Antam (ANTM) lanjutkan tren pertumbuhan, laba tembus Rp 3,6 T di kuartal I

  • Ipank Wima
  • Apr 30, 2026

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam berhasil mencatatkan peningkatan kinerja keuangan yang impresif pada triwulan I 2026. Prestasi ini diraih di tengah gejolak global yang masih berlanjut, termasuk fluktuasi harga komoditas dan meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah.

Advertisements

Fondasi operasional yang semakin kokoh menjadi pendorong utama perbaikan kinerja ini. Hal ini terwujud melalui performa optimal segmen nikel, penguatan strategi pengadaan emas untuk menjamin pasokan yang berkelanjutan, serta beroperasinya pabrik smelter grade alumina (SGA) yang semakin memperkuat kontribusi segmen bauksit dan alumina.

Pada kuartal I 2026, Antam membukukan pertumbuhan profitabilitas yang signifikan, dengan laba bersih periode berjalan mencapai Rp 3,66 triliun. Angka ini melonjak 58% dibandingkan dengan Rp 2,32 triliun pada periode yang sama di tahun 2025.

Baca juga:

  • Jumhur Singgung Soal UU Cipta Kerja Usai Jadi Menteri Lagi, Siapkan Opsi Koreksi
  • Laba Bersih CDIA Anjlok jadi Rp 142,8 Miliar, Intip Manuver Perkuat Logistik
  • WALHI Soroti Potensi Konflik Kepentingan di Satgas Pembiayaan Taman Nasional

Sejalan dengan peningkatan laba bersih, kinerja Antam juga ditopang oleh pertumbuhan Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization (EBITDA) sebesar 55%, mencapai Rp 5,05 triliun, naik dari Rp 3,26 triliun pada kuartal I 2025.

Advertisements

Direktur Utama Antam, Untung Budiharto, mengungkapkan bahwa capaian positif ini didukung oleh konsistensi perusahaan dalam menerapkan strategi pemasaran yang adaptif dan inovatif. Selain itu, Antam juga senantiasa melakukan pengendalian biaya yang efektif dan disiplin di seluruh lini operasional.

Pertumbuhan profitabilitas ini semakin diperjelas dengan laba kotor yang mencapai Rp 5,62 triliun, meningkat 54% dari Rp 3,64 triliun pada tahun sebelumnya. Laba usaha pun ikut terangkat, mencapai Rp 4,50 triliun, yang berarti tumbuh 67% dibandingkan Rp 2,69 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

“Antam terus berkomitmen menerapkan prinsip pertambangan yang baik (good mining practices) dan keunggulan operasional (operational excellence) di seluruh aktivitas guna mewujudkan bisnis yang berkelanjutan,” ujar Untung seperti dikutip pada Rabu (29/4).

Kinerja keuangan yang positif ini juga turut didukung oleh kenaikan pada pos penghasilan lain-lain sebesar 15%, menjadi Rp 279,60 miliar, dari sebelumnya Rp 243,64 miliar. Peningkatan ini secara langsung berkontribusi pada kenaikan laba bersih per saham dasar menjadi Rp 141,77 per saham, yang menunjukkan pertumbuhan sebesar 60% dibandingkan Rp 88,69 per saham pada kuartal I 2025.

Dari sisi neraca keuangan, Antam membukukan total aset sebesar Rp 63,30 triliun, mengalami peningkatan 31% dari Rp 48,30 triliun pada kuartal I 2025. Pertumbuhan aset ini mencerminkan ekspansi usaha yang terus berjalan serta penguatan kapasitas operasional untuk mendukung kinerja yang berkelanjutan.

Nilai ekuitas juga menunjukkan tren positif dengan peningkatan 17%, mencapai Rp 40,41 triliun, naik dari Rp 34,62 triliun pada kuartal I 2025. Sementara itu, posisi kas dan setara kas tercatat sebesar Rp 9,04 triliun, meningkat 31% dari Rp 6,92 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Selama periode ini, Antam mencatatkan penjualan bersih senilai Rp 29,32 triliun, tumbuh 12% dibandingkan Rp 26,15 triliun pada kuartal I 2025. Kontribusi signifikan datang dari penjualan domestik yang mencapai Rp 28,31 triliun, atau sekitar 97% dari total penjualan bersih. Pertumbuhan ini selaras dengan strategi perusahaan untuk memperkuat basis pelanggan di dalam negeri, terutama untuk produk emas, bijih nikel, dan bijih bauksit.

