Harga emas tinggi tak jamin untung, emiten produsen emas hadapi tekanan

  • Ipank Wima
  • May 24, 2026

Balihow JAKARTA. Kinerja emiten pertambangan emas di kuartal I-2026 terpantau bervariasi. Berbagai faktor, mulai dari volatilitas harga komoditas, tantangan produksi, hingga dinamika kebijakan domestik, menjadi penentu utama arah sektor emas ke depan.

Advertisements

Research Analyst Bumiputera Sekuritas, Muhammad Thoriq Fadilla, menilai bahwa tantangan terbesar bagi sektor ini adalah volatilitas harga emas global. Meski harga emas masih berada di level tinggi, tekanan dari penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil (yield) obligasi AS, serta ekspektasi tertundanya pemangkasan suku bunga The Fed berpotensi menekan harga emas dalam jangka pendek.

Data Reuters menunjukkan pasar mulai mengantisipasi kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed menjelang akhir tahun. Kondisi suku bunga tinggi cenderung menjadi beban bagi emas karena aset ini tidak memberikan imbal hasil (yield).

IHSG Diproyeksikan Menguat di Perdagangan Senin (24/5), Ini Saham Rekomendasi Analis

Thoriq menambahkan bahwa risiko produksi dan biaya operasional menjadi tantangan kedua. Kenaikan harga emas tidak serta-merta mengerek laba jika volume produksi menurun, kadar bijih melemah, terkendala gangguan cuaca, atau terjadi lonjakan biaya bahan bakar dan kontraktor. Sebagai contoh, PT Bumi Resources Minerals (BRMS) mencatatkan kenaikan harga jual emas yang signifikan, namun volume penjualannya pada kuartal I-2026 justru merosot lebih dari 30% secara tahunan (YoY).

Advertisements

Selain faktor operasional, kebijakan domestik juga menjadi sorotan. Pemerintah Indonesia tengah memperketat kontrol ekspor komoditas, termasuk sentralisasi ekspor dan kewajiban penempatan devisa hasil ekspor sumber daya alam di bank BUMN mulai 1 Juni 2026. Meskipun bertujuan menjaga stabilitas rupiah, kebijakan ini memicu ketidakpastian jangka pendek bagi eksportir terkait administrasi dan fleksibilitas pengelolaan kas valas.

Tantangan berikutnya terletak pada valuasi saham. Kenaikan harga yang telah terjadi membuat beberapa saham emas menjadi sangat sensitif terhadap koreksi. Thoriq menyoroti BRMS yang diperdagangkan dengan rasio PER tinggi, serta PT Merdeka Gold Resources (EMAS) yang masih berada pada tahap awal produksi sehingga memiliki risiko eksekusi yang lebih besar.

Meski demikian, emas tetap memiliki daya tarik sebagai aset safe haven selama ketegangan geopolitik, risiko inflasi energi, dan ketidakpastian global masih membayangi. Thoriq mengingatkan, jika dolar AS terus menguat, harga emas berpotensi mengalami koreksi lanjutan.

Cakra Buana (CBRE) Bakal Rights Issue, Andry Hakim dan Gabriel Rey Jadi Standby Buyer

Di sisi lain, permintaan emas dari bank sentral tetap menjadi penopang utama. World Gold Council mencatat pembelian emas oleh bank sentral mencapai 244 ton pada kuartal I-2026, meningkat 17% secara kuartalan. Minat investor terhadap emas fisik juga terlihat kuat, tercermin dari kenaikan permintaan bar dan koin sebesar 42% YoY menjadi 474 ton.

Secara domestik, pergerakan rupiah turut memengaruhi emiten. Dengan nilai tukar JISDOR BI di angka Rp 17.717 per dolar AS pada 22 Mei 2026, pelemahan rupiah justru bisa menguntungkan emiten karena harga jual mereka berbasis dolar. Namun, kenaikan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% pada Mei 2026 perlu diwaspadai, karena meski baik untuk stabilitas mata uang, hal ini dapat menekan valuasi saham sektor berisiko tinggi.

Berbeda pandangan, Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Adrian Djie, memprediksi kinerja emiten emas hingga akhir semester I-2026 tetap solid. Pertumbuhan laba diperkirakan terus berlanjut berkat permintaan aset safe haven yang masih tinggi.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, melihat prospek positif dengan margin emiten yang berada di level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Pilah-Pilih Saham Emiten Pemilik Tambang Emas untuk Senin (25/5), Ini Paling Favorit

Terkait strategi investasi, Thoriq merekomendasikan buy saham ANTM di area 3.100 – 3.120 dengan target Rp 3.300 dan stoploss di 2.880. Untuk BRMS, ia menyarankan buy di area 630 – 635 dengan target Rp 700 dan stoploss di 505.

Sementara itu, Wafi memberikan rekomendasi buy untuk ANTM dengan target Rp 4.250, BRMS dengan target Rp 820, dan ARCI dengan target Rp 1.550, namun ia menyarankan wait and see untuk MDKA. Adapun Adrian Djie menilai ANTM sebagai pilihan menarik dengan target harga terdekat di level Rp 3.280 per saham.

Ringkasan

Kinerja emiten pertambangan emas pada kuartal I-2026 menunjukkan variasi akibat tekanan volatilitas harga emas global, kenaikan suku bunga The Fed, serta risiko operasional seperti penurunan volume produksi dan kenaikan biaya. Meskipun harga emas di pasar internasional berada di level tinggi, faktor eksternal seperti penguatan dolar AS dan kebijakan domestik terkait pengetatan ekspor menciptakan ketidakpastian bagi emiten. Selain itu, valuasi beberapa saham sektor ini dinilai cukup tinggi, sehingga rentan terhadap koreksi pasar di tengah kondisi ekonomi global yang belum stabil.

Di sisi lain, minat investor terhadap emas sebagai aset safe haven tetap terjaga, didorong oleh tingginya permintaan dari bank sentral dunia dan pembelian emas fisik. Analis memiliki pandangan beragam mengenai masa depan sektor ini; sebagian menyoroti risiko valuasi dan beban operasional, sementara yang lain memprediksi kinerja emiten akan tetap solid berkat margin yang terjaga. Para analis juga memberikan rekomendasi beli bagi beberapa saham emiten emas dengan target harga tertentu, meski investor tetap disarankan untuk waspada terhadap dinamika kebijakan moneter domestik.

Advertisements

Related Post :