Rupiah Melemah ke Rp17.502 per Dolar AS, Ini Penyebab Utamanya

  • Ipank Wima
  • May 14, 2026

JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (14/5/2026) pagi. Pelemahan ini terjadi seiring dengan perkasa-nya mata uang Negeri Paman Sam yang terdorong oleh lonjakan imbal hasil obligasi AS serta ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Advertisements

Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.09 WIB, rupiah terdepresiasi sebesar 0,15% ke level Rp 17.502 per dolar AS, dibandingkan penutupan perdagangan hari Rabu (13/5/2026) yang berada di posisi Rp 17.476 per dolar AS.

Daftar Harga Emas Antam Hari Ini (14/5/2026): Stabil di Rp 2.839.000 Per Gram

Penguatan dolar AS dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap inflasi yang masih persisten di Amerika Serikat. Selain itu, ketegangan geopolitik yang kembali memanas di Timur Tengah turut mendorong permintaan investor terhadap aset aman (safe haven) seperti dolar AS. Mengutip data Reuters, indeks dolar AS saat ini berada di level 98,46, mencatatkan kenaikan sekitar 0,63% sepanjang pekan ini.

Di sisi lain, perhatian dunia tertuju pada pertemuan strategis antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing. Pertemuan ini dianggap krusial untuk menjaga stabilitas hubungan dagang kedua negara serta membahas isu geopolitik yang sensitif, termasuk konflik di Iran dan kebijakan penjualan senjata AS ke Taiwan.

Advertisements

Sementara itu, di pasar Asia, yuan offshore China menunjukkan ketahanan dengan bertahan di level tertinggi dalam tiga tahun terakhir, diperdagangkan di kisaran 6,7860 per dolar AS. Analis Barclays memprediksi yuan akan tetap stabil dalam jangka pendek, yang diharapkan dapat menciptakan iklim kondusif dalam dialog AS-China. Meski demikian, otoritas China diyakini akan tetap mengawasi pergerakan ini agar penguatan yuan tidak terjadi terlalu cepat melalui intervensi pasar.

Bursa Asia Bergerak Variatif Kamis (14/5) Pagi, Pasar Tunggu Hasil Pertemuan Trump-Xi

Di pasar global, mata uang euro tampak relatif stabil di level US$ 1,1716, namun berisiko mencatatkan pelemahan mingguan terbesar dalam dua bulan terakhir. Pound sterling pun masih tertekan di posisi US$ 1,3527 akibat ketidakpastian politik di Inggris. Sebaliknya, terhadap yen Jepang, dolar AS sedikit melemah 0,04% ke level 157,83 yen di tengah kewaspadaan pasar akan adanya intervensi dari otoritas Jepang.

Pasar Modal RI Kena Sorotan, FTSE Russell Coret Saham HSC Juni 2026

Sentimen ekonomi domestik AS turut memperkuat dolar, terutama setelah rilis data indeks harga produsen (PPI) April yang menunjukkan kenaikan tertinggi dalam empat tahun terakhir. Tren ini menyusul data inflasi konsumen yang juga berada pada laju tercepat dalam tiga tahun terakhir.

Analis strategi mata uang Commonwealth Bank of Australia, Carol Kong, menilai data inflasi ini tidak akan disambut baik oleh para pejabat FOMC, termasuk Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, yang resmi menggantikan Jerome Powell pada Rabu (13/5/2026) melalui persetujuan Senat AS. Kong memproyeksikan The Fed berpeluang memulai siklus pengetatan suku bunga mulai Desember 2026, dengan potensi kenaikan sebanyak tiga kali dalam periode tersebut.

Optimisme kenaikan suku bunga ini tecermin dalam CME FedWatch Tool, di mana peluang kenaikan suku bunga pada Desember kini melonjak ke angka 31,8%, jauh lebih tinggi dibandingkan posisi 16% pada pekan lalu. Hal ini secara langsung mendongkrak imbal hasil obligasi AS, di mana yield tenor dua tahun berada di level 3,9750%, sementara yield tenor 10 tahun bertahan di 4,4669% atau mendekati level tertinggi dalam satu tahun terakhir.

Harga Saham Anjlok 39%, Saham Orang Terkaya RI Ini Akan Bagi Dividen Rp 500 M Lebih

Ringkasan

Nilai tukar rupiah melemah sebesar 0,15% ke level Rp17.502 per dolar AS pada perdagangan Kamis (14/5/2026) pagi. Depresiasi ini dipicu oleh penguatan dolar AS seiring lonjakan imbal hasil obligasi dan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed. Selain itu, inflasi yang tetap persisten di Amerika Serikat serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut menekan nilai mata uang domestik.

Sentimen penguatan dolar semakin solid setelah rilis data indeks harga produsen (PPI) AS yang mencatatkan kenaikan tertinggi dalam empat tahun terakhir. Kondisi ini memperbesar peluang pengetatan moneter di bawah kepemimpinan baru The Fed untuk menekan laju inflasi. Di sisi lain, pasar global juga tengah memantau hasil pertemuan strategis antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping terkait stabilitas hubungan dagang kedua negara.

Advertisements

Related Post :