Rupiah Melemah, Presiden Prabowo Santai Meski Risiko PHK Mengintai

  • Ipank Wima
  • May 18, 2026

Balihow – Respons santai Presiden Prabowo Subianto terkait tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menuai sorotan tajam. Pernyataan kontroversialnya yang menyebut bahwa “Orang desa tidak pakai dolar” memicu kritik dari berbagai kalangan pengamat ekonomi, yang justru mengkhawatirkan ancaman nyata berupa gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) serta peningkatan angka kemiskinan akibat depresiasi kurs yang terus berlanjut.

Advertisements

Isu pelemahan rupiah terhadap dolar AS hingga menyentuh level Rp 17.600 per dolar AS kini menjadi topik hangat di tengah masyarakat. Banyak pihak khawatir kondisi ini akan berdampak buruk bagi stabilitas ekonomi nasional secara menyeluruh.

Pengamat pasar modal, Hans Kwee, menyoroti risiko serius yang mengintai sektor industri jika kurs tidak segera dikendalikan. Menurutnya, potensi PHK massal menjadi ancaman nyata bagi pekerja di Indonesia.

“PHK dapat terjadi jika kurs dolar tidak terkendali dan memicu kerugian bagi perusahaan. Perlu diingat, 70 persen industri manufaktur kita masih sangat bergantung pada bahan baku impor. Selama ini, perusahaan mencoba bertahan dengan menekan margin keuntungan mereka agar harga produk tidak melambung. Namun, jika rupiah terus melemah dalam jangka waktu lama, perusahaan akan terpaksa menaikkan harga jual atau mengambil langkah efisiensi berupa PHK,” jelas Hans Kwee saat dihubungi JawaPos.com, Minggu (17/5).

Hans menekankan bahwa dampak ini akan dirasakan paling berat oleh masyarakat kelas menengah ke bawah. Ia memperingatkan bahwa goncangan ekonomi dapat dengan mudah mengubah kelompok masyarakat ini menjadi warga miskin baru.

Advertisements

“Sebagian besar penduduk kita berada di kelas menengah ke bawah. Ketika terjadi goncangan ekonomi, mereka sangat rentan jatuh ke dalam kemiskinan, terutama jika gelombang PHK massal benar-benar terjadi. Kehilangan pekerjaan secara langsung akan menurunkan taraf hidup mereka secara drastis,” tambahnya.

Di sisi lain, Presiden Prabowo Subianto menanggapi dinamika ekonomi ini dengan cukup tenang. Ia bahkan menyindir pihak-pihak yang dinilai terlalu pesimistis atau cepat menyimpulkan bahwa Indonesia akan segera mengalami krisis ekonomi hanya karena fluktuasi nilai tukar.

Dalam sambutannya saat peresmian Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Nganjuk, Sabtu (16/5), Prabowo menepis narasi kehancuran ekonomi yang menurutnya selalu berulang setiap kali terjadi gejolak kurs.

“Ada yang selalu—entah mengapa saya tidak mengerti—sebentar-sebentar menyebut Indonesia akan kolaps, akan chaos, dan sebagainya. Hanya karena rupiah atau dolar bergerak, narasi itu terus dimunculkan,” ujar Prabowo.

Ia menegaskan bahwa mayoritas masyarakat, khususnya mereka yang berada di pedesaan, tidak bertransaksi menggunakan dolar AS dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, Prabowo mengimbau masyarakat untuk tidak menanggapi pelemahan rupiah secara berlebihan hingga memicu kepanikan massal.

“Rakyat di desa tidak memakai dolar, kan?” tegasnya menutup perdebatan tersebut.

Baca juga: Prabowo soal Pelemahan Rupiah Tak Berdampak ke Orang Desa, Pengamat UGM: Statement Gegabah!

Ringkasan

Nilai tukar rupiah yang melemah hingga menyentuh level Rp 17.600 per dolar AS ditanggapi santai oleh Presiden Prabowo Subianto. Beliau menilai fluktuasi kurs tidak perlu disikapi secara berlebihan karena mayoritas masyarakat di pedesaan tidak bertransaksi menggunakan dolar. Presiden juga menepis narasi negatif yang menyebutkan bahwa ekonomi Indonesia akan segera mengalami keruntuhan akibat kondisi tersebut.

Di sisi lain, pengamat ekonomi memperingatkan ancaman nyata berupa gelombang PHK massal karena tingginya ketergantungan industri manufaktur pada bahan baku impor. Jika rupiah terus melemah, perusahaan terpaksa melakukan efisiensi atau menaikkan harga jual produk untuk menutupi biaya operasional. Kondisi ini sangat berisiko bagi masyarakat kelas menengah ke bawah yang rentan jatuh ke dalam garis kemiskinan.

Advertisements

Related Post :