Saham lapis kedua berguguran di tengah gejolak pasar, bagaimana prospeknya?

  • Ipank Wima
  • May 24, 2026

Gejolak yang melanda pasar modal saat ini berdampak luas hingga menyeret kinerja saham-saham lapis kedua (second liner). Padahal, pada periode-periode sebelumnya, kelompok saham ini kerap menjadi penopang utama bagi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Advertisements

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga Jumat (22/5/2026), indeks IDX Small Mid Cap (SMC) Composite telah terkoreksi cukup dalam sebesar 20,21% year to date (ytd) ke level 401,560. Kondisi serupa juga terlihat pada indeks IDX SMC Liquid yang merosot 14,65% ytd ke posisi 307,785.

Penurunan tajam pada dua indeks kumpulan saham lapis kedua ini sejalan dengan tren pelemahan IHSG. Sejak awal tahun, indeks saham nasional tersebut telah terperosok hingga 28,64% ytd ke level 6.162,045.

Muhammad Wafi, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), menjelaskan bahwa koreksi tajam ini bukan sekadar imbas dari rebalancing indeks global seperti MSCI atau FTSE. Menurutnya, terjadi efek berantai dari berbagai faktor krusial yang menekan pasar.

Faktor-faktor tersebut meliputi meningkatnya sikap risk-off secara masif akibat ketidakpastian geopolitik global, derasnya arus modal asing yang keluar (outflow), aksi ambil untung (profit taking), hingga gejala kepanikan yang menular dari penurunan saham berkapitalisasi besar (big caps).

Advertisements

“Saham dengan beta tinggi, likuiditas yang tipis, serta hanya mengandalkan narasi tanpa dukungan laba (earnings) menjadi yang paling rawan tertekan. Hal ini dikarenakan biaya keluar atau exit cost-nya adalah yang paling mahal,” ujar Wafi, Jumat (22/5/2026).

Pandangan senada disampaikan oleh Raden Bagus Bima, pengamat pasar modal sekaligus pendiri Sekolah Saham Indonesia. Ia menilai gejolak pada IDX SMC Composite dan IDX SMC Liquid dipicu oleh kombinasi sentimen negatif, mulai dari kebijakan pemerintah yang belum pasti hingga status High Shareholder Concentration (HSG) yang berdampak spesifik pada emiten big caps.

Ia juga mencatat bahwa saham-saham dengan likuiditas besar maupun lapis kedua cenderung lebih sensitif terhadap tekanan jual. Akibatnya, harga saham-saham ini merosot lebih tajam ketika kepercayaan pasar menurun.

“Menurunnya minat spekulasi dari investor ritel turut menyebabkan saham lapis kedua kehilangan momentum, terutama karena banyaknya informasi negatif yang beredar,” tambah Raden.

Meskipun sedang dalam tekanan, Raden memperkirakan prospek saham lapis kedua masih menjanjikan di masa depan. Valuasi yang mulai kembali menarik dan fundamental perusahaan yang tetap tumbuh positif menjadi alasan utama optimisme tersebut.

Secara historis, saham lapis kedua sering kali mencatatkan performa outperform ketika pasar memasuki fase pemulihan. Investor umumnya akan kembali memburu saham-saham ini untuk mengejar potensi pertumbuhan kinerja yang lebih tinggi dibandingkan saham-saham blue chip.

“Namun, dalam kondisi saat ini, investor dituntut untuk lebih selektif. Fokuslah pada saham yang likuid, memiliki fundamental kuat, laba yang konsisten bertumbuh, serta memiliki katalis positif yang jelas,” tegas Raden.

Sementara itu, Wafi berpendapat bahwa era kejayaan saham lapis kedua belum berakhir, melainkan hanya sedang memasuki fase transisi. Saat ini, banyak investor yang melakukan rotasi ke saham big caps karena keunggulan dari sisi valuasi dan keamanan fundamental.

Begitu pasar mencapai titik stabil, saham lapis kedua memiliki peluang tumbuh yang signifikan, terutama emiten yang memiliki laba bersih riil, arus kas positif, serta eksposur kuat pada sektor komoditas strategis. “Saat ini, valuasi saham lapis kedua jauh lebih menarik jika dibandingkan dengan awal tahun,” imbuhnya.

Sebagai langkah antisipasi, Wafi menyarankan strategi investasi secara bertahap dan selektif. Momentum terbaik untuk masuk adalah saat arus keluar dana pasif akibat rebalancing MSCI telah berakhir dan IHSG mulai stabil di area support 6.200.

Investor disarankan memprioritaskan emiten dengan laba positif, tingkat saham publik (free float) di atas 15%, dan sektor berbasis komoditas. Sebaliknya, hindari saham yang hanya mengandalkan cerita tanpa bukti laba, memiliki utang (leverage) tinggi, serta sektor properti, konstruksi, dan teknologi yang valuasinya masih tergolong premium tanpa katalis nyata.

Wafi memprediksi sejumlah saham lapis kedua akan tampil unggul (outperform), di antaranya dari sektor energi seperti ENRG dan MEDC, serta sektor pertambangan mineral seperti PTRO dan BRMS. Selain itu, sektor konsumer dan kesehatan yang bersifat defensif seperti JPFA, MIKA, dan HEAL juga patut dicermati.

Di sisi lain, Raden Bagus Bima menyarankan investor untuk menunggu hingga tekanan jual asing mereda, terutama setelah proses rebalancing MSCI rampung pada 29 Mei 2026. Menurutnya, saham lapis kedua tetap menawarkan peluang menarik, baik untuk trading jangka pendek maupun investasi jangka panjang.

Meski begitu, ia mengingatkan adanya risiko terkait likuiditas yang tipis, volatilitas tinggi, serta potensi distribusi oleh bandar. Kedisiplinan dalam menerapkan manajemen risiko menjadi kunci utama dalam menghadapi kondisi pasar saat ini.

Sebagai rekomendasi spesifik, Raden menyarankan investor untuk memperhatikan saham BUVA dengan target harga di level Rp 1.000 dan stop loss di Rp 650 per saham. Selain itu, saham RAJA juga menarik untuk dipantau dengan target penembusan harga di level Rp 4.000–Rp 4.150 dan batas stop loss pada level Rp 3.200 per saham.

Ringkasan

Saham lapis kedua mengalami penurunan signifikan seiring dengan pelemahan IHSG akibat ketidakpastian geopolitik global dan derasnya arus keluar modal asing. Kondisi ini terutama menekan saham dengan likuiditas tipis dan beta tinggi yang tidak didukung oleh pertumbuhan laba riil. Gejala kepanikan pasar dan aksi ambil untung turut memperparah koreksi pada indeks saham berkapitalisasi kecil hingga menengah tersebut.

Meskipun sedang tertekan, para analis menilai prospek saham lapis kedua tetap menjanjikan karena valuasinya yang kini menjadi lebih menarik. Investor disarankan untuk tetap selektif dengan memprioritaskan emiten yang memiliki fundamental kuat, laba konsisten, serta arus kas positif. Sektor energi, pertambangan, dan kesehatan diprediksi akan menunjukkan performa unggul saat pasar mulai memasuki fase pemulihan yang stabil.

Advertisements