
JAKARTA – Laju pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu (20/5/2026) diprediksi akan sangat dipengaruhi oleh isi pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Paripurna DPR RI. Agenda kenegaraan ini menjadi perhatian utama pelaku pasar karena memuat arah kebijakan ekonomi ke depan.
Hendra Wardana, Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, mengungkapkan bahwa pasar saat ini tengah menanti kejelasan terkait arah kebijakan fiskal, strategi dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional, hingga langkah konkret pemerintah untuk memperkuat nilai tukar rupiah. Selain itu, investor juga menunggu bagaimana respons pemerintah terhadap tekanan pasar keuangan yang belakangan semakin meningkat.
Apabila pidato tersebut mampu memberikan kepastian mengenai disiplin fiskal serta memberikan sinyal keberpihakan terhadap stabilitas pasar dan dunia usaha, maka sentimen pasar berpotensi mengalami perbaikan. Kondisi ini diharapkan dapat memicu peluang technical rebound bagi IHSG di tengah tekanan yang ada.
“Namun, jika pasar menilai belum ada langkah konkret untuk memulihkan kepercayaan investor, maka tekanan terhadap pasar domestik masih berpotensi berlanjut,” jelas Hendra dalam keterangannya, Rabu (20/5/2026).
Dalam agenda di DPR besok, Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan akan menyampaikan asumsi makro RAPBN 2027. Hal yang menarik perhatian adalah untuk pertama kalinya, Presiden akan menyampaikan langsung Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2027. Langkah ini dinilai berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, di mana Presiden mengambil alih langsung penyampaian pidato KEM-PPKF di hadapan anggota dewan.
Ditinjau dari sisi teknikal, Hendra memaparkan bahwa level 6.300 menjadi area support psikologis yang sangat krusial bagi IHSG. Selama indeks mampu bertahan di atas level tersebut, peluang untuk memantul kembali (rebound) menuju area 6.500 hingga 6.535 masih terbuka lebar.
Sebaliknya, jika batas level support tersebut tertembus, risiko pelemahan lanjutan bagi IHSG akan semakin besar. Hal ini disebabkan pasar berpotensi memasuki fase krisis kepercayaan dalam jangka pendek. Dalam situasi yang penuh ketidakpastian ini, Hendra menyarankan investor untuk bersikap lebih selektif dan defensif.
“Investor cenderung lebih fokus pada saham-saham dengan fundamental yang kuat, likuid, serta memiliki ketahanan tinggi terhadap perlambatan ekonomi dan gejolak nilai tukar,” tambahnya.
Menurut analisisnya, saat ini pasar tidak hanya membutuhkan sentimen positif, melainkan juga rasa kepercayaan yang kuat. Di saat kondisi pasar global mulai mereda namun IHSG tetap terpuruk, hal itu menjadi indikator bahwa investor sedang menanti kepastian arah ekonomi Indonesia di masa mendatang. Oleh karena itu, pidato Presiden Prabowo menjadi momentum krusial untuk menentukan apakah pasar akan menemukan titik stabilisasi atau justru kembali kehilangan arah.
Sebagai informasi, IHSG tercatat ambruk hingga 3,46% ke level 6.370 pada perdagangan Selasa (18/5). Penurunan tajam ini menjadikan IHSG sebagai salah satu indeks dengan performa terburuk di kawasan Asia, padahal mayoritas bursa regional lainnya relatif stabil dan beberapa di antaranya bahkan berhasil menguat.
Ringkasan
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini sangat bergantung pada pidato Presiden Prabowo Subianto mengenai arah kebijakan ekonomi dan asumsi makro RAPBN 2027 di DPR. Pasar menantikan kepastian terkait disiplin fiskal serta langkah konkret pemerintah dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan kepercayaan investor. Respons pasar terhadap isi pidato tersebut menjadi kunci apakah IHSG akan mengalami technical rebound atau justru terus mengalami tekanan.
Secara teknikal, level support psikologis di angka 6.300 menjadi penentu krusial bagi arah IHSG ke depan. Jika indeks mampu bertahan di level tersebut, potensi penguatan ke kisaran 6.500 masih terbuka, namun penembusan ke bawah batas tersebut berisiko memicu krisis kepercayaan lebih dalam. Investor saat ini disarankan untuk bersikap selektif dengan mengutamakan saham-saham berfundamental kuat dan memiliki ketahanan terhadap gejolak ekonomi.