IHSG terkoreksi, pasar dibayangi ketidakpastian global dan tekanan jual

  • Ipank Wima
  • May 16, 2026

JAKARTA – Pasar saham Asia sepanjang pekan ini diwarnai oleh volatilitas tinggi seiring meningkatnya ketidakpastian global yang menekan sentimen investor. Kondisi ini turut berdampak pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di dalam negeri yang tertekan cukup dalam, sehingga mencatatkan pelemahan mingguan yang signifikan.

Advertisements

Pada perdagangan Rabu (13/5/2026), IHSG ditutup melemah 1,98% ke level 6.723,32. Secara akumulatif, indeks domestik ini telah terkoreksi sebesar 3,53% dalam kurun waktu satu pekan.

Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai bahwa tekanan pada pasar regional sangat dipengaruhi oleh perkembangan hubungan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China. Fokus pelaku pasar saat ini tertuju pada ekspektasi pertemuan antara Donald Trump dan Xi Jinping.

Wall Street Ambruk, Lonjakan Harga Minyak dan Ancaman Inflasi Guncang Pasar

Menurut Nafan, ketidakpastian kebijakan tarif impor menjadi perhatian utama karena berpotensi menghambat prospek pertumbuhan ekonomi global. Selain isu perdagangan, investor juga mencermati dinamika harga minyak dunia, data tenaga kerja AS, serta arah kebijakan suku bunga global.

Advertisements

Nafan menambahkan bahwa inflasi yang masih persisten di negara-negara maju memaksa bank sentral untuk cenderung mempertahankan kebijakan moneter ketat dalam jangka waktu yang lebih lama dari perkiraan semula. Tekanan inflasi global ini turut diperburuk oleh konflik geopolitik di Timur Tengah yang memicu kenaikan biaya energi dan komoditas, atau yang dikenal dengan imported inflation.

Tekanan terhadap IHSG juga datang dari faktor internal dan dinamika pasar domestik. Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengamati bahwa pasar saham Indonesia didominasi oleh aksi jual oleh investor sepanjang pekan ini.

Sentuh Level Terendah Sepanjang Sejarah, Begini Prospek Rupiah ke Depan

Herditya menjelaskan bahwa dominasi tekanan jual ini dipicu oleh kombinasi faktor eksternal. Selain inflasi AS yang tinggi dan ekspektasi suku bunga yang bertahan lama, dampak dari rebalancing indeks global turut memicu arus keluar dana asing (capital outflow).

Faktor lain yang memperberat langkah IHSG adalah pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh kisaran Rp 17.500 per dolar AS. Selain itu, durasi perdagangan yang lebih singkat di pekan ini juga dianggap berkontribusi terhadap volatilitas di pasar saham domestik.

Menatap awal pekan depan, Nafan memproyeksikan IHSG berpotensi melakukan penyesuaian harga. Pergerakan indeks diperkirakan akan mengejar ketertinggalan (catch-up) terhadap kinerja bursa global yang terjadi selama periode libur panjang di dalam negeri.

Ringkasan

IHSG ditutup melemah signifikan ke level 6.723,32 dengan akumulasi koreksi mingguan mencapai 3,53% akibat tingginya volatilitas pasar global. Tekanan utama dipicu oleh ketidakpastian hubungan dagang antara Amerika Serikat dan China serta kekhawatiran terhadap kebijakan tarif yang menghambat pertumbuhan ekonomi. Selain itu, inflasi global yang persisten dan konflik geopolitik di Timur Tengah turut mendorong bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi.

Kinerja pasar domestik juga terbebani oleh aksi jual investor, arus keluar dana asing, serta pelemahan nilai tukar rupiah yang menyentuh level Rp 17.500 per dolar AS. Durasi perdagangan yang singkat di pekan ini ikut memberikan kontribusi terhadap meningkatnya volatilitas indeks. Namun, IHSG diproyeksikan akan melakukan penyesuaian harga pada awal pekan depan guna mengejar ketertinggalan dari kinerja bursa global.

Advertisements

Related Post :