“Implementasi strategi operasional yang tangguh serta manajemen keuangan yang disiplin dan prudent telah mendorong penguatan kinerja secara berkelanjutan, sehingga memberikan imbal hasil yang positif dan nilai tambah bagi para pemegang saham,” ujar Untung.

Segmen emas menjadi kontributor utama terhadap total penjualan, menyumbang sekitar 81%. Penjualan emas tercatat tumbuh 11% menjadi Rp 23,89 triliun, naik dari Rp 21,61 triliun pada kuartal sebelumnya. Melalui penguatan strategi pemasaran domestik, volume penjualan emas mencapai 8.464 kg (setara 272.124 troy oz).

Untuk memastikan keberlanjutan pasokan bahan baku, Antam telah menandatangani Gold Sales & Purchase Agreement (GSPA) dengan Merdeka Grup pada 4 Maret 2026. Kolaborasi strategis ini diharapkan dapat memperkuat kedaulatan emas nasional sekaligus menjamin kelancaran pasokan bagi industri dalam negeri.

Segmen nikel, yang mencakup feronikel dan bijih nikel, berkontribusi sebesar 15% terhadap total penjualan, dengan nilai Rp 4,47 triliun. Angka ini mengalami peningkatan 19% dari Rp 3,77 triliun pada kuartal I 2025. Produksi bijih nikel mencapai 3,88 juta wet metric ton (wmt), dengan volume penjualan sebesar 3,40 juta wmt yang seluruhnya diserap oleh pasar domestik.

Segmen bauksit dan alumina memberikan kontribusi sebesar 3% terhadap total penjualan, senilai Rp 879,14 miliar, menunjukkan peningkatan 24% dari Rp 708,75 miliar. Produksi bauksit mencapai 628.785 wmt, selaras dengan optimalisasi kapasitas dan produktivitas tambang serta peningkatan penyerapan pasar domestik. Volume penjualan tercatat sebesar 593.476 wmt, naik 9% dari 544.750 wmt.

Sejalan dengan optimalisasi operasional pabrik chemical grade alumina (CGA), produksi alumina mencapai 49.566 ton, meningkat 13% dibandingkan 44.051 ton pada periode sebelumnya. Dari sisi penjualan, volume tercatat sebesar 49.072 ton, tumbuh 11% dari 44.048 ton.

Dengan fondasi operasional yang solid dan kondisi keuangan yang sehat, Antam optimis dapat menjaga momentum pertumbuhan serta menghadapi berbagai dinamika global melalui strategi yang terukur dan berkelanjutan.

Ringkasan

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mencatatkan kinerja keuangan yang impresif pada kuartal I 2026 dengan perolehan laba bersih sebesar Rp 3,66 triliun, melonjak 58% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini didorong oleh performa optimal pada segmen nikel, emas, serta bauksit dan alumina, di samping penerapan strategi operasional yang adaptif dan pengendalian biaya yang disiplin. Selain laba, perusahaan juga membukukan peningkatan EBITDA sebesar 55% dan penjualan bersih mencapai Rp 29,32 triliun.

Segmen emas tetap menjadi kontributor utama dengan menyumbang 81% terhadap total penjualan, didukung oleh strategi penguatan pasar domestik dan kolaborasi strategis dalam pengadaan emas. Kinerja positif ini turut memperkuat posisi keuangan perusahaan, terlihat dari peningkatan total aset sebesar 31% menjadi Rp 63,30 triliun serta kenaikan nilai ekuitas sebesar 17%. Antam berkomitmen untuk terus mempertahankan momentum pertumbuhan ini dengan berpegang pada prinsip pertambangan yang baik dan keunggulan operasional.

Advertisements

Related Post :