Sejumlah perbankan tebar dividen jumbo, mana yang paling menarik?

  • Ipank Wima
  • May 08, 2026

Balihow – JAKARTA. Sejumlah saham perbankan kembali menjadi primadona bagi para investor setelah secara resmi mengumumkan pembagian dividen untuk tahun buku 2025. Langkah ini menjadi angin segar di tengah tren koreksi yang sedang membayangi pergerakan harga saham sektor keuangan di bursa.

Advertisements

Menariknya, koreksi harga saham saat ini justru berpotensi mendongkrak tingkat imbal hasil dividen atau dividend yield bagi para pemegang saham. Hal ini didorong oleh peningkatan rasio dividen yang dibagikan oleh masing-masing bank. Beberapa emiten bahkan telah melewati masa cum date, yaitu batas waktu terakhir bagi investor untuk membeli saham agar berhak mendapatkan dividen.

Bank OCBC NISP Resmi Akuisisi Bisnis HSBC, Cermati Rekomendasi Analis

Dalam waktu dekat, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) dijadwalkan membagikan dividen sebesar 20% dari laba bersih tahun 2025, atau senilai total Rp 1,51 triliun. Jumlah ini setara dengan Rp 32,81 per saham, mengalami kenaikan dibandingkan dividen tahun buku 2024 yang tercatat sebesar Rp 1,05 triliun atau Rp 22,78 per saham.

Berdasarkan penutupan perdagangan pada Jumat (8/5/2026) di level Rp 1.910 per saham, dividend yield BRIS diperkirakan berada di angka 1,2%.

Advertisements

Di sisi lain, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (BJTM) juga memutuskan untuk membagikan dividen sebesar Rp 850,18 miliar atau setara Rp 56,62 per saham. Nilai ini menunjukkan pertumbuhan positif dari dividen tahun sebelumnya yang sebesar Rp 54,71 per saham. Secara total, alokasi dividen BJTM mencapai 55% dari laba bersih tahun 2025.

Dengan harga saham BJTM yang ditutup di level Rp 605 per saham (naik 1,68% harian), investor berpeluang menikmati dividend yield yang cukup tinggi, yakni mencapai 9,4%.

Sementara itu, raksasa perbankan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) resmi mencairkan total dividen senilai Rp 52,1 triliun atau Rp 346 per saham hari ini. Jumlah tersebut sudah mencakup dividen interim sebesar Rp 137 per saham yang telah dibayarkan pada Januari 2026.

Cara investasi emas untuk pemula di 2026

Dengan demikian, sisa dividen tunai yang disalurkan BBRI pada hari ini adalah sebesar Rp 209 per saham dengan total nilai Rp 31,47 triliun. Saat ini, BBRI mencatatkan dividend yield terbesar yang menyentuh angka 10,6%, mengingat harga sahamnya telah terkoreksi sekitar 10,93% sejak awal tahun ke posisi Rp 3.260 per saham.

Langkah serupa diambil oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) yang akan membagikan dividen tunai senilai Rp 35,15 triliun pada 25 Mei 2026 mendatang. Setiap pemegang saham akan menerima Rp 376,96 per saham atau sekitar Rp 37.696 per lot. Pada perdagangan terakhir, BMRI parkir di level 4.630 dengan estimasi yield dividen sebesar 8,14%.

Sebelumnya, pada awal April 2026, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) juga telah menuntaskan pembagian dividen sebesar Rp 13,03 triliun. Nilai ini setara dengan 65% dari total laba bersih konsolidasian tahun 2025 yang mencapai Rp 20,04 triliun. Setiap pemegang saham BBNI menerima Rp 349,41 per saham dengan tingkat yield sebesar 9,05%.

Tak ketinggalan, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menetapkan total dividen final tahun buku 2025 sebesar Rp 41,3 triliun, atau setara Rp 336 per saham. Rasio pembayaran dividen (DPR) BCA meningkat menjadi 72%, naik signifikan dibandingkan tahun buku 2024 yang sebesar 67,4%.

OJK Catat Pembiayaan Produktif Fintech Lending Tumbuh 23,40% per Maret 2026

Ekky Topan, Investment Analyst Infovesta Utama, menyoroti bahwa BJTM merupakan salah satu pilihan paling menarik dari sisi dividend yield saat ini. Dengan estimasi yield di kisaran 9,5%–9,6% pada rentang harga saham Rp 590–Rp 595, BJTM menawarkan imbal hasil yang sangat kompetitif.

Selain bank daerah, saham blue chip seperti BBRI dan BMRI tetap menjadi incaran utama para pemburu dividen. Ekky memperkirakan yield BBRI mampu menembus dua digit, sementara BMRI berada di kisaran 8%–9%, tergantung fluktuasi harga pasar.

Secara historis, momen pembagian dividen memberikan sentimen positif jangka pendek. Minat beli biasanya melonjak menjelang cum date. Namun, investor perlu waspada terhadap potensi koreksi harga atau dividend trap saat memasuki masa ex-date akibat penyesuaian nilai dividen.

Di Tengah Tekanan Industri Asuransi Jiwa, BRI Life Menjaga Rasio Klaim

Mengenai prospek sektor perbankan, Ekky memproyeksi pergerakan saham akan cenderung stagnan namun selektif. Meskipun penyaluran kredit per Maret 2026 masih tumbuh 9,49% secara tahunan (YoY), industri tetap menghadapi tantangan berupa tekanan margin bunga (NIM), kenaikan biaya dana (cost of fund), serta kualitas kredit, terutama pada segmen UMKM.

Ekky merekomendasikan investor untuk memperhatikan BJTM di bawah level harga Rp 600 guna mendapatkan margin of safety yang lebih aman, dengan target harga jangka pendek di kisaran Rp 650–Rp 670 per saham.

Saham Big Banks Menguat dalam Sepekan, Simak Rekomendasi Analis

Senada dengan hal tersebut, Senior Analis Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas, menilai daya tarik dividen bank masih kuat meski tidak lagi seagresif periode sebelumnya. Penyempitan margin bunga dan potensi kenaikan biaya pencadangan (cost of credit) dinilai membatasi ruang kenaikan rasio pembayaran dividen ke depannya.

Kendati demikian, fundamental permodalan yang kokoh menjamin keberlanjutan dividen sektor perbankan. Fokus emiten perbankan kini beralih pada stabilitas jangka panjang dibandingkan sekadar mengejar tingkat imbal hasil yang tinggi secara instan.

Ringkasan

Sejumlah bank besar seperti BBRI, BMRI, BBNI, BBCA, serta bank daerah BJTM resmi mengumumkan pembagian dividen tahun buku 2025 dengan nilai yang kompetitif. Koreksi harga saham yang terjadi saat ini justru memberikan peluang bagi investor untuk mendapatkan imbal hasil dividen atau dividend yield yang lebih tinggi. BBRI memimpin dengan potensi yield mencapai 10,6%, sementara BJTM menawarkan yield sekitar 9,4% bagi para pemegang sahamnya.

Analis menilai saham BJTM dan perbankan blue chip tetap menjadi pilihan menarik karena didukung oleh fundamental permodalan yang kokoh meskipun terdapat tantangan tekanan margin bunga. Investor disarankan untuk memperhatikan jadwal cum date guna mengoptimalkan keuntungan sekaligus tetap waspada terhadap risiko dividend trap pada masa ex-date. Secara keseluruhan, sektor perbankan masih menjadi primadona di bursa berkat konsistensi pembagian dividen yang cukup tinggi.

Advertisements

Related Post :