Citra Satelit Ungkap Jembatan Baru Korea Utara dan Rusia untuk Pasokan Senjata

  • Ipank Wima
  • May 14, 2026

Jembatan jalan raya pertama yang menghubungkan Korea Utara dan Rusia kini hampir rampung. Berdasarkan analisis citra satelit oleh BBC Verify, proyek ini menjadi bukti nyata semakin eratnya aliansi antara Pyongyang dan Moskow di tengah keterlibatan pasukan Korea Utara dalam invasi Rusia ke Ukraina.

Advertisements

Pembangunan jembatan ini melintasi Sungai Tumen, hanya berjarak beberapa ratus meter dari satu-satunya akses penghubung kedua negara sebelumnya, yakni jalur kereta api yang dikenal sebagai Jembatan Persahabatan. Para ahli menilai, infrastruktur ini akan menjadi jalur logistik krusial bagi kedua belah pihak.

“Jembatan ini akan menawarkan rute strategis untuk memindahkan barang serta amunisi militer, baik menuju Korea Utara maupun Rusia,” ujar Dr. Edward Howell, peneliti di lembaga kajian Chatham House.

Citra satelit terkini memperlihatkan konstruksi sepanjang satu kilometer tersebut telah dilengkapi dengan berbagai infrastruktur penunjang, seperti akses jalan raya, pos pemeriksaan perbatasan, serta fasilitas parkir. Proyek ini mulai digarap setahun setelah kesepakatan dicapai dalam pertemuan antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un di Pyongyang pada Juni 2024.

Menurut data Kementerian Transportasi Rusia, Jembatan Khasan–Tumangang dirancang untuk menampung lalu lintas hingga 300 kendaraan dan 2.850 orang per hari. Estimasi biaya pembangunan fasilitas strategis ini mencapai lebih dari 9 miliar rubel atau sekitar Rp2,1 triliun.

Advertisements

Victor Cha dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) berpendapat bahwa kecepatan konstruksi jembatan mencerminkan tingginya intensitas kerja sama kedua negara. “Pembangunan ini sebagian besar didorong oleh kebutuhan mendesak akan suplai pasukan, senjata, amunisi, dan tenaga kerja dari Korea Utara untuk mendukung perang Putin di Ukraina,” ungkapnya.

Sebagai bagian dari operasional, pengemudi truk dari masing-masing negara diperkirakan hanya akan beroperasi hingga titik tertentu dan perlu memindahkan muatan di jembatan tersebut, mengingat truk tidak dapat melintas jauh ke wilayah negara lain.

Kementerian Luar Negeri Rusia menegaskan bahwa pembukaan jembatan ini merupakan tonggak sejarah dalam hubungan bilateral yang signifikansinya melampaui sekadar proyek infrastruktur. Hingga kini, jalur kereta api di Jembatan Persahabatan tetap beroperasi penuh, mencerminkan peningkatan volume perdagangan yang signifikan dibandingkan masa sebelum perang di Ukraina.

Dinamika Kerja Sama Militer

Selain infrastruktur, Putin dan Kim Jong Un telah menandatangani pakta kerja sama pertahanan bersejarah yang menjamin bantuan timbal balik jika terjadi agresi terhadap salah satu pihak. Laporan dari Korea Selatan menyebutkan bahwa Pyongyang telah mengirim sekitar 15.000 pasukan untuk membantu Rusia, termasuk suplai rudal dan senjata jarak jauh. Seoul juga mengestimasi sekitar 2.000 warga Korea Utara telah gugur dalam konflik tersebut.

Meski kedua negara tidak memberikan konfirmasi resmi mengenai angka tersebut, pemimpin kedua negara telah meresmikan sebuah tugu peringatan di Pyongyang bagi warga Korea Utara yang gugur dalam pertempuran di Ukraina. Menteri Pertahanan Rusia, Andrey Belousov, bahkan telah mendiskusikan rencana kerja sama militer jangka panjang dengan otoritas Korea Utara.

Sebagai imbalan atas dukungan militer dan tenaga kerja, Korea Utara diyakini memperoleh pasokan pangan, bahan bakar, dan teknologi militer dari Rusia. Pakar dari Chatham House, Dr. Edward Howell, menyimpulkan bahwa pembangunan jembatan ini menegaskan bahwa kemitraan strategis Rusia dan Korea Utara dirancang untuk bertahan melampaui perang di Ukraina.

Bacaan lebih lanjut:

  • Vladimir Putin dan Kim Jong Un berikrar saling bantu melawan agresi.
  • Penggunaan senjata Korea Utara oleh Rusia dalam perang Ukraina.
  • Analisis mengapa pasukan Korea Utara terlibat dalam perang Rusia.
  • Kesaksian mengenai kehidupan pekerja Korea Utara di Rusia.
  • Dampak pengerahan tenaga kerja IT Korea Utara bagi rezim Pyongyang.
  • Latar belakang penguatan hubungan diplomatik Rusia dan Korea Utara.
  • Motivasi pembelot Korea Utara di Korea Selatan yang ingin terjun ke medan perang Ukraina.
  • Gaya diplomasi Kim Jong Un dalam lawatan luar negeri.

Ringkasan

Korea Utara dan Rusia hampir merampungkan pembangunan jembatan jalan raya pertama yang melintasi Sungai Tumen sebagai jalur logistik strategis baru. Infrastruktur senilai Rp2,1 triliun ini dirancang untuk memfasilitasi pengiriman barang serta amunisi militer, memperkuat aliansi kedua negara di tengah keterlibatan pasukan Korea Utara dalam invasi Rusia ke Ukraina.

Proyek yang mencakup fasilitas pos pemeriksaan dan parkir ini merefleksikan intensitas kerja sama pertahanan yang mendalam antara Pyongyang dan Moskow. Sebagai imbalan atas bantuan militer, amunisi, dan tenaga kerja yang diberikan Korea Utara, Rusia diyakini menyediakan dukungan berupa pasokan pangan, bahan bakar, serta teknologi militer untuk jangka panjang.

Advertisements