CPO Tertekan, Pasar Menanti Efek B50: Analisis Harga Terbaru

  • Ipank Wima
  • May 23, 2026

JAKARTA. Harga minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) masih menghadapi tekanan akibat melemahnya permintaan ekspor dan melimpahnya pasokan global. Kendati demikian, pasar mulai optimis terhadap potensi penguatan harga di masa depan seiring antisipasi implementasi program biodiesel B50 di Indonesia.

Advertisements

Data dari Bursa Derivatif Malaysia menunjukkan pergerakan harga CPO untuk kontrak Juni 2026 menguat 0,6% dan ditutup pada level MYR 4.430 per metrik ton pada Jumat, 22 Mei 2026. Dalam sepekan terakhir, harga CPO berhasil mencatatkan penguatan 0,9%. Namun, tren penguatan ini sempat terganggu pada Kamis, 21 Mei 2026, ketika harga CPO anjlok 2,48%.

Sementara itu, kontrak Agustus 2026 yang lebih aktif diperdagangkan, juga mengalami kenaikan 0,63% secara harian, ditutup di MYR 4.486 per metrik ton. Seperti kontrak Juni, kontrak Agustus juga merasakan dampak pelemahan pada Kamis, 21 Mei 2026, dengan penurunan tajam sebesar 2,73%.

Secara bulanan, harga CPO masih tercatat melemah 2,03%. Namun, jika dilihat dari awal tahun (year to date/YtD), harga CPO justru melonjak signifikan sebesar 10,77%.

Dian Swastatika (DSSA) Terdepak dari FTSE Large Cap, Berlaku Efektif 22 Juni 2026

Advertisements

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan harga CPO saat ini bersifat musiman. Ia memperingatkan bahwa tren penurunan (bearish) berpotensi berlanjut dalam jangka pendek jika ekspor tetap lesu dan stok global terus meningkat. Tekanan pasar saat ini merupakan kombinasi dari pasokan melimpah dari Indonesia dan Malaysia, perlambatan permintaan impor, terutama dari India dan China, serta ketidakpastian arah permintaan global.

“Namun, potensi penurunan harga kemungkinan akan semakin terbatas. Pasar kini mulai mengantisipasi implementasi program B50 di Indonesia pada 1 Juli, yang diprediksi akan meningkatkan penyerapan domestik secara signifikan dan mengurangi tekanan kelebihan pasokan (oversupply),” jelas Lukman kepada Kontan, Jumat (22/5/2026). Ia menambahkan, pergerakan harga CPO pada kuartal II-2026 diperkirakan cenderung sideways hingga bearish dengan volatilitas yang masih cukup tinggi.

Faktor-faktor utama yang memengaruhi pasar CPO antara lain lemahnya volume ekspor sawit dari Indonesia dan Malaysia, tingginya stok di awal tahun, pergerakan harga minyak kedelai (soybean oil), arah harga energi global, serta dinamika geopolitik di Timur Tengah.

Dari sisi fundamental, stok CPO saat ini dinilai masih sangat melimpah jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Peningkatan produksi di Indonesia dan Malaysia belum diimbangi dengan pemulihan optimal pada permintaan ekspor. Di pasar domestik, stok juga masih besar karena penyerapan biodiesel belum sepenuhnya mampu mengimbangi lonjakan produksi.

Lukman menekankan bahwa kebijakan mandatori biodiesel, seperti program B35 dan B40, terbukti efektif dalam menopang permintaan domestik dan mencegah penurunan harga sawit yang lebih dalam. Saat ini, perhatian pasar beralih pada implementasi B50, yang dianggap berpotensi menjadi penentu nasib industri sawit nasional. Jika program ini diterapkan secara penuh, diperkirakan dapat menyerap tambahan jutaan ton CPO per tahun, sehingga mengurangi ketergantungan sektor ini pada pasar ekspor.

Emiten Media Ini Bagi Dividen Total Rp 762,01 Miliar, Cermati Jadwalnya

Untuk kuartal III-2026, Lukman memproyeksikan harga CPO akan bergerak dalam rentang MYR 4.300 hingga MYR 4.800 per ton. Potensi kenaikan harga dapat terwujud jika implementasi B50 berjalan lancar, produksi mulai menurun akibat faktor cuaca, ekspor menunjukkan perbaikan, atau harga energi global tetap tinggi.

Secara keseluruhan, sentimen utama yang akan menentukan arah pergerakan harga CPO ke depan meliputi kelancaran implementasi program B50 di Indonesia, prospek permintaan dari India dan China, tren harga minyak mentah dunia, kondisi cuaca yang memengaruhi produksi sawit, serta perkembangan harga minyak nabati alternatif lainnya.

Ringkasan

Harga minyak kelapa sawit mentah (CPO) saat ini mengalami tekanan akibat lemahnya permintaan ekspor dan pasokan global yang melimpah. Meskipun sempat menunjukkan penguatan mingguan, harga CPO kontrak Juni dan Agustus 2026 juga mengalami penurunan tajam pada 21 Mei 2026. Secara bulanan, harga CPO melemah, namun secara tahunan menunjukkan kenaikan signifikan.

Pasar menanti implementasi program biodiesel B50 di Indonesia pada 1 Juli 2026, yang diharapkan dapat meningkatkan penyerapan domestik dan mengurangi tekanan kelebihan pasokan. Analis memperkirakan harga CPO akan cenderung bergerak sideways hingga bearish dalam jangka pendek dengan volatilitas tinggi, namun berpotensi menguat di kuartal III-2026 jika implementasi B50 berjalan lancar dan faktor-faktor lain mendukung.

Advertisements

Related Post :