Rupiah melemah, dana asing kabur, Mirae Asset sebut rebound IHSG masih rapuh

  • Ipank Wima
  • May 27, 2026

Pasar Keuangan Indonesia Masih Rentan Hadapi Tekanan Multidimensi

Advertisements

Pasar keuangan domestik belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang solid. Didera pelemahan nilai tukar rupiah, arus keluar dana asing yang berkelanjutan, dan kekhawatiran perlambatan ekonomi global, PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia memandang kondisi pasar Indonesia saat ini masih berada dalam fase yang rentan.

Gambaran nyata dari tekanan ini tercermin jelas dari kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang pekan lalu. Dalam periode perdagangan 18 hingga 22 Mei 2026, IHSG dilaporkan anjlok drastis sebesar 8,35 persen, dan harus puas ditutup pada level 6.162,04.

Koreksi tajam tersebut tidak hanya sebatas angka di layar perdagangan. Kapitalisasi pasar saham Indonesia turut terpangkas signifikan sebesar 10,07 persen, menyusut menjadi Rp10.635 triliun. Dalam satu pekan saja, nilai pasar saham Indonesia lenyap sekitar Rp1.190 triliun.

Tekanan terbesar yang membebani pasar saham Tanah Air berasal dari kombinasi sentimen eksternal dan dinamika teknikal pasar. Salah satu pemicu utama adalah proses rebalancing indeks MSCI yang dijadwalkan efektif berlaku mulai 1 Juni 2026.

Advertisements

Dalam penyesuaian indeks MSCI tersebut, enam saham emiten Indonesia akan dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index. Langkah ini diperkirakan akan memicu potensi arus keluar modal asing (foreign outflow) dari pasar domestik, dengan estimasi mencapai USD 1,7 miliar.

Risiko yang dicermati pasar tidak berhenti di situ. Kekhawatiran yang lebih mendalam juga mengemuka terkait kemungkinan penurunan status Indonesia dari emerging market menjadi frontier market, apabila persoalan struktural pasar modal domestik tidak segera mendapatkan solusi.

Meski demikian, pada perdagangan Senin (25/5), IHSG sempat menunjukkan tanda-tanda bangkit. Indeks berhasil ditutup menguat tipis 0,72 persen ke level 6.206,35. Penguatan ini didorong oleh kinerja sejumlah saham berkapitalisasi besar, seperti AMMN, BBRI, dan BBCA.

Namun, penguatan yang terjadi pada hari itu belum cukup untuk mengubah sentimen pasar secara keseluruhan. Data menunjukkan, investor asing masih mencatatkan net sell atau jual bersih senilai sekitar Rp2,2 triliun menjelang implementasi rebalancing MSCI.

Di sisi lain, tekanan terhadap mata uang rupiah juga belum menunjukkan mereda. Nilai tukar Rupiah kembali tertekan dan melemah ke level Rp17.744 per dolar Amerika Serikat.

Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai bahwa penguatan pasar yang terjadi saat ini belum dapat diartikan sebagai pemulihan yang solid. Menurutnya, rebound yang terlihat lebih bersifat teknikal semata.

“Selama volatilitas Rupiah masih tinggi dan foreign outflow belum mereda, investor global cenderung tetap mengambil posisi defensif terhadap aset domestik. Penguatan pasar saat ini masih relatif rapuh,” ungkap Rully.

Lebih lanjut, Rully menjelaskan bahwa perhatian investor kini mulai bergeser dari fokus sebelumnya. Jika sebelumnya pasar lebih tertuju pada isu inflasi dan arah kebijakan suku bunga, kini kekhawatiran utama mulai mengarah pada daya tahan pertumbuhan ekonomi domestik.

Salah satu indikator yang dicermati oleh pelaku pasar adalah fenomena flattening yield curve atau pendataran kurva imbal hasil obligasi. Kondisi ini dinilai menjadi sinyal bahwa pasar mulai mengantisipasi potensi perlambatan pertumbuhan ekonomi di masa mendatang.

Kenaikan yield pada tenor pendek, pasca Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin, menunjukkan adanya pengetatan likuiditas domestik. Sementara itu, yield pada tenor panjang yang relatif tertahan memberikan sinyal bahwa pasar mulai memperhitungkan risiko perlambatan ekonomi dalam jangka menengah.

“Pasar kini memasuki fase di mana investor tidak hanya memperhatikan arah pergerakan suku bunga, tetapi juga keberlanjutan (sustainability) pertumbuhan ekonomi domestik, terutama di tengah biaya dana yang meningkat dan tekanan eksternal yang masih tinggi,” tambah Rully.

Tekanan terhadap pasar domestik tidak hanya bersumber dari faktor eksternal, tetapi juga dari sisi fundamental ekonomi Indonesia. Fixed Income Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Jessica Tasijawa, menyoroti pelebaran defisit Neraca Pembayaran Indonesia (NPI).

Pada kuartal I 2026, defisit NPI tercatat mencapai USD 9,1 miliar. Sementara itu, defisit transaksi berjalan juga dilaporkan melebar menjadi 1,1 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), yang merupakan level terdalam sejak kuartal III 2020.

Menurut Jessica, pelemahan nilai tukar rupiah tidak semata-mata dipicu oleh faktor global. Ketidakseimbangan fundamental eksternal domestik juga mulai memberikan tekanan tambahan yang signifikan.

Situasi ini diperparah oleh melemahnya permintaan ekspor dari sejumlah mitra dagang utama Indonesia. Negara-negara seperti China, Jepang, dan Korea Selatan dilaporkan mengalami perlambatan permintaan yang turut memengaruhi tekanan terhadap pasar ekspor Indonesia.

Sebagai respons terhadap kondisi ini, pemerintah bersama Bank Indonesia telah menyiapkan implementasi kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) Sumber Daya Alam (SDA) yang dijadwalkan mulai 1 Juni 2026. Aturan baru ini mewajibkan para eksportir untuk menempatkan devisa hasil ekspor mereka di dalam negeri selama jangka waktu 12 bulan.

Selain itu, sebanyak 50 persen dari hasil ekspor juga diwajibkan untuk dikonversikan menjadi rupiah melalui bank-bank domestik. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan permintaan terhadap mata uang nasional.

“Efektivitas implementasi kebijakan DHE SDA ini akan menjadi salah satu faktor kunci yang akan dicermati secara seksama oleh pasar dalam beberapa bulan ke depan,” tutup Jessica.

Di tengah berbagai tekanan yang dihadapi, Mirae Asset memproyeksikan Bank Indonesia kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga acuan di level 5,25 persen hingga akhir tahun 2026. Fokus utama kebijakan moneter Bank Indonesia diarahkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus mempertahankan daya tarik yield aset domestik bagi para investor.

Ringkasan

Pasar keuangan Indonesia masih rentan terhadap tekanan multidimensi, termasuk pelemahan rupiah dan arus keluar dana asing. IHSG anjlok 8,35% pada pekan lalu, dengan kapitalisasi pasar terpangkas Rp1.190 triliun, sebagian dipicu oleh rebalancing indeks MSCI yang berpotensi menguras modal asing senilai USD 1,7 miliar.

Penguatan tipis IHSG pada Senin (25/5) masih bersifat teknikal, sebab investor asing mencatat net sell Rp2,2 triliun dan rupiah kembali tertekan ke Rp17.744 per dolar AS. Kekhawatiran beralih ke daya tahan ekonomi domestik, tercermin dari flattening yield curve dan pelebaran defisit Neraca Pembayaran Indonesia. Kebijakan Devisa Hasil Ekspor SDA mulai 1 Juni 2026 diharapkan dapat menopang permintaan rupiah.

Advertisements