
Peristiwa Mei 1998 meninggalkan jejak trauma yang mendalam bagi warga Tionghoa di Indonesia. Namun, di balik bayang-bayang kelam tersebut, muncul semangat baru dari lintas generasi untuk bertahan, berdamai dengan masa lalu, dan membangun harapan yang lebih inklusif.
Fotografer Juliana Tan mencoba merangkai kembali ingatan masa kecilnya yang tercerabut melalui buku foto bertajuk A Kind of Magic. Bagi Juliana, fotografi bukan sekadar seni, melainkan sebuah portal untuk memanggil kembali memori yang hilang. “Meski masa kecil saya tidak akan kembali, saya bisa menciptakan portal melalui fotografi untuk memulihkan ingatan. Ini memberi saya harapan untuk melangkah maju dengan belajar dari masa lalu,” ungkapnya.
Kisah Juliana mencerminkan pengalaman banyak orang. Saat berusia sembilan tahun di Bandung, ia terpaksa meninggalkan rumahnya secara mendadak menuju Singapura di tengah kecamuk kerusuhan. Pengalaman serupa, meski dalam bentuk yang berbeda, dirasakan oleh generasi setelah reformasi seperti Charlenne, yang tumbuh dalam bayang-bayang kehati-hatian, serta penyintas lain seperti Henita asal Tebing Tinggi, yang hingga kini masih menyimpan luka dan pertanyaan mengenai keadilan.
Menemukan Ruang Aman di Tengah Trauma
Proses kreatif Juliana dalam buku tersebut berlangsung selama satu dekade dan ditutup saat sang ayah wafat pada 2022. Buku yang awalnya bersifat personal ini justru memicu diskusi luas saat diluncurkan di Glodok pada 2025. Pertemuan tersebut menjadi ruang hangat bagi penyintas dari berbagai latar belakang etnis untuk saling berbagi cerita. Glodok, yang dulunya menjadi titik amuk massa, seolah bertransformasi menjadi ruang aman yang menjembatani trauma kolektif.
Bagi Juliana, pendekatan yang lembut jauh lebih efektif daripada sekadar mengulas kepahitan. “Saya lebih suka cara yang subtil. Saya ingin pembaca berjalan bersama saya di kota imajinasi melalui foto-foto yang menangkap memori berharga,” tuturnya. Ia menegaskan bahwa sejarah memang harus dirawat, namun pemulihan sejati lahir dari upaya membangun resiliensi dan jaminan rasa aman yang inklusif.
Residu Trauma dan Upaya Keluar dari Segregasi
Charlenne Kayla Roeslie mengungkapkan bahwa bibit segregasi yang dipupuk sejak era kolonial hingga Orde Baru masih membekas hingga kini. Hal ini menciptakan mentalitas stay low atau kecenderungan untuk menghindari konflik di kalangan komunitas Tionghoa. Bentuk hunian dengan pagar tinggi dan teralis sering kali menjadi simbol dari upaya mencari keamanan yang ideal akibat residu trauma yang diwariskan lintas generasi.
Henita, yang saat 1998 berstatus mahasiswa di Sumatra Utara, menceritakan bagaimana ia dan warga di sekitar Kampung Madras terpaksa melakukan penjagaan mandiri. Meskipun merasa sedih karena toko keluarganya dijarah, ia menegaskan pentingnya pengakuan atas hak sebagai warga negara. “Kami adalah warga negara Indonesia. Sedih rasanya jika setiap kali krisis terjadi, warga Tionghoa selalu menjadi sasaran,” ujarnya.
Menuju Partisipasi Politik dan Solidaritas Baru
Pergeseran cara pandang mulai terlihat pada generasi Z seperti Charlenne. Ia merasa memiliki keleluasaan lebih untuk keluar dari bubble sosialnya. Partisipasi dalam aktivisme dan advokasi dianggap sebagai strategi untuk menunjukkan bahwa etnis Tionghoa adalah bagian tak terpisahkan dari bangsa Indonesia yang nasionalis.
Charlotte Setijadi dalam bukunya Memories of Unbelonging mencatat bahwa peningkatan partisipasi politik warga Tionghoa pasca-Suharto merupakan upaya untuk melindungi kepentingan sekaligus menjamin keselamatan komunitas. Aktivisme ini terlihat nyata dalam berbagai gerakan solidaritas, seperti #WargaJagaWarga saat aksi demonstrasi pada 2025, di mana warga lintas etnis saling melindungi tanpa memandang latar belakang.
Virdinda Achmad dari Duta Aksi Nusantara menekankan bahwa kesadaran kolektif adalah kunci untuk melawan sentimen rasialisme. “Selama kita bukan penguasa yang memiliki jabatan dan senjata, kita semua berangkat dari nasib dan keresahan yang sama,” tegasnya. Pada akhirnya, melalui welas asih dan pengakuan akan kemanusiaan yang setara, harapan untuk masa depan yang lebih harmonis terus dirajut, memutus rantai kebencian yang pernah memecah belah bangsa.
- Menyelisik laporan pemerkosaan massal Mei 1998 – ‘Apa granat masih kurang?’
- Trauma kerusuhan 1998 usai rentetan aksi penjarahan – ‘Rumah dijaga TNI bisa dijarah, bagaimana rumah rakyat biasa?’
- Turun ke jalan sampai terjebak kerusuhan: Apa yang terjadi di kota Anda pada Mei 1998?
- Kerusuhan Mei 1998: ‘26 tahun masalah kekerasan seksual terhadap perempuan Indonesia disangkal’
- Tragedi Mei 1998: Kenangan dua ibu yang kehilangan anaknya
- Hari-hari jelang Reformasi 1998 dalam gambar dan catatan
- Kerusuhan Mei 1998: “Apa salah kami sampai (diancam) mau dibakar dan dibunuh?”
- Penjarahan rumah pejabat dan korban tewas bermunculan – Akankah berujung seperti krisis 1998?
- Kisah warga keturunan Tionghoa yang menetap di luar negeri usai kerusuhan Mei 1998 dan mereka yang memutuskan kembali ke Indonesia – ‘Semoga pemerintah tidak hapus sejarah’
- Korban kerusuhan Mei 1998, bagaimana kondisi mereka kini?
- Reformasi 20 tahun lalu dan sejumlah langkah mundur demokrasi Indonesia
Ringkasan
Peristiwa kerusuhan Mei 1998 meninggalkan trauma mendalam bagi warga Tionghoa, yang memicu munculnya mentalitas untuk menjaga jarak dan mencari keamanan secara mandiri. Melalui karya seni seperti buku foto A Kind of Magic karya Juliana Tan, para penyintas berupaya memproses memori kelam tersebut sebagai langkah awal untuk berdamai dengan masa lalu dan memulihkan ingatan kolektif. Upaya ini mengubah lokasi-lokasi yang dulu menjadi pusat kerusuhan, seperti Glodok, menjadi ruang diskusi inklusif bagi berbagai latar belakang etnis.
Generasi muda saat ini, seperti Charlenne, mulai keluar dari batasan sosial dengan terlibat aktif dalam partisipasi politik dan gerakan solidaritas lintas etnis. Langkah ini menjadi bentuk perlawanan terhadap segregasi dan upaya untuk mempertegas identitas sebagai bagian integral dari bangsa Indonesia. Melalui kesadaran kolektif dan welas asih, masyarakat terus berupaya membangun masa depan yang lebih harmonis serta memutus rantai trauma antargenerasi.