
Balihow – JAKARTA. Kinerja emiten pertambangan emas di Indonesia terpantau beragam pada kuartal I-2026. Sejumlah variabel ekonomi makro, mulai dari fluktuasi harga emas global, aksi borong emas oleh bank sentral dunia, hingga arah kebijakan suku bunga The Fed, menjadi faktor krusial yang menentukan rapor keuangan para pemain di sektor ini ke depannya.
Emiten yang memiliki porsi ekspor emas signifikan diprediksi akan mendapatkan keuntungan lebih besar di tengah dinamika pasar saat ini. Merespons kondisi tersebut, sejumlah analis memberikan ulasan mendalam serta rekomendasi saham untuk emiten tambang emas unggulan. Berikut adalah rincian rekomendasinya:
1. PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA)
Manajemen MDKA tengah membidik target produksi perak sebagai produk sampingan sebesar 800 hingga 900 kilo ounce (koz). Langkah strategis ini diharapkan dapat mengoptimalkan struktur biaya tunai (cash cost) di tambang emas Tujuh Bukit (TB gold) secara menyeluruh. Selain itu, pertumbuhan pendapatan juga diharapkan datang dari segmen Nickel Pig Iron (NPI) melalui PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), didorong oleh harga jual rata-rata (ASP) yang lebih kompetitif dan volume penjualan yang diproyeksikan mencapai 80 kiloton (kt) nikel pada tahun 2026.
Lebih lanjut, volume produksi nikel matte kadar tinggi (HGNM) diperkirakan menyentuh angka 37,5 kiloton pada tahun 2026. Perusahaan juga diprediksi mampu meningkatkan margin tunai dengan memanfaatkan tren penguatan harga nikel serta fleksibilitas biaya dari sumber internal. Pada segmen bijih limonit, volume penjualan diantisipasi melonjak signifikan menjadi 21–22 juta wet metric ton (WMT) tahun ini. Peningkatan ini didukung oleh progres proyek Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) pada PT ESG New Energy Material (ESG) dan PT Sulawesi Nickel Cobalt (SLNC) yang akan membawa kapasitas gabungan ke level 75–80 kiloton per tahun (ktpa).
Rekomendasi: Buy
Target harga: Rp 4.000
(Berdasarkan riset Devi Harjoto, OCBC Sekuritas, 18 Mei 2026)
Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini (24/5) Stagnan, Tren Pekan Ini Naik Tipis
2. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS)
PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) berhasil mencatatkan performa keuangan yang solid dengan membukukan pendapatan sebesar US$ 69 juta pada kuartal I-2026. Pencapaian ini mendorong laba bersih (NPAT) perusahaan tumbuh 21% secara year on year (YoY) atau melesat 45% secara kuartalan (QoQ) menjadi US$ 18 juta. Fokus saat ini tertuju pada peningkatan kapasitas pabrik carbon-in-leach (CIL) dari 500 ton per hari menjadi 2.000 ton per hari, yang ditargetkan rampung sepenuhnya pada Oktober 2026.
Ekspansi kapasitas ini diperkirakan akan mengerek total produksi emas perusahaan hingga mendekati angka 80.000 ons tahun ini. Selain itu, BRMS tengah mengembangkan tambang bawah tanah baru yang dijadwalkan mulai beroperasi pada semester kedua tahun 2027. Fasilitas ini akan memungkinkan perusahaan untuk mengekstraksi bijih emas berkualitas tinggi dengan kadar mencapai 3,5 hingga 4,9 g/t. Dengan serangkaian inisiatif peningkatan produksi tersebut, prospek jangka menengah BRMS dinilai tetap kokoh.
Rekomendasi: Netral
Target harga: Rp 1.200
(Berdasarkan riset Igor Putra, UBS Sekuritas Indonesia, 1 Mei 2026)
3. PT United Tractors Tbk (UNTR)
Lini bisnis emas PT United Tractors Tbk (UNTR) mengalami tekanan pada kuartal I-2026, di mana pendapatan bersih dari segmen ini merosot 76% menjadi Rp 692 miliar. Penurunan ini terutama disebabkan oleh nihilnya penjualan emas dari tambang Martabe selama periode tersebut. Secara kumulatif, melalui PT Agincourt Resources dan PT Sumbawa Jutaraya, UNTR hanya mencatat penjualan setara emas sebesar 4.000 ons troi, atau menyusut tajam 93% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Manajemen menargetkan produksi di tambang Martabe dapat kembali berjalan pada Juni mendatang dengan target moderat sebesar 60.000 ons untuk tahun 2026. Namun, pasar mencermati adanya sentimen negatif terkait indikasi awal produksi tahun 2027 yang hanya sebesar 70.000 ons, jauh di bawah kapasitas penuh yang diharapkan sebesar 200.000 ons. Keterlambatan ini dipicu oleh proyek fasilitas penyimpanan tailing kering (TSF) baru yang tertunda akibat banjir di Sumatera Utara pada akhir 2025 dan penghentian sementara operasional Martabe. Saat ini, UNTR tengah menunggu izin resmi pemerintah untuk memulai pembangunan TSF baru yang diproyeksikan selesai pada akhir tahun 2027.
Rekomendasi: Overweight
Target harga: Rp 42.000
(Berdasarkan riset Arnanto Januri, JP Morgan Sekuritas Indonesia, 30 April 2026)
Ringkasan
Kinerja emiten tambang emas pada kuartal I-2026 dipengaruhi oleh fluktuasi harga emas global dan kebijakan ekonomi makro. Emiten dengan porsi ekspor signifikan diprediksi memiliki prospek lebih baik, dengan fokus perusahaan kini tertuju pada optimalisasi produksi serta ekspansi kapasitas tambang untuk menjaga margin keuntungan.
PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) mendapatkan rekomendasi beli dengan target harga Rp 4.000 berkat optimalisasi biaya dan pertumbuhan segmen nikel. Sementara itu, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) mendapat rekomendasi netral pada harga Rp 1.200 karena fokus pada peningkatan kapasitas pabrik, sedangkan PT United Tractors Tbk (UNTR) dinilai overweight dengan target Rp 42.000 meskipun sempat mengalami penurunan kinerja produksi akibat kendala operasional.