Rupiah pecah rekor terlemah, outflow asing dan sentimen MSCI jadi tekanan

  • Ipank Wima
  • May 17, 2026

Nilai tukar rupiah terus berada dalam tekanan hebat hingga mencatatkan posisi terlemah sepanjang sejarah. Pada penutupan perdagangan spot Jumat (15/5/2026), mata uang Garuda bertengger di level Rp 17.597 per dolar Amerika Serikat (AS), atau melemah 0,39% dibandingkan hari sebelumnya. Bahkan, dalam sesi transaksi harian, nilai tukar sempat menembus angka psikologis Rp 17.602 per dolar AS.

Advertisements

Fenomena pelemahan ini terbilang kontradiktif mengingat indikator ekonomi domestik sebenarnya masih menunjukkan kinerja yang solid. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 berhasil mencapai angka 5,61%. Di saat yang sama, tingkat kepercayaan masyarakat tetap terjaga, tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) April 2026 yang berada di level optimis sebesar 123,0, sedikit meningkat dari bulan sebelumnya yang berada di posisi 122,9.

Harga Emas Berpotensi Terkoreksi Pekan Depan, Simak Proyeksi Analis Berikut

M. Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, menilai bahwa tekanan terhadap rupiah menunjukkan pergeseran fokus pelaku pasar. Saat ini, investor lebih mencermati persepsi risiko Indonesia secara menyeluruh dibandingkan hanya melihat data pertumbuhan ekonomi semata. Menurutnya, kombinasi sentimen eksternal dan keraguan domestik menjadi pemantik utama depresiasi rupiah.

“Memang pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 mencapai 5,61% dan IKK masih cukup tinggi, namun pasar juga melihat tekanan global seperti suku bunga AS yang bertahan tinggi, penguatan dolar, ketidakpastian geopolitik, hingga fenomena capital outflow dari pasar negara berkembang (emerging market),” ujar Rizal kepada Kontan, Rabu (13/5/2026).

Advertisements

Selain faktor global, sentimen negatif dari dalam negeri turut memperberat posisi rupiah. Beberapa faktor yang disoroti antara lain risiko pelebaran defisit fiskal, tingginya kebutuhan impor energi, hingga mulai menurunnya kepercayaan investor terhadap prospek aset-aset finansial dalam negeri.

Di saat yang bersamaan, tekanan tambahan datang dari pasar saham domestik. Kabar mengenai keluarnya 18 saham Indonesia dari indeks MSCI tanpa adanya saham baru yang masuk ke dalam MSCI Global Standard Indexes menjadi pukulan telak. Rizal menilai kondisi ini berpotensi memperbesar arus keluar dana asing dari pasar keuangan nasional yang pada akhirnya semakin menekan rupiah.

Ketika bobot Indonesia dalam indeks MSCI menurun, investor pasif global cenderung akan mengurangi eksposur mereka terhadap aset-aset di tanah air. Dampaknya, tekanan pada pasar saham dan nilai tukar dapat terjadi secara bersamaan dalam waktu yang singkat.

Harga Energi Naik Tajam, Premi Risiko Geopolitik Meningkat Jadi Pemicu

“Jika sentimen risk off terhadap Indonesia terus berlanjut, rupiah masih memiliki potensi besar untuk berada dalam tekanan dalam jangka pendek,” kata Rizal. Ia menambahkan bahwa risiko terhadap rupiah akan semakin nyata apabila pelemahan di pasar saham terjadi berbarengan dengan tekanan di pasar obligasi serta meningkatnya permintaan dolar AS di pasar domestik.

Untuk meredam gejolak ini, Rizal berpendapat bahwa intervensi Bank Indonesia (BI) di pasar valas saja tidak akan cukup. Stabilitas rupiah sangat bergantung pada kemampuan pemerintah dan regulator dalam menjaga kepercayaan investor terhadap arah serta kredibilitas kebijakan ekonomi nasional.

BI tetap perlu melakukan langkah stabilisasi melalui intervensi di pasar spot, instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN). Namun di sisi lain, pemerintah dituntut untuk memperkuat disiplin fiskal, meningkatkan cadangan devisa, mempercepat implementasi kebijakan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA), serta menjaga konsistensi kebijakan ekonomi secara menyeluruh.

“Pada akhirnya, stabilitas rupiah sangat bergantung pada persepsi pasar terhadap kredibilitas kebijakan nasional,” tegas Rizal.

Mengenai prospek di semester II-2026, pergerakan rupiah diprediksi masih akan sangat volatil, sangat bergantung pada dinamika global maupun situasi domestik. Jika tekanan eksternal mereda dan arus modal asing kembali masuk ke pasar dalam negeri, rupiah memiliki peluang untuk menguat secara bertahap.

Sebaliknya, ruang pelemahan masih terbuka lebar apabila harga minyak dunia terus melonjak, tensi geopolitik meningkat, arus keluar modal asing berlanjut, serta kekhawatiran terhadap kondisi fiskal semakin membesar.

Harga Energi Menguat Tajam, Brent Diproyeksi Tembus ke US$ 122 per Barel

Meski dibayangi ketidakpastian, Rizal menekankan bahwa fundamental ekonomi Indonesia sebenarnya masih memiliki daya tahan yang cukup baik. Hal ini terlihat dari pertumbuhan ekonomi yang tetap positif, konsumsi domestik yang stabil, serta kondisi sektor perbankan yang relatif kokoh.

“Yang menjadi kunci utama saat ini adalah bagaimana menjaga kredibilitas kebijakan dan kepercayaan pasar agar tekanan terhadap nilai tukar rupiah dapat lebih terkendali,” pungkasnya.

Ringkasan

Nilai tukar rupiah mencatatkan rekor terlemah sepanjang sejarah dengan menyentuh level Rp 17.597 per dolar AS pada penutupan perdagangan Mei 2026. Pelemahan ini dianggap kontradiktif karena pertumbuhan ekonomi Indonesia sebenarnya masih solid di angka 5,61 persen dengan indeks keyakinan konsumen yang optimis. Tekanan terhadap mata uang Garuda dipicu oleh pergeseran fokus investor yang lebih mencermati persepsi risiko dibandingkan data pertumbuhan ekonomi semata.

Faktor utama depresiasi ini meliputi fenomena capital outflow, tingginya suku bunga AS, serta sentimen negatif akibat keluarnya 18 saham Indonesia dari indeks MSCI. Untuk meredam gejolak tersebut, diperlukan intervensi Bank Indonesia di pasar valas serta penguatan disiplin fiskal dari pemerintah. Stabilitas rupiah ke depan akan sangat bergantung pada kemampuan otoritas dalam menjaga kredibilitas kebijakan dan kepercayaan investor global.

Advertisements

Related Post :