Multifinance waspadai dampak kenaikan BI rate terhadap penyaluran pembiayaan

  • Ipank Wima
  • May 28, 2026

Balihow JAKARTA. Sejumlah pelaku industri multifinance kini tengah bersiap menghadapi dinamika pasar menyusul kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%. Langkah moneter ini diprediksi akan membawa tekanan signifikan, terutama pada sisi biaya pendanaan perusahaan serta daya beli masyarakat yang berpotensi terkontraksi hingga akhir tahun.

Advertisements

Presiden Direktur PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF), Ristiawan Suherman, mengungkapkan bahwa kenaikan BI Rate memberikan dampak berantai terhadap industri pembiayaan. Menurutnya, kondisi ini secara tidak langsung memengaruhi minat masyarakat dalam mengajukan pembiayaan serta kemampuan debitur dalam memenuhi kewajiban pembayarannya.

“BI Rate yang kini berada di level 5,25% memberikan pengaruh terhadap industri, terutama dari aspek permintaan pembiayaan dan kapasitas bayar nasabah,” jelas Ristiawan pada Jumat (22/5/2026). Ia juga menambahkan bahwa tren suku bunga tinggi berisiko meningkatkan biaya pendanaan (cost of fund) bagi perusahaan. Meski demikian, CNAF berkomitmen untuk menjaga keseimbangan antara profitabilitas dan kualitas portofolio pembiayaan.

Dalam menyiasati penetapan bunga kepada nasabah, CNAF menerapkan metode risk based pricing. Dengan pendekatan ini, besaran suku bunga yang diberikan kepada setiap debitur akan bervariasi tergantung pada profil risiko masing-masing. Strategi ini diharapkan mampu menjaga portofolio tetap sehat, terukur, dan tumbuh positif meskipun daya beli masyarakat tengah tertekan. CNAF juga akan lebih selektif dan mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam menyalurkan pembiayaan baru.

Kondisi serupa juga menjadi perhatian PT BRI Multifinance Indonesia atau BRI Finance. Kenaikan BI Rate menjadi faktor penentu dalam strategi penetapan harga (pricing) perusahaan. Corporate Secretary BRI Finance, Aditia Fakhri Ramadhani, menyatakan bahwa penyesuaian bunga pembiayaan akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan dinamika pasar dan daya saing perusahaan.

Advertisements

“Target penyaluran pembiayaan tahun ini akan dijalankan secara selektif dengan fokus pada kualitas aset,” ujar Aditia. Untuk menjaga tren pertumbuhan, BRI Finance mengusung strategi selective growth dan prudent financing. Perusahaan juga mengoptimalkan sinergi captive market serta skema joint financing bersama Grup BRI. Selain itu, langkah efisiensi biaya dan penguatan manajemen risiko melalui pemantauan kualitas aset secara ketat terus dilakukan guna memitigasi risiko kredit bermasalah.

Di sisi lain, PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance) menilai bahwa kenaikan suku bunga acuan tidak hanya berdampak pada internal perusahaan, tetapi juga menggeser perilaku konsumen. Chief Financial Officer Adira Finance, Sylvanus Gani, mengamati bahwa konsumen cenderung lebih berhati-hati dan memilih untuk menunda keputusan pembelian besar demi menjaga stabilitas finansial pribadi mereka.

“Kenaikan BI Rate menjadi 5,25% adalah faktor krusial yang kami cermati dalam memetakan prospek pembiayaan di sisa tahun ini,” kata Sylvanus. Walaupun ada tekanan, ia optimis kebutuhan masyarakat akan pembiayaan tetap ada, khususnya untuk menunjang mobilitas dan kegiatan produktif.

Terkait kebijakan bunga, Adira Finance menegaskan bahwa penyesuaian tidak dilakukan secara otomatis. Perusahaan mempertimbangkan berbagai variabel seperti segmentasi produk, profil risiko konsumen, hingga tingkat persaingan di pasar sebelum mengambil keputusan. Sebagai langkah antisipasi, Adira Finance fokus pada pengelolaan margin yang disiplin, diversifikasi sumber pendanaan, serta peningkatan efisiensi operasional guna memastikan risiko kredit tetap terkendali.

Advertisements

Related Post :