Wacana Wajah Trump di Uang USD 250 dan Rupiah Tembus Rp17.893

  • Ipank Wima
  • May 30, 2026

Wacana pencetakan uang pecahan baru bergambar Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjadi topik hangat yang paling banyak dibaca di kumparanBISNIS sepanjang Jumat (29/5). Selain isu tersebut, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga terus menjadi sorotan utama bagi pembaca. Berikut adalah rangkuman lengkap mengenai perkembangan dua isu ekonomi tersebut.

Advertisements

Wacana Uang Pecahan USD 250 Bergambar Donald Trump

Rencana pencetakan uang kertas pecahan USD 250 yang menampilkan wajah Presiden Donald Trump tengah menjadi perbincangan publik. Jika kebijakan ini benar-benar terealisasi, Trump akan mencatatkan sejarah sebagai tokoh pertama yang masih hidup dalam kurun waktu sekitar 150 tahun terakhir yang fotonya dipajang pada mata uang Amerika Serikat.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengonfirmasi bahwa saat ini terdapat rancangan undang-undang di parlemen yang bertujuan untuk merevisi aturan pelarangan tersebut. Desain awal uang ini rencananya akan menyertakan tulisan “America 250 anniversary” sebagai bentuk perayaan 250 tahun kemerdekaan AS yang jatuh pada 4 Juli 1776.

Kendati demikian, inisiatif ini menuai kekhawatiran di internal biro percetakan uang pemerintah karena dianggap bertentangan dengan koridor hukum federal. Mantan Direktur Bureau of Engraving and Printing, Patricia Solimene, sempat menyampaikan hambatan hukum terkait hal ini sebelum ia akhirnya dipindahkan dari jabatannya.

Advertisements

Langkah ini disinyalir merupakan bagian dari tren kebijakan yang lebih luas, di mana pemerintahan Trump gencar memperkuat identitas presiden di berbagai institusi negara. Upaya ini terlihat dari berbagai langkah, mulai dari pencetakan koin emas peringatan 250 tahun kemerdekaan hingga penggunaan nama Trump pada berbagai institusi budaya dan pemerintahan.

Rupiah Tertekan, Menembus Level Rp 17.893 per Dolar AS

Di sisi lain, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih menunjukkan tren pelemahan yang signifikan. Berdasarkan data Bloomberg pada Jumat (29/5) sekitar pukul 13.00 WIB, posisi rupiah sempat menyentuh level Rp 17.893 per dolar AS. Meski sempat menguat tipis ke angka Rp 17.887 per dolar AS pada pukul 13.49 WIB atau naik sebesar 41,50 poin (0,23 persen), tekanan terhadap mata uang domestik ini tetap menjadi perhatian serius bagi sektor perekonomian nasional.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pelemahan ini sejatinya belum mengancam stabilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pihak pemerintah mengklaim telah mengantisipasi skenario pelemahan nilai tukar sejak awal, termasuk menyiapkan asumsi kurs dengan simulasi harga minyak dunia yang lebih tinggi, yakni USD 102 per barel. Fleksibilitas ini diharapkan mampu meredam volatilitas pasar yang terjadi saat ini.

Namun, kekhawatiran tetap datang dari sisi dunia usaha. Ketua Umum Apindo, Shinta Kamdani, menyoroti dampak nyata dari pelemahan rupiah yang hampir menyentuh level psikologis Rp 17.900 per dolar AS. Sektor industri yang sangat bergantung pada impor bahan baku kini harus menghadapi beban biaya produksi yang melonjak. Menurut Shinta, tren pelemahan rupiah yang terjadi secara bertahap sejak awal tahun—dari kisaran Rp 16.800 pada Januari menuju Rp 17.000 di akhir kuartal I hingga level saat ini—menunjukkan akumulasi tekanan yang semakin berat bagi keberlangsungan operasional bisnis.

Ringkasan

Wacana pencetakan uang pecahan USD 250 bergambar Presiden Donald Trump tengah menjadi perbincangan hangat, sekaligus berpotensi mencatatkan sejarah baru bagi Amerika Serikat. Rancangan undang-undang untuk merevisi aturan pelarangan wajah tokoh yang masih hidup pada mata uang sedang diproses, meski kebijakan ini menuai kekhawatiran terkait pelanggaran koridor hukum federal. Inisiatif tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintahan Trump untuk memperkuat identitas presiden di berbagai institusi negara.

Di sisi lain, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami pelemahan signifikan hingga menembus level Rp 17.893 per dolar AS. Meskipun pemerintah mengklaim stabilitas APBN tetap terjaga melalui skenario antisipasi, sektor industri yang bergantung pada impor bahan baku kini menghadapi tekanan biaya produksi yang semakin berat. Pelaku usaha menyoroti akumulasi dampak negatif dari tren pelemahan rupiah yang terus terjadi sejak awal tahun.

Advertisements

Related Post :