Rupiah Menguat ke Rp17.326 per Dolar AS, Mata Uang Asia Kompak Naik

  • Ipank Wima
  • May 07, 2026

JAKARTA – Nilai tukar rupiah di pasar spot kembali menunjukkan tren positif pada perdagangan hari ini, Kamis (7/5/2026). Rupiah dibuka menguat di level Rp 17.326 per dolar AS.

Advertisements

Pencapaian ini mencatatkan apresiasi sebesar 0,35% dibandingkan dengan penutupan perdagangan hari sebelumnya yang berada di posisi Rp 17.387 per dolar AS. Penguatan rupiah ini bergerak searah dengan mayoritas mata uang di kawasan Asia yang juga sedang dalam tren hijau.

Hingga pukul 09.00 WIB, peso Filipina memimpin penguatan mata uang di Asia dengan kenaikan signifikan sebesar 0,96%. Kondisi ini diikuti oleh dolar Taiwan yang menguat 0,39% dan ringgit Malaysia yang mencatatkan kenaikan 0,37%.

Baca juga: Raharja Energi Cepu (RATU) Berencana Akuisisi Aset SMS Development, Segini Nilainya

Di sisi lain, mata uang kawasan Asia lainnya turut menunjukkan kinerja positif. Yuan China dan yen Jepang terpantau kompak menguat 0,11%. Menyusul di belakangnya, dolar Singapura terapresiasi 0,1% dan dolar Hong Kong mencatatkan penguatan tipis sebesar 0,04% terhadap dolar AS.

Advertisements

Sementara itu, tidak semua mata uang Asia berada di zona hijau. Baht Thailand tercatat sebagai mata uang dengan pelemahan terdalam setelah anjlok 0,13%. Won Korea Selatan pun turut melemah tipis sebesar 0,06% terhadap the greenback pada perdagangan pagi ini.

Ringkasan

Nilai tukar rupiah menguat sebesar 0,35 persen ke level Rp17.326 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Kamis pagi. Tren positif ini sejalan dengan pergerakan mayoritas mata uang di kawasan Asia yang juga mengalami apresiasi. Peso Filipina tercatat memimpin penguatan di Asia, diikuti oleh dolar Taiwan dan ringgit Malaysia.

Beberapa mata uang lain seperti yuan China, yen Jepang, dan dolar Singapura turut mencatatkan kenaikan tipis terhadap dolar AS. Di sisi lain, baht Thailand dan won Korea Selatan menjadi pengecualian karena mengalami pelemahan. Kondisi pasar pada pagi ini menunjukkan dominasi tren penguatan mata uang regional terhadap greenback.

Advertisements

Related Post :