20/7/2026).
David bilang, prospek emiten dalam indeks IDXTRANS diproyeksikan cenderung moderat namun tetap selektif hingga akhir tahun 2026.
Sentimen positif berasal dari kuatnya konsumsi domestik dan aktivitas belanja daring (e-commerce) yang terus menopang volume logistik darat.
Kemudian, potensi kenaikan tarif angkutan laut (freight rate) global yang dapat meningkatkan margin pendapatan emiten pelayaran tertentu.
SMDR Chart by TradingView
Sementara, sentimen negatif ada dari tekanan biaya operasional akibat fluktuasi harga energi global dan volatilitas nilai tukar rupiah, serta rencana pengetatan regulasi angkutan barang di dalam negeri yang dapat memicu penyesuaian biaya jangka pendek.
David pun menyarankan investor untuk memerhatikan saham SMDR dan ASSA.
Ester mengatakan, prospek IDXTRANS hingga akhir tahun masih positif, tetapi kinerjanya akan sangat berbeda antar subsektor.
Emiten transportasi darat dan logistik domestik cenderung lebih defensif, emiten pelayaran bisa mendapatkan manfaat dari kenaikan tarif angkut. Sedangkan, maskapai menjadi kelompok yang paling tertekan oleh kenaikan harga minyak dan pelemahan rupiah terhadap dolar AS.
Permintaan domestik masih memberikan dukungan. Sepanjang Januari-Mei 2026, jumlah penumpang kereta tumbuh 8,58% dan penumpang penyeberangan naik 8,78%. Sedangkan, volume barang angkutan laut meningkat 2,73%.
“Namun, angkutan udara masih cukup lemah, dengan penumpang domestik turun 1,63% dan volume kargo udara turun 11,72%,” tuturnya.
Menurut Ester, saham IDXTRANS pun masih prospektif, tetapi investor perlu selektif. Investor pun disarankan memilih emiten yang memiliki neraca sehat, arus kas operasional positif, pendapatan berulang, serta kemampuan meneruskan kenaikan biaya kepada pelanggan.
“Untuk saham emiten maskapai, pendekatannya masih lebih cocok untuk speculative trading karena risiko fundamentalnya lebih tinggi,” katanya.
Chandra Asri (TPIA) Lanjutkan Pembangunan CA-EDC Tahap II, Siapkan US$ 1 Miliar
Azis bilang, prospek sektor transportasi dan logistik masih positif didukung pertumbuhan aktivitas logistik domestik dan proyek infrastruktur.
Namun, kenaikan harga minyak, pelemahan rupiah, serta ketidakpastian geopolitik tetap menjadi risiko utama.
“Sektor ini menarik, terutama bagi emiten dengan neraca yang sehat, pricing power, dan diversifikasi bisnis,” paparnya.
Azis pun merekomendasikan beli untuk BULL dengan target harga Rp 500 per saham.