UNTR Pangkas Capex dan Revisi Target, Simak Rekomendasi Saham Terbarunya

  • Ipank Wima
  • Jun 03, 2026

JAKARTA – Prospek kinerja emiten alat berat dan pertambangan, PT United Tractors Tbk (UNTR), diprediksi masih akan menghadapi tantangan berat sepanjang tahun 2026. Tekanan ini muncul setelah manajemen perusahaan memutuskan untuk merevisi turun sejumlah target operasional serta melakukan pemangkasan signifikan pada alokasi belanja modal atau capital expenditure (capex).

Advertisements

Dalam paparan kinerja kuartal I-2026, manajemen UNTR mengumumkan penurunan panduan operasional di hampir seluruh lini bisnis. Sektor penjualan batu bara melalui Tuah Turangga Agung (TTA) menjadi salah satu yang paling terdampak. Target penjualan dikoreksi menjadi hanya 7,5 juta ton, atau merosot sekitar 35% dibandingkan target awal. Penurunan drastis ini merupakan imbas dari rendahnya persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) dari otoritas terkait.

Sejalan dengan revisi target tersebut, perseroan juga memangkas anggaran belanja modal sebesar 27%, dari proyeksi awal US$ 880 juta menjadi US$ 650 juta. Langkah efisiensi ini paling terasa pada segmen jasa pertambangan melalui PT Pamapersada Nusantara (Pama), di mana alokasi capex-nya dipangkas hingga 50%.

Analis Kiwoom Sekuritas, Adrian Djie, menilai bahwa langkah manajemen dalam merevisi target operasional dan belanja modal ini berpotensi memberikan tekanan berkelanjutan terhadap performa keuangan UNTR hingga akhir tahun. Kondisi ini sudah mulai terlihat dari laporan keuangan terbaru perusahaan.

Sepanjang kuartal I-2026, UNTR mencatatkan laba bersih (tidak termasuk beban non-recurring) sebesar Rp 1,8 triliun. Pencapaian ini mengalami penurunan tajam sebesar 44% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu. Sementara itu, pendapatan bersih perseroan tercatat sebesar Rp 28,6 triliun, menyusut 17% dari posisi Rp 34,3 triliun pada kuartal I-2025.

Advertisements

“Kami memproyeksikan pendapatan UNTR sepanjang tahun ini akan mengalami kontraksi sekitar 15% hingga 20% secara tahunan (year-on-year),” ungkap Adrian. Ia menjelaskan bahwa pelemahan ini dipicu oleh beberapa faktor krusial, mulai dari penghentian sementara operasional tambang emas Martabe, revisi turun target overburden removal, hingga melambatnya volume penjualan alat berat akibat ketidakpastian persetujuan RKAB.

Meski dibayangi sentimen negatif, Adrian melihat adanya sejumlah katalis positif yang berpotensi menopang kinerja UNTR pada semester II-2026. Salah satunya adalah kemungkinan pelonggaran persetujuan RKAB oleh pemerintah yang diharapkan dapat memacu kembali aktivitas pertambangan di tanah air.

Selain itu, harga emas global yang masih bertahan di level tinggi menjadi angin segar bagi perseroan. Melalui eksposurnya di bisnis pertambangan emas, UNTR berpeluang meraup margin keuntungan yang lebih baik dari tren kenaikan harga komoditas tersebut. Penguatan nilai dolar AS terhadap rupiah juga memberikan keuntungan tambahan, mengingat pendapatan dari penjualan emas menggunakan denominasi dolar AS.

Dari sisi investasi, Adrian memandang valuasi saham UNTR masih cukup menarik untuk dilirik. Saat ini, saham emiten grup Astra tersebut diperdagangkan di bawah rata-rata Price to Book Value (PBV) dalam lima tahun terakhir. “Secara teknikal, saham UNTR memiliki target penguatan jangka pendek di level Rp 25.000, didukung oleh indikator RSI yang menunjukkan sinyal oversold atau jenuh jual,” tambahnya.

Pandangan senada diungkapkan oleh Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi. Menurutnya, valuasi saham UNTR saat ini tergolong murah dengan Price Earning Ratio (PER) di kisaran 8 kali, ditambah dengan daya tarik dividend yield yang relatif tinggi bagi pemegang saham.

Dengan mempertimbangkan potensi pemulihan pada paruh kedua tahun ini serta fundamental yang masih solid, Wafi memberikan rekomendasi BUY untuk saham UNTR. Ia menetapkan target harga berada di level Rp 28.000 per lembar saham.

Ringkasan

PT United Tractors Tbk (UNTR) menghadapi tantangan berat pada tahun 2026 yang memicu revisi turun target operasional dan pemangkasan belanja modal sebesar 27 persen menjadi US$650 juta. Penurunan signifikan terlihat pada target penjualan batu bara TTA sebesar 35 persen akibat kendala persetujuan RKAB dari otoritas terkait. Dampaknya, laba bersih perusahaan pada kuartal I-2026 merosot tajam sebesar 44 persen secara tahunan menjadi Rp1,8 triliun.

Meski menghadapi tekanan, kinerja UNTR diprediksi membaik pada semester kedua didorong oleh tingginya harga emas global dan potensi pelonggaran regulasi RKAB. Analis menilai valuasi saham UNTR masih menarik karena diperdagangkan di bawah rata-rata nilai buku historis dengan tingkat imbal hasil dividen yang tinggi. Berdasarkan fundamental tersebut, analis memberikan rekomendasi beli dengan target harga saham di kisaran Rp25.000 hingga Rp28.000 per lembar.

Advertisements

Related Post :