
Sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang tergabung dalam ekspedisi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) menuju Gaza dilaporkan ditangkap oleh otoritas Israel pada Selasa (19/05). Penahanan ini memicu reaksi keras dari berbagai pihak di tanah air, termasuk pimpinan media massa Republika yang dua jurnalisnya turut menjadi tawanan. Pemerintah Indonesia kini didesak untuk menggunakan pengaruhnya di forum internasional guna membebaskan para relawan dan jurnalis tersebut.
Pemimpin Redaksi Republika, Andi Muhyiddin, menegaskan bahwa meski Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Israel, pemerintah tetap memiliki kanal strategis. Ia menyoroti posisi Indonesia di dalam Board of Peace, sebuah forum bentukan mantan Presiden AS Donald Trump yang melibatkan tokoh-tokoh penting dunia.
Indonesia harus mendesak pemerintah Israel untuk segera melepaskan seluruh kapal dan awak misi kemanusiaan internasional yang ditahan, ujar Andi. Ia menambahkan bahwa forum Board of Peace seharusnya bisa menjadi langkah ampuh, mengingat Presiden terpilih Prabowo Subianto pernah berada dalam satu forum dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Donald Trump.
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Indonesia telah mengonfirmasi bahwa mereka telah mengetahui insiden penangkapan sembilan WNI tersebut. Melalui keterangan tertulis, Kemlu menyatakan komitmennya untuk menempuh jalur diplomatik agar para delegasi kemanusiaan ini bisa segera dibebaskan dan dipulangkan ke tanah air.
Di tengah ketidakpastian ini, kisah haru datang dari keluarga para WNI yang ditahan. Hany Hanifah Humanisa, ibunda dari jurnalis foto Republika, Thoudy Bada Rifanbillahi, menceritakan perjuangan batinnya saat mengizinkan sang putra berangkat ke wilayah konflik. Di rumahnya di Bandung, Hany mengaku awalnya sempat ragu memberikan izin.
Namun, melihat dedikasi dan passion besar Thoudy dalam dunia jurnalistik, Hany akhirnya memberikan restu. Thoudy orangnya tenang. Saya hanya khawatir militer Israel (IDF) melakukan tindakan fisik yang membahayakan, ungkap Hany dengan nada cemas.

Kronologi penangkapan bermula pada 18 Mei lalu, ketika pusat misi GSF melaporkan adanya serangan ilegal oleh pasukan Israel di laut lepas. Insiden ini terjadi sekitar 250 mil laut atau 460 kilometer dari Gaza, wilayah yang masuk dalam blokade maritim Israel. Pihak GSF merilis bukti video yang menunjukkan pasukan Israel menembaki kapal mereka, meski tuduhan ini dibantah keras oleh Kementerian Luar Negeri Israel.
Sebaliknya, pihak Israel menuduh rombongan GSF melakukan provokasi dan berupaya membantu kelompok Hamas. Tuduhan ini langsung ditepis oleh GSF yang menegaskan bahwa seluruh armada mereka murni membawa bantuan kemanusiaan tanpa senjata sedikit pun.
Pernyataan senada disampaikan oleh Sutrawati Kaharuddin, ibunda dari Andi Angga Prasadewa, delegasi dari Rumah Zakat asal Makassar yang turut ditangkap. Dengan penuh harap, Sutrawati menegaskan bahwa anaknya bukan seorang kriminal. Dia tidak membawa senjata, dia hanya membawa makanan dan obat-obatan untuk warga Palestina yang sangat membutuhkan, tegasnya.
Perjalanan Thoudy Bada Rifanbillahi sendiri dimulai pada Agustus 2025 saat ia bertolak ke Tunis untuk mengikuti pelatihan dasar misi GSF. Hany mengenang bagaimana anaknya harus melewati seleksi ketat dan pelatihan mitigasi risiko sebelum akhirnya benar-benar berlayar dari Marmaris, Turki, pada 14 Mei lalu bersama 53 partisipan internasional lainnya.
Thoudy, yang dikenal memiliki jiwa profesionalisme tinggi, sempat berkomunikasi dengan ibunya sesaat sebelum hilang kontak. Ia mengabarkan posisinya sudah berada di perairan internasional, sekitar 200 mil dari Gaza. Namun, enam jam setelah pesan terakhir itu, kabar penangkapan justru yang sampai ke telinga keluarga.

Kekhawatiran yang sama juga dirasakan keluarga Andi Angga Prasadewa di Makassar. Angga yang sudah tiga kali menjalankan misi kemanusiaan ke Gaza lewat jalur darat, kali ini mencoba jalur laut demi menembus blokade. Sebelum hilang kontak, Angga sempat mengirimkan pesan melalui adiknya, menyatakan adanya penghalang di depan kapal mereka—sebuah tanda awal pencegatan oleh militer Israel.
Anak saya bukan teroris yang harus diculik, tutur Sutrawati. Ia berharap Presiden terpilih Prabowo Subianto dapat turun tangan langsung menyelamatkan para aktivis kemanusiaan ini. Pihak Rumah Zakat sendiri telah menjalin komunikasi intensif dengan keluarga dan berkomitmen penuh untuk mengupayakan keselamatan Angga.

Sebagai langkah konkret, Global Peace Conference Indonesia telah menyiapkan tim kuasa hukum untuk mendampingi para WNI. Mereka juga berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia di negara-negara sekitar lokasi kejadian, seperti Mesir, Yordania, dan Italia.
Juru Bicara Kemlu, Vahd Nabyl Mulachela, menyatakan bahwa pemerintah Indonesia mendesak Israel untuk menjamin keselamatan seluruh awak kapal dan memastikan bantuan kemanusiaan tetap bisa disalurkan ke Gaza. Kemlu bahkan telah menyiapkan Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP) sebagai antisipasi jika dokumen resmi para WNI disita oleh otoritas Israel.
Upaya pembebasan ini kini menjadi fokus utama diplomasi Indonesia di Timur Tengah. Publik berharap keberadaan jurnalis dan relawan ini di bawah payung misi kemanusiaan internasional dapat menjadi dasar kuat bagi Israel untuk segera melepaskan mereka tanpa syarat.

Ringkasan
Sembilan warga negara Indonesia yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla ditangkap oleh otoritas Israel di perairan internasional saat menuju Gaza. Penangkapan ini melibatkan jurnalis dan relawan yang membawa bantuan berupa makanan serta obat-obatan tanpa membawa senjata. Pihak keluarga dan pimpinan media mendesak pemerintah Indonesia untuk segera mengupayakan pembebasan seluruh tawanan melalui jalur diplomatik strategis.
Kementerian Luar Negeri Indonesia telah mengonfirmasi insiden tersebut dan berkomitmen menempuh berbagai jalur diplomasi guna memastikan keselamatan serta pemulangan para WNI. Pemerintah juga menyiapkan dokumen perjalanan darurat sebagai langkah antisipasi jika paspor para delegasi disita oleh pihak Israel. Saat ini, tim kuasa hukum dan organisasi terkait terus berkoordinasi dengan kedutaan besar di negara-negara sekitar untuk mempercepat proses evakuasi.