Pelemahan rupiah tekan emiten farmasi, margin terancam tergerus

  • Ipank Wima
  • May 20, 2026

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah yang terus berlanjut mulai memberikan tekanan signifikan terhadap kinerja emiten di sektor farmasi. Kondisi ini dipicu oleh struktur industri farmasi nasional yang masih sangat bergantung pada impor bahan baku aktif atau active pharmaceutical ingredients (API), dengan porsi mencapai 85% hingga 90% dari total kebutuhan.

Advertisements

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menjelaskan bahwa depresiasi rupiah berdampak langsung pada lonjakan biaya operasional perusahaan farmasi. Mengingat dominasi bahan baku impor yang sangat besar, setiap pelemahan nilai tukar akan langsung mengerek beban pokok penjualan atau cost of goods sold (COGS) secara proporsional.

“Dampaknya sangat terasa karena 90% API masih didatangkan dari luar negeri. Emiten dengan skala bisnis besar mungkin memiliki daya tawar lebih kuat dalam negosiasi kontrak jangka panjang, namun tekanan terhadap margin tetap sulit dihindari,” ujar Abida.

Berdasarkan data historis, Abida mencatat bahwa setiap pelemahan rupiah sebesar 10% berpotensi menekan margin laba kotor atau gross profit margin (GPM) sebesar 2 hingga 4 poin persentase, terutama jika tidak disertai dengan penyesuaian harga jual atau langkah efisiensi yang agresif. Mengingat rupiah sudah melemah cukup dalam secara year to date, kinerja emiten pada kuartal II hingga III tahun 2026 diprediksi akan menjadi ujian berat bagi industri ini.

Senada dengan hal tersebut, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, Imam Gunadi, mengungkapkan bahwa kenaikan kurs USD/IDR membebani seluruh rantai produksi, mulai dari pengadaan bahan baku, komponen pengemasan tertentu, hingga alat kesehatan.

Advertisements

Namun, dampak ini tidak dirasakan secara merata oleh seluruh pemain industri. Emiten seperti PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) dan PT Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) dinilai lebih defensif dibandingkan kompetitornya. Hal ini berkat diversifikasi produk yang luas dan kontribusi segmen consumer health yang memiliki margin lebih tinggi.

Sebaliknya, emiten seperti PT Kimia Farma Tbk (KAEF) dan PT Indofarma Tbk (INAF) dipandang lebih rentan. Kedua perusahaan ini memiliki margin yang relatif tipis dan sangat bergantung pada produk generik, di mana ruang untuk menaikkan harga jual sangat terbatas karena dikendalikan oleh regulasi pemerintah.

“Untuk produk over-the-counter (OTC) dan kesehatan konsumen, perusahaan seperti KLBF dan TSPC memiliki fleksibilitas lebih besar untuk menyesuaikan harga secara bertahap tanpa terlalu mengganggu volume penjualan,” tambah Imam.

Terkait strategi mitigasi, penggunaan instrumen lindung nilai atau hedging dinilai hanya efektif untuk meredam volatilitas dalam jangka pendek. Jika pelemahan rupiah berlangsung dalam jangka panjang, solusi struktural tetap menjadi tantangan utama bagi emiten farmasi.

Dari sisi fundamental, KLBF tetap menjadi pilihan utama karena didukung oleh neraca keuangan yang solid, posisi kas yang kuat, serta diversifikasi bisnis yang mampu menjaga stabilitas margin di tengah tekanan kurs. Pandangan optimistis juga datang dari Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo.

Meskipun pelemahan rupiah adalah risiko utama, Azis melihat valuasi saham KLBF saat ini sudah cukup atraktif. “Secara valuasi, KLBF tergolong murah, sehingga bisa dipertimbangkan untuk akumulasi atau setidaknya wait and see,” jelasnya.

Sebagai panduan investasi, Imam Gunadi merekomendasikan saham KLBF dengan area beli di kisaran Rp 800 – Rp 820 per saham. Target harga dipatok pada level Rp 900, dengan saran stop loss jika harga turun di bawah level Rp 760.

Ringkasan

Pelemahan nilai tukar rupiah memberikan tekanan signifikan terhadap kinerja emiten farmasi karena ketergantungan yang tinggi terhadap bahan baku aktif (API) impor, yang mencapai 85% hingga 90%. Depresiasi mata uang ini secara langsung meningkatkan beban pokok penjualan dan mengancam margin laba kotor perusahaan. Setiap pelemahan rupiah sebesar 10% diperkirakan dapat menekan margin laba kotor hingga 4 poin persentase apabila tidak diikuti dengan penyesuaian harga atau efisiensi.

Dampak pelemahan ini dirasakan secara bervariasi, di mana perusahaan seperti PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) dan PT Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) dinilai lebih mampu bertahan berkat diversifikasi produk yang kuat. Sebaliknya, emiten dengan margin tipis dan fokus pada obat generik seperti PT Kimia Farma Tbk (KAEF) dan PT Indofarma Tbk (INAF) dipandang lebih rentan karena keterbatasan ruang untuk menyesuaikan harga jual. Secara fundamental, KLBF tetap menjadi pilihan utama bagi investor di tengah tekanan kurs karena posisi keuangan yang solid dan valuasi yang dinilai atraktif.

Advertisements