
JAKARTA. Indeks Kompas100 tengah menghadapi tekanan signifikan di tengah tingginya volatilitas pasar modal. Meski demikian, di balik pelemahan ini, sejumlah analis justru melihat adanya peluang emas untuk mengakumulasi saham-saham unggulan yang kini memiliki valuasi murah dan berpotensi memimpin pemulihan pasar di masa mendatang.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks Kompas100 mencatatkan koreksi sebesar 32,35% secara year to date (ytd) hingga 29 Mei 2026, membawanya ke level 807,375. Penurunan ini terbilang lebih dalam jika dibandingkan dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang melemah 29,14% ytd ke posisi 6.127,381.
Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan, menjelaskan bahwa tekanan pada Kompas100 tidak hanya dipicu oleh satu atau dua saham berkapitalisasi besar. Menurutnya, karakter indeks yang dihuni oleh saham-saham likuid dan menjadi acuan investor institusi membuat Kompas100 jauh lebih rentan terhadap aksi jual saat kondisi pasar sedang bergejolak.
Selain faktor likuiditas, tekanan tambahan juga berasal dari sentimen rebalancing indeks MSCI, isu free float, transparansi kepemilikan saham, hingga derasnya arus keluar dana asing (outflow). Kombinasi antara pelemahan saham big caps, emiten sektor komoditas, grup konglomerasi, serta perubahan komposisi indeks global semakin memperburuk performa Kompas100.
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menambahkan bahwa beban terberat indeks berasal dari saham-saham berbobot besar yang sedang berada dalam tren tekanan pasar, seperti BREN, TPIA, dan CUAN. Di sisi lain, banyak saham yang terdepak dari indeks MSCI juga merupakan anggota tetap dari Kompas100, sehingga berdampak langsung pada pergerakannya.
Meski dihadapkan pada tantangan berat, kedua analis optimistis bahwa peluang pemulihan tetap terbuka lebar. Wafi memproyeksikan bahwa rebound dapat terjadi setelah proses rebalancing MSCI tuntas dan kekhawatiran pasar terhadap potensi penurunan status pasar modal Indonesia mulai mereda. Kepastian arah kebijakan fiskal pemerintah serta penguatan nilai tukar Rupiah juga akan menjadi katalis positif yang menentukan laju pemulihan.
Wafi berpendapat bahwa Kompas100 memiliki potensi untuk kembali mengungguli IHSG saat saham-saham yang sudah tertekan secara berlebihan mulai mendapatkan penilaian ulang (re-rating) dari pasar. Kondisi ini biasanya terjadi ketika investor kembali meningkatkan porsi investasi mereka pada aset berisiko.
Senada dengan hal tersebut, Ekky Topan melihat tekanan akibat rebalancing MSCI mulai menunjukkan tanda-tanda mereda, sehingga perhatian pelaku pasar perlahan-lahan kembali tertuju pada fundamental masing-masing emiten. Saat ini, sejumlah saham berkualitas dinilai telah diperdagangkan pada valuasi yang sangat menarik, menjadikannya incaran utama investor saat sentimen pasar membaik.
Sektor Perbankan Jadi Pilihan Utama
Dalam memetakan prospek pemulihan Kompas100, saham perbankan berkapitalisasi besar menjadi sektor yang paling banyak direkomendasikan. Wafi menilai saham perbankan seperti BBCA dan BMRI sangat menarik karena valuasinya kini lebih atraktif. Sementara itu, Ekky menempatkan BBCA, BMRI, dan BBRI sebagai motor penggerak utama Kompas100 karena ketiga saham ini tetap menjadi tujuan utama aliran dana asing.
Selain perbankan, sektor konsumer juga diprediksi mampu menopang penguatan indeks. Emiten seperti INDF, ICBP, KLBF, dan AMRT dianggap memiliki karakteristik defensif dengan permintaan yang stabil di tengah ketidakpastian ekonomi. Untuk sektor perunggasan (poultry), Ekky menjagokan CPIN berkat prospek pemulihan konsumsi domestik serta perbaikan margin usaha.
Bagi investor yang memprioritaskan pendapatan dividen, saham sektor komoditas seperti AADI, PTBA, dan ANTM dinilai masih menawarkan imbal hasil dividen yang kompetitif. Sementara di sektor infrastruktur digital, saham menara telekomunikasi seperti TOWR dan TBIG dipandang menjanjikan karena didukung oleh kontrak jangka panjang yang stabil dengan operator seluler.
Mengingat volatilitas pasar yang masih tinggi, para analis menyarankan investor untuk tidak terburu-buru melakukan pembelian dalam jumlah besar. Strategi yang paling tepat saat ini adalah melakukan akumulasi secara bertahap atau buy on weakness pada saham-saham dengan fundamental kokoh.
Investor juga disarankan untuk memprioritaskan emiten yang memiliki free float di atas 15%, rasio utang yang rendah, serta visibilitas pendapatan yang jelas. Sebaliknya, saham dengan konsentrasi kepemilikan yang terlalu tinggi dan memiliki risiko terhadap perubahan kebijakan tertentu sebaiknya dihindari untuk sementara waktu.
Berikut adalah beberapa saham unggulan yang direkomendasikan oleh Muhammad Wafi:
- BBCA: Target harga Rp10.500 per saham
- BMRI: Target harga Rp5.800 per saham
- INDF: Target harga Rp6.500 per saham
- AADI: Target harga Rp9.850 per saham
- ANTM: Target harga Rp3.880 per saham
Sementara itu, Ekky Topan memberikan rekomendasi saham sebagai berikut:
- BBCA: Target harga Rp7.700 per saham
- PGAS: Target harga Rp2.250 – Rp2.350 per saham
- CPIN: Target harga Rp5.050 – Rp5.250 per saham
- TLKM: Target harga Rp3.600 – Rp3.650 per saham
- ICBP dan KLBF: Sebagai pilihan defensif untuk menghadapi fluktuasi pasar.
Dengan valuasi yang mulai menarik dan tekanan teknikal yang diperkirakan akan segera mereda, saham-saham berfundamental kuat di dalam indeks Kompas100 memiliki peluang besar untuk menjadi yang pertama bangkit saat sentimen pasar kembali positif.
Ringkasan
Indeks Kompas100 mencatatkan koreksi sebesar 32,35% secara year to date akibat tingginya volatilitas pasar dan aksi jual investor institusi. Tekanan ini dipicu oleh sentimen rebalancing indeks MSCI, arus keluar dana asing, serta pelemahan sejumlah saham berkapitalisasi besar. Meskipun terkoreksi lebih dalam dari IHSG, kondisi saat ini dinilai menciptakan peluang akumulasi pada saham-saham unggulan dengan valuasi yang sudah murah.
Analis merekomendasikan sektor perbankan seperti BBCA dan BMRI serta sektor konsumer defensif sebagai pilihan utama untuk menopang pemulihan indeks. Saham sektor komoditas dan infrastruktur digital juga tetap menarik diperhatikan bagi investor yang mengincar dividen kompetitif dan stabilitas jangka panjang. Investor disarankan untuk melakukan akumulasi secara bertahap atau strategi buy on weakness pada emiten yang memiliki fundamental kokoh.