Ekonom Nilai Kenaikan Suku Bunga BI Positif untuk Selamatkan Rupiah dan Inflasi

  • Ipank Wima
  • May 20, 2026

Keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,25 persen dinilai oleh sejumlah ekonom sebagai langkah antisipatif yang strategis. Kebijakan ini diambil guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan membentengi ekonomi domestik dari risiko inflasi impor (imported inflation) di tengah eskalasi tekanan ekonomi global. Namun, pengetatan moneter ini dianggap belum cukup menjadi solusi tunggal jika persoalan struktural ekonomi dalam negeri tidak segera dibenahi.

Advertisements

Kepala Ekonom Bank BCA, David Sumual, menjelaskan bahwa langkah BI mengakhiri masa jeda kenaikan suku bunga setelah tujuh kali menahannya merupakan upaya mitigasi terhadap risiko inflasi di masa depan. Menurutnya, bank sentral sedang berusaha bertindak lebih awal sebelum tekanan ekonomi semakin berat atau dikenal dengan istilah ahead of the curve.

“Ekspektasi inflasi cenderung meningkat ke depan. Oleh karena itu, kebijakan BI ini bersifat antisipatif,” ujar David dalam keterangannya pada Rabu (20/5). Ia menambahkan bahwa langkah berani ini berpotensi menyuntikkan sentimen positif ke pasar keuangan, khususnya bagi nilai tukar rupiah yang terus tertekan akibat ketidakpastian global yang meningkat.

Tekanan terhadap mata uang Garuda dipicu oleh berbagai faktor eksternal, mulai dari ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, lonjakan harga energi dunia, hingga tren arus modal keluar (capital outflow) dari pasar negara berkembang. Meskipun kenaikan suku bunga memberikan angin segar, David mengingatkan bahwa penguatan rupiah yang berkelanjutan memerlukan perbaikan pada isu-isu fundamental.

“Sentimennya memang positif bagi rupiah, namun masalah struktural di dalam negeri juga harus segera dibereskan agar dampaknya lebih stabil,” tegasnya. Untuk jangka pendek, ia memproyeksikan rupiah masih akan menghadapi tantangan berat dengan kisaran nilai tukar berada di angka Rp 17.500 hingga Rp 18.000 per dolar AS dalam satu bulan ke depan.

Advertisements

Pandangan senada disampaikan oleh Ekonom Bank Danamon, Hosianna Evalita Situmorang. Ia menilai kenaikan suku bunga yang melampaui ekspektasi pasar ini menunjukkan komitmen kuat BI dalam memprioritaskan stabilitas nilai tukar. Berdasarkan analisis Danamon, pelemahan rupiah terhadap dolar AS yang telah mencapai 5,7 persen secara year-to-date (ytd) menjadi alarm bagi potensi lonjakan harga barang di tingkat konsumen.

Depresiasi rupiah yang berlebihan dikhawatirkan akan memicu kenaikan harga berbagai komoditas penting, seperti BBM nonsubsidi (Pertamax 92 dan Pertamax Green 95), tarif listrik, serta bahan pangan seperti daging merah dan gandum, hingga produk berbahan plastik. “Pergeseran ke arah kebijakan moneter yang lebih ketat ini adalah upaya BI untuk tetap selangkah di depan risiko demi meredam inflasi impor,” kata Hosianna.

Selain menaikkan suku bunga, BI juga memperkuat bauran kebijakan dengan mengintensifkan intervensi di pasar valuta asing (valas). Langkah pendukung lainnya meliputi kenaikan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) tenor 12 bulan menjadi 6,45 persen, serta melanjutkan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) untuk memastikan likuiditas dan stabilitas pasar keuangan tetap terjaga.

Di sisi lain, meskipun kebijakan moneter diperketat, Bank Indonesia tetap mempertahankan kebijakan makroprudensial yang akomodatif. Melalui pemberian insentif likuiditas tambahan dan pelonggaran aturan intermediasi, BI berupaya agar penyaluran kredit perbankan tetap mengalir deras guna menopang roda pertumbuhan ekonomi nasional agar tidak melambat di tengah tantangan global.

Ringkasan

Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,25 persen sebagai langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan membentengi ekonomi domestik dari risiko inflasi impor. Kebijakan yang bersifat ahead of the curve ini dinilai positif oleh para ekonom sebagai upaya mitigasi terhadap ketidakpastian global serta tekanan arus modal keluar. Langkah tersebut juga didukung dengan penguatan intervensi pasar valuta asing dan peningkatan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Meskipun pengetatan moneter dilakukan, Bank Indonesia tetap mempertahankan kebijakan makroprudensial yang akomodatif untuk memastikan penyaluran kredit perbankan tetap mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Namun, para ekonom mengingatkan bahwa kenaikan suku bunga bukanlah solusi tunggal, sehingga perbaikan masalah struktural dalam negeri tetap diperlukan untuk penguatan nilai tukar yang berkelanjutan. Saat ini, depresiasi rupiah tetap diwaspadai karena berpotensi memicu lonjakan harga barang konsumsi dan komoditas penting di tengah masyarakat.

Advertisements

Related Post :