
JAKARTA – PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) resmi mengkomersialkan layanan internet rumah nirkabel atau Fixed Wireless Access (FWA) dengan merek Internet Rakyat (IRA). Langkah ini diambil setelah perusahaan menjalani fase soft deployment sejak Februari 2026. Meski kontribusi pendapatan diproyeksikan akan terealisasi secara bertahap dalam beberapa kuartal ke depan, peluncuran ini dinilai sebagai katalis krusial untuk mempercepat akuisisi basis pelanggan.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Kafi Ananta, dalam risetnya pada Jumat (29/5/2026), menyoroti bahwa Internet Rakyat mengandalkan strategi promosi agresif untuk memacu pertumbuhan jumlah pelanggan. “Peluncuran IRA menjadi pendorong akuisisi pelanggan dengan strategi monetisasi yang bersifat back-ended. Meskipun kontribusi pendapatan jangka pendek masih terbatas, program promosi yang ditawarkan terbukti menjadi instrumen akuisisi yang sangat efektif,” ungkap Kafi.
Baca Juga: Megalestari (EPAC) Bersiap Ganti Pengendali, Triple B Kuasai 34% Saham
Hingga kuartal I-2026, layanan Internet Rakyat telah mengamankan sekitar 200.000 pelanggan berbayar dengan dukungan 236 BTS aktif. Sebagai daya tarik, WIFI meluncurkan promosi khusus Piala Dunia, di mana pelanggan cukup membayar Rp 100.000 di muka untuk menikmati akses internet gratis selama tiga bulan, lengkap dengan akses ke FolaPlay—platform OTT milik grup yang bekerja sama dengan TVRI sebagai pemegang hak siar.
Kafi menambahkan bahwa potensi monetisasi saat ini masih dibatasi oleh tahapan pembangunan infrastruktur. Jumlah BTS aktif yang tercatat saat ini sekitar 550 unit, masih terpaut jauh dari target perusahaan untuk mencapai 5.500 BTS aktif pada akhir 2026. Menanggapi realitas tersebut, BRI Danareksa merevisi turun proyeksi pendapatan FWA WIFI tahun 2026 sebesar 24% menjadi Rp 749 miliar. Namun, karena proyeksi pendapatan bisnis Fiber to the Home (FTTH) tetap stabil di angka Rp 2,1 triliun, total estimasi pendapatan WIFI pada 2026 dipatok mencapai Rp 3,8 triliun.
Di balik revisi tersebut, terdapat sinyal kuat mengenai percepatan pembangunan jaringan pada semester kedua tahun 2026. Meskipun belanja modal (capex) pada kuartal I-2026 baru terserap sebesar Rp 181 miliar, terdapat lonjakan signifikan pada nilai uang muka dan persediaan, masing-masing sebesar Rp 685 miliar dan Rp 969 miliar secara kuartalan. Menurut Kafi, ini mengonfirmasi bahwa proses pengadaan perangkat telah selesai dan perusahaan kini bersiap untuk fase instalasi yang lebih masif.
“Lonjakan uang muka dan persediaan menunjukkan economic capex mencapai sekitar Rp 1,8 triliun. Hal ini menegaskan adanya aktivitas pengadaan besar-besaran untuk mendukung akselerasi instalasi jaringan di paruh kedua tahun ini,” jelasnya.
Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini (31/5) Stagnan di Rp 2,799 Juta per Gram
Merespons dinamika tersebut, BRI Danareksa menaikkan proyeksi capex WIFI tahun 2026 sebesar 8% menjadi Rp 4,5 triliun, sekaligus merevisi naik target pelanggan FWA menjadi 2,5 juta pengguna. Kinerja operasional yang melampaui ekspektasi sepanjang 2025 hingga awal 2026 juga mendorong revisi naik terhadap profitabilitas perusahaan.
Proyeksi EBITDA WIFI pada 2026 kini diperkirakan mencapai Rp 1,85 triliun, naik sekitar 9,1% dari estimasi sebelumnya. Pertumbuhan ini didorong oleh efisiensi biaya operasional jaringan serta pengendalian beban umum dan administrasi yang lebih ketat. Meski margin EBITDA diproyeksikan sedikit tertekan ke angka 48,6% pada 2026 akibat beban front-loaded seperti biaya hak penggunaan spektrum dan komisi distributor, margin tersebut diperkirakan akan kembali stabil di kisaran 54,1% mulai 2027 hingga 2028.
Berdasarkan valuasi yang dinilai masih menarik serta progres pembangunan jaringan yang menjanjikan, BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi BUY untuk saham WIFI dengan pandangan taktis Overweight untuk tiga bulan ke depan. Namun, target harga saham direvisi menjadi Rp 4.100 per lembar akibat pendekatan yang lebih konservatif terhadap nilai terminal.
“Kami mempertahankan rekomendasi buy karena valuasi masih relatif murah pada 7,3 kali EV/EBITDA 2026, dan akumulasi persediaan pada kuartal I-2026 menjadi indikator kuat bagi percepatan deployment jaringan,” tegas Kafi.
Baca Juga: Asing Net Sell Rp 12,43 Triliun Sepekan, TPIA, BBCA dan AMMN Paling Banyak Dijual
Untuk mendukung ekspansi ini, manajemen WIFI menyatakan tengah menyiapkan skema pendanaan melalui pinjaman sindikasi perbankan. Dalam model proyeksi BRI Danareksa, rasio utang terhadap ekuitas (DER) dan net debt terhadap EBITDA perusahaan pada 2026 diperkirakan tetap terjaga di level 1,0 kali dan 1,5 kali. Meski prospek cerah, investor tetap perlu mencermati risiko utama berupa potensi tingginya angka churn atau penghentian layanan oleh pelanggan setelah masa promo berakhir.
Ringkasan
PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) telah resmi mengomersialkan layanan internet rumah nirkabel dengan merek Internet Rakyat (IRA) setelah melalui fase uji coba. Meskipun kontribusi pendapatan jangka pendek masih terbatas, strategi promosi agresif berhasil mengamankan sekitar 200.000 pelanggan hingga kuartal I-2026. BRI Danareksa Sekuritas mencatat adanya lonjakan signifikan pada nilai persediaan dan uang muka, yang mengindikasikan persiapan perusahaan untuk mempercepat instalasi jaringan secara masif di semester kedua tahun 2026.
Berkat progres pembangunan jaringan dan potensi pertumbuhan basis pelanggan yang diproyeksikan mencapai 2,5 juta pengguna, BRI Danareksa mempertahankan rekomendasi “beli” untuk saham WIFI dengan target harga Rp 4.100. Proyeksi EBITDA tahun 2026 turut direvisi naik menjadi Rp 1,85 triliun didorong oleh efisiensi operasional. Meskipun prospek dinilai positif, investor tetap disarankan untuk memperhatikan risiko tingkat penghentian layanan atau churn setelah masa promo berakhir.