Pasar Saham Tertekan Akibat Lonjakan Harga Minyak dan Aksi Jual Obligasi

  • Ipank Wima
  • May 18, 2026

Aksi jual obligasi global kian meluas menyusul kebuntuan konflik di Iran yang memicu kenaikan harga minyak mentah. Lonjakan harga komoditas ini membangkitkan kekhawatiran inflasi serta memperkuat spekulasi bahwa bank sentral di berbagai negara akan tetap mempertahankan kebijakan moneter ketat dalam jangka waktu yang lebih lama.

Advertisements

Mengutip laporan Bloomberg pada Senin (18/5), obligasi pemerintah Amerika Serikat atau Treasury mengalami pelemahan di seluruh tenor. Imbal hasil atau yield obligasi 30 tahun bahkan menanjak ke level tertinggi dalam hampir tiga tahun terakhir, didorong oleh kekhawatiran investor terhadap percepatan laju inflasi.

Dampak gejolak ini tidak hanya terasa di AS, tetapi juga merambah ke pasar obligasi global. Di Jepang, yield obligasi tenor 10 tahun melonjak hingga 10 basis poin ke level tertingginya sejak 1996. Bahkan, obligasi 30 tahun Jepang mencatatkan kenaikan 20 basis poin ke posisi tertinggi sejak pertama kali diterbitkan pada 1999. Tren pelemahan serupa juga terlihat pada instrumen obligasi di Australia dan Selandia Baru.

Seiring dengan lonjakan imbal hasil obligasi, pasar saham global pun mulai menjauhi level rekor tertinggi mereka. Indeks saham Asia tercatat melemah 0,8 persen. Meski demikian, indeks Kospi Korea Selatan berhasil mencatatkan kenaikan 1 persen berkat pemulihan harga saham Samsung Electronics Co. setelah sempat tertekan.

Sentimen negatif juga tampak pada kontrak berjangka indeks saham yang mengindikasikan tekanan lebih lanjut di pasar Eropa dan AS. Sementara itu, dolar AS terus menguat selama enam hari berturut-turut, mempertahankan posisinya sebagai aset safe haven utama di tengah ketidakpastian konflik Timur Tengah.

Advertisements

Ketegangan pasar diperburuk oleh kenaikan harga minyak Brent sekitar 2 persen menjadi di atas USD 111 per barel. Harga minyak terus merangkak naik setelah mencatatkan lonjakan hampir 8 persen pekan lalu, menyusul belum adanya progres signifikan terkait pembukaan kembali Selat Hormuz yang vital bagi distribusi energi dunia. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa waktu bagi Iran untuk menyepakati perjanjian semakin mendesak.

Gejolak pasar yang terjadi pada Senin (18/5) merupakan kelanjutan dari tren negatif pada Jumat (15/5). Para investor kini khawatir bahwa penutupan Selat Hormuz akan menjaga harga minyak tetap tinggi, yang pada gilirannya memicu inflasi dan memaksa bank sentral untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Di tengah ketidakpastian makroekonomi, para pelaku pasar kini menaruh perhatian besar pada laporan keuangan Nvidia Corp. Optimisme terhadap belanja besar-besaran di sektor pengembangan kecerdasan buatan (AI) sebelumnya mampu mengabaikan risiko pasar, namun kini investor mulai lebih berhati-hati.

Chief Asia Economist HSBC, Frederic Neumann, menegaskan bahwa kecemasan terkait inflasi telah mencengkeram pasar obligasi global. Perhatian pasar pun beralih pada ekspektasi kebijakan Federal Reserve. Para trader kini menilai kenaikan suku bunga hampir pasti terjadi pada Maret, sebuah pergeseran narasi yang kontras dibandingkan akhir Februari lalu, di mana pasar sempat memprediksi dua kali pemangkasan suku bunga seperempat poin pada 2026.

Menanggapi situasi ini, Yardeni Research menyatakan bahwa The Fed perlu segera menyelaraskan kebijakan dengan kondisi pasar obligasi. Jika tidak, bank sentral AS tersebut berisiko kehilangan kendali atas biaya pinjaman di tengah meningkatnya ekspektasi inflasi.

“Kami memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Juni dan beralih ke sikap kebijakan yang lebih ketat,” tulis Ed Yardeni dalam catatannya.

Ringkasan

Pasar saham global mengalami tekanan akibat aksi jual obligasi yang meluas menyusul lonjakan harga minyak mentah di tengah konflik di Iran. Kenaikan harga komoditas ini memicu kekhawatiran inflasi serta mendorong spekulasi bahwa bank sentral akan mempertahankan kebijakan moneter ketat dalam jangka waktu yang lebih lama. Imbal hasil obligasi pemerintah di berbagai negara, termasuk AS dan Jepang, tercatat melonjak ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Kondisi makroekonomi yang tidak pasti ini menyebabkan investor bersikap lebih berhati-hati, terutama di tengah pergeseran ekspektasi kebijakan suku bunga Federal Reserve. Selain itu, penguatan dolar AS sebagai aset safe haven terus berlanjut di tengah ketidakpastian distribusi energi dunia melalui Selat Hormuz. Pelaku pasar kini menanti langkah bank sentral dalam menyelaraskan kebijakan moneter dengan kondisi pasar obligasi untuk meredam risiko inflasi yang kian meningkat.

Advertisements

Related Post :