3 Faktor Penentu Nas

  • Ipank Wima
  • May 31, 2026

Balihow – JAKARTA. Nilai tukar rupiah masih berada dalam tekanan besar terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menjelang memasuki paruh kedua tahun 2026. Meskipun Bank Indonesia (BI) telah mengupayakan berbagai langkah stabilisasi, sejumlah ekonom memprediksi bahwa penguatan rupiah yang berkelanjutan masih akan menghadapi tantangan berat, baik dari dinamika eksternal maupun faktor domestik.

Advertisements

Mengutip data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,20% secara harian ke level Rp 17.881 per dolar AS pada perdagangan Jumat (29/5/2026). Jika ditarik dalam sepekan terakhir, mata uang Garuda telah terkoreksi sebesar 0,91% dari posisi Rp 17.717 pada 22 Mei 2026. Secara akumulatif sejak awal tahun (year to date), rupiah mencatat depresiasi hingga 6,91% dibandingkan posisi awal Januari yang berada di level Rp 16.725 per dolar AS.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menjelaskan bahwa meskipun kenaikan suku bunga acuan BI sebelumnya cukup membantu meredam volatilitas, kebijakan tersebut dinilai belum mampu membalikkan tren pelemahan secara permanen. Ia menyoroti bahwa tekanan terhadap rupiah saat ini datang dari berbagai lini secara simultan.

“Sumber tekanan rupiah berasal dari banyak jalur, mulai dari tingginya biaya impor energi, arus modal keluar (outflow), kebutuhan dolar musiman, hingga tekanan fiskal dan keraguan pasar terhadap arah kebijakan mendatang,” ungkap Josua kepada Kontan, Jumat (29/5/2026).

Merdeka Copper (MDKA) Gelar RUPSLB 23 Juni, Bahas Private Placement & Bagi Dividen

Advertisements

Lebih lanjut, Josua berkaca pada pengalaman beberapa negara di Asia yang menunjukkan bahwa pengetatan kebijakan moneter tidak selalu menjadi jaminan penguatan mata uang dalam jangka panjang. Bloomberg mencatat banyak bank sentral di Asia tetap mendapati mata uang mereka di titik terlemahnya karena kenaikan suku bunga hanya memberikan efek terbatas dalam menahan inflasi impor.

Ia menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar tidak bisa hanya mengandalkan instrumen suku bunga semata. Kepercayaan pasar terhadap arah kebijakan ekonomi serta kecukupan pasokan devisa di dalam negeri menjadi prasyarat yang jauh lebih krusial.

Tiga Syarat Stabilitas Rupiah Semester II-2026

Memasuki semester II-2026, Josua memproyeksikan kondisi rupiah berpotensi lebih stabil dibandingkan gejolak yang terjadi pada Mei 2026. Namun, stabilitas tersebut tetap rapuh dan sangat bergantung pada terpenuhinya tiga faktor utama.

Pertama, meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kondisi ini sangat penting agar harga minyak dunia dapat melandai, yang pada akhirnya akan menekan kebutuhan dolar AS untuk pembiayaan impor energi nasional. Kedua, efektivitas Bank Indonesia dalam menjaga daya tarik aset rupiah melalui bauran kebijakan seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), intervensi pasar valas, dan stabilisasi pasar Surat Berharga Negara (SBN) tanpa menguras cadangan devisa secara drastis.

Ketiga, penguatan disiplin fiskal oleh pemerintah serta optimalisasi kebijakan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) guna memastikan pasokan dolar di pasar domestik tetap terjaga secara efektif.

“Apabila ketiga syarat ini terpenuhi, rupiah memiliki peluang untuk bergerak lebih stabil di semester kedua. Namun, jika salah satu faktor tersebut gagal diantisipasi, risiko rupiah menembus level Rp 18.000 masih terbuka lebar,” jelas Josua.

Ia juga mengidentifikasi sejumlah sentimen kunci yang akan mendikte arah pergerakan rupiah ke depan, di antaranya perkembangan hubungan diplomatik AS-Iran, arah kebijakan suku bunga The Fed, pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury yield), hingga konsistensi arus modal asing di pasar saham dan obligasi Indonesia.

IHSG Melemah 0,56% Sepekan, Rupiah dan Rebalancing MSCI Jadi Tekanan

Faktor lain yang tidak boleh diabaikan adalah kredibilitas kebijakan fiskal dan kinerja neraca transaksi berjalan. Selain itu, sentimen pasar saham terkait rebalancing indeks MSCI dan aksi jual bersih (net sell) investor asing dapat memicu lonjakan kebutuhan konversi rupiah ke dolar AS. Tekanan musiman seperti pembayaran dividen ke luar negeri, pelunasan utang luar negeri, dan impor energi rutin juga diprediksi tetap akan membayangi nilai tukar.

“Dengan demikian, stabilitas rupiah di semester II bukan hanya tanggung jawab BI, melainkan hasil kombinasi antara kondisi pasar global, kesehatan APBN, performa ekspor-impor, serta kepercayaan investor terhadap konsistensi kebijakan pemerintah,” tutur Josua.

Lima Faktor Penentu Pergerakan Rupiah

Senada dengan hal tersebut, Ekonom sekaligus Guru Besar Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menguraikan lima variabel utama yang akan menjadi penentu nasib rupiah pada paruh kedua tahun ini.

Pertama adalah arah suku bunga global dan dominasi dolar AS. Selama imbal hasil aset berbasis dolar tetap tinggi, investor akan cenderung meminta premi risiko yang lebih besar untuk menempatkan dana mereka di aset berdenominasi rupiah. Kedua adalah aspek kredibilitas Bank Indonesia. Meski kenaikan suku bunga acuan ke 5,25% menunjukkan sikap tegas BI, pasar masih menanti konsistensi dalam komunikasi kebijakan dan efektivitas intervensi di lapangan.

Ketiga, penguatan sektor eksternal sangat mendesak mengingat pertumbuhan impor yang mulai melampaui pertumbuhan ekspor, ditambah penyempitan surplus neraca perdagangan. Keempat, persepsi risiko investasi di Indonesia yang tercermin dari angka Credit Default Swap (CDS) tenor lima tahun di kisaran 90 basis poin serta yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun di level 6,7%. Angka ini mengindikasikan pasar masih menuntut kompensasi risiko yang cukup tinggi.

Rugi Bersih BUMA Internasional Grup (DOID) Susut 66% Kuartal I-2026

Terakhir, kualitas kebijakan fiskal akan sangat menentukan kepercayaan investor. Menurut Syafruddin, belanja negara harus diprioritaskan untuk memperkuat sektor produktif dan basis penerimaan negara agar fundamental rupiah menjadi lebih kokoh di mata pasar global.

Proyeksi Rupiah Hingga Akhir 2026

Terkait proyeksi angka, Josua memperkirakan rupiah pada semester II-2026 akan bergerak dalam rentang dasar Rp 17.300 hingga Rp 17.900 per dolar AS. Namun, dalam skenario optimistis—di mana terjadi gencatan senjata efektif antara AS-Iran, harga minyak turun, dan modal asing kembali masuk—rupiah berpeluang menguat ke kisaran Rp 17.000 hingga Rp 17.300 pada akhir tahun.

Di sisi lain, Syafruddin memberikan proyeksi yang lebih konservatif dengan rentang pergerakan antara Rp 17.900 hingga Rp 18.400 per dolar AS. Ia memperkirakan titik tengah nilai tukar akan berada di kisaran Rp 18.150 sampai Rp 18.250 per dolar AS.

Pandangan ini sejalan dengan kondisi di pasar forward dan Non-Deliverable Forward (NDF). Saat ini, kontrak kurs USD/IDR untuk tenor tiga bulan telah mendekati level Rp 18.000, sementara untuk tenor enam bulan berada di kisaran Rp 18.100–Rp 18.125, dan tenor satu tahun sudah menyentuh level Rp 18.300–Rp 18.340 per dolar AS.

Ringkasan

Nilai tukar rupiah mengalami tekanan besar terhadap dolar AS dengan depresiasi mencapai 6,91% sejak awal tahun 2026 hingga menyentuh level Rp 17.881 per dolar. Pelemahan ini dipicu oleh berbagai faktor seperti tingginya biaya impor energi, arus modal keluar, serta ketegangan geopolitik global yang memengaruhi harga minyak dunia. Meskipun Bank Indonesia telah melakukan langkah stabilisasi, tantangan eksternal dan kebutuhan dolar musiman tetap menjadi beban berat bagi mata uang Garuda.

Stabilitas rupiah di semester kedua tahun 2026 sangat bergantung pada efektivitas kebijakan moneter, disiplin fiskal pemerintah, dan terjaganya pasokan devisa hasil ekspor. Para ekonom memproyeksikan nilai tukar akan bergerak fluktuatif dalam rentang Rp 17.000 hingga Rp 18.400 per dolar AS tergantung pada dinamika pasar global. Kepercayaan investor terhadap konsistensi kebijakan domestik menjadi faktor krusial untuk menjaga nilai tukar agar tidak menembus level psikologis yang lebih rendah.

Advertisements

Related Post :