Rupiah Kembali Melemah ke Level Rp17.706 per Dolar AS Hari Ini

  • Ipank Wima
  • May 19, 2026

Nilai tukar rupiah kembali menghadapi tekanan berat di hadapan dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data pasar Bloomberg pada Selasa (19/5) pukul 09.09 WIB, mata uang Garuda terkoreksi 38 poin atau sekitar 0,22 persen, yang membawa rupiah ke level Rp 17.706 per dolar AS.

Advertisements

Pelemahan ini terjadi seiring dengan menguatnya posisi dolar AS di pasar global. Selain itu, sentimen pasar yang dipicu oleh kekhawatiran mengenai arah kebijakan suku bunga serta meningkatnya tensi geopolitik dunia turut memberikan beban tambahan. Saat ini, posisi rupiah telah mendekati level terlemahnya dalam 52 minggu terakhir, yakni di kisaran Rp 17.684 per dolar AS.

Jika menilik kinerja secara year-to-date (ytd), rupiah tercatat telah terdepresiasi sebesar 6,11 persen terhadap mata uang Paman Sam. Angka tersebut sekaligus memperpanjang tren pelemahan yang telah membayangi mata uang domestik dalam beberapa waktu terakhir.

Menanggapi kondisi tersebut, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, memberikan pandangannya dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI pada Senin (18/5). Perry menegaskan bahwa posisi rupiah saat ini sebenarnya masih berada di bawah nilai wajarnya atau undervalue. Menurutnya, tekanan yang terjadi lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal dan kebutuhan musiman, bukan akibat fundamental ekonomi domestik yang melemah. Oleh karena itu, ia optimistis rupiah memiliki potensi untuk kembali menguat.

Dalam kesempatan tersebut, Perry memaparkan proyeksi nilai fundamental rupiah. Berdasarkan rata-rata tahunan (average of the year), nilai fundamental rupiah berada di angka Rp 16.500, dengan batas bawah di kisaran Rp 16.200 dan batas atas pada Rp 16.800 per dolar AS.

Advertisements

Ringkasan

Nilai tukar rupiah melemah 0,22 persen ke level Rp17.706 per dolar AS pada Selasa (19/5) akibat penguatan dolar global dan ketidakpastian kebijakan suku bunga. Penurunan ini membawa mata uang Garuda mendekati level terlemahnya dalam 52 minggu terakhir dengan total depresiasi sebesar 6,11 persen sepanjang tahun ini. Tekanan eksternal dan meningkatnya tensi geopolitik dunia menjadi faktor utama yang membebani kinerja rupiah di pasar global.

Gubernur Bank Indonesia menyatakan bahwa nilai rupiah saat ini masih berada di bawah nilai wajarnya atau undervalued. Bank Indonesia memproyeksikan nilai fundamental rupiah berada pada rata-rata Rp16.500 per dolar AS dengan potensi penguatan di masa mendatang. Kondisi pelemahan ini dinilai lebih banyak dipengaruhi oleh faktor musiman dan eksternal, bukan karena pelemahan fundamental ekonomi domestik.

Advertisements

Related Post